Malam keempat puluh tiba bersama hujan yang turun hanya di atas Karangwungu.
Lana terbangun karena tali di pergelangannya ditarik. Bukan tarikan halus orang yang menggeliat dalam tidur—tarikan kuat, mendadak, yang menyeret tangannya sampai ke tepi amben. Ia membuka mata pada kegelapan yang berbau anyir dan lumpur, dan untuk sesaat ia tak tahu di mana batas antara mimpi dan bangun.
Lalu ia mendengar mereka.
Suara langkah. Banyak. Berat dan basah, datang dari segala arah, mengelilingi joglo seperti malam saat warga datang menyembah—tapi kali ini tidak ada penyembahan. Kali ini ada dengung rendah dari belasan tenggorokan, kidung yang salah, kidung yang dibalik, dan di antaranya pintu-pintu joglo mulai berderak didorong dari luar.
"Bayu." Lana menarik tali. Ujung yang lain kencang, tegang, masih terikat. "Bayu, bangun, mereka datang—"
Pintu utama jebol.
Mereka tumpah masuk—warga kesurupan, wajah basah, mata penuh hitam, mulut menganga dengan lumut tumbuh di sela gigi. Bukan belasan kali ini. Puluhan. Seluruh desa, seolah enam sumur telah memuntahkan isinya sekaligus, dan semua isi itu hanya punya satu tujuan. Bukan Lana. Mereka mengalir melewati Lana seperti air melewati batu, tidak menyentuhnya, karena ia adalah wadah dan wadah tidak disakiti.
Mereka menuju Bayu.
"Lepaskan dia!" Lana menjerit, mencengkeram lengan Bayu yang setengah bangun, kebingungan, masih meraba linggis di lantai. Tangan-tangan basah merayap dari segala penjuru, mencengkeram kaki Bayu, lengannya, rambutnya, menyeretnya ke arah pintu belakang—ke arah kebun, ke arah bambu kuning, ke arah mulut sumur yang menggeram dalam hujan.
Bayu menendang, meronta, berteriak nama Lana. Lana menarik tali di pergelangan mereka dengan seluruh tenaga, menariknya kembali, dan untuk sesaat ia menahannya—dua tubuh tertarik ke arah berlawanan, tali tegang di antara mereka, hujan menderas lewat atap yang bocor.
"Jangan lepas!" teriak Bayu. Matanya bertemu mata Lana dalam kilat petir. Tidak ada hitam di sana. Masih Bayu. Masih sepenuhnya Bayu, sadar, ketakutan, manusia. "Lana, jangan lepas tanganku—"
Tali itu putus.
Bukan karena Lana melepaskannya. Tali itu putus sendiri, terburai di tengah seolah dipotong oleh tangan tak terlihat, dan Bayu terhempas ke belakang ke dalam kerumunan tangan basah yang langsung menelannya. Lana terjatuh ke depan, jatuh ke lantai, ujung tali yang putus masih melingkar di pergelangannya yang kini sendirian.
Ia bangkit. Ia mengejar. Ia menerjang kerumunan yang membelah memberinya jalan—memberi jalan pada wadah—dan berlari ke kebun belakang menembus hujan dan lumpur ke arah rumpun bambu kuning.
Bayu sudah di tepi Sumur Ketujuh.
Beton yang menutup mulut sumur telah retak, terbelah, dan dari celahnya air hitam meluap naik bersama uap anyir. Tangan-tangan basah—bukan lagi tangan warga, tapi tangan-tangan lain, lebih banyak, keluar dari dalam celah beton—memegangi Bayu, menariknya ke bibir yang terbuka.
"Bayu!" Lana menerjang maju, meraih tangannya. Jari mereka bersentuhan. Hampir. Ujung jari ke ujung jari.
"Lana." Suara Bayu, di tengah hujan dan dengung dan geraman tanah, tenang luar biasa untuk sesaat. Matanya menatapnya. "Jangan turun karena aku. Dengar? Apa pun yang dia bilang nanti, apa pun suara yang kamu dengar—jangan turun karena aku. Putus—"
Tangan-tangan itu menariknya ke bawah.
Bayu menghilang ke dalam celah beton yang terbuka, ditelan air hitam, dan suara terakhirnya—putuskan—terpotong oleh gemuruh air yang menutup di atasnya. Lana mencengkeram tepi beton yang tajam sampai telapaknya berdarah, menjerit ke dalam lubang, tapi yang menjawabnya hanya gemericik.
Lalu beton itu menutup kembali. Retakan merapat. Tanah berhenti bergetar. Hujan berhenti, mendadak, seperti keran ditutup. Dan di belakangnya, di kebun yang sunyi, puluhan warga yang tadi mengamuk kini berdiri diam, terhuyung, kebingungan, terbangun dari kerasukan tanpa ingat apa pun—mengusap mata, menatap hujan yang telah usai, menatap perempuan yang berlutut menangis di tepi rumpun bambu kuning.
Lana menempelkan telinganya ke beton yang dingin.
Dan ia mendengarnya. Di antara suara-suara yang selama ini memanggilnya dari bawah—suara ibunya, suara para tumbal generasi demi generasi—kini ada suara baru. Suara yang masih ia kenali. Suara Bayu, jauh dan bergaung, bergabung dengan koor yang sabar itu, memanggil namanya pelan dari balik beton dan air.
Lana, panggil suara itu. Lana.
Ia menatap tangannya yang berdarah dan berlumpur. Urat-urat hitam kini telah merambat naik dari siku ke bahu, jelas di bawah kulit, bercabang seperti sungai bawah tanah yang akhirnya mencapai jantung. Bau lumpur tak lagi bisa dibedakan dari bau kulitnya sendiri. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar dan melihat tanggal: empat puluh hari, tepat, sejak Mbah Surti dikubur.
Waktu habis. Utang jatuh tempo. Dan tak ada lagi tumbal yang diberikan.
Maka kutukan itu berbalik penuh, kembali ke mana ia seharusnya kembali—ke garis darah Eyang Kromo, ke perempuan terakhir di ujung silsilah, ke dirinya. Lana merasakannya seperti pintu yang mengunci dari dalam: ia kini penjaga, dan ia kini wadah, dan ia kini sendirian.
Di kejauhan, Kali Suwung mengalir hitam.
Di bawah kakinya, di balik beton yang telah merapat, suara Bayu memanggil dan memanggil dan tak akan pernah berhenti memanggil—bergabung dengan kelaparan yang sabar, yang sekarang hanya perlu menunggu hati perempuan ini cukup hancur untuk turun dengan sukarela.
Lana menutup matanya, dan untuk pertama kali sejak ia pulang ke Karangwungu, ia tidak menangis karena takut.
Ia menangis karena patah.