Tiga hari Lana tidak keluar dari senthong tengah.
Warga yang terbangun dari kerasukan malam itu tidak ada yang berani mendekat ke joglo. Mereka pulang ke rumah masing-masing, menutup jendela, menabur garam, dan berpura-pura tidak mengingat apa pun—karena mengingat berarti mengakui apa yang telah mereka, dengan tangan mereka sendiri, lakukan pada guru honorer yang mengajari anak-anak mereka membaca. Desa kembali sunyi yang terlalu rapi. Tapi sunyi itu kini punya bentuk baru: bentuk seorang pemuda yang tidak ada lagi.
Di dalam joglo, Lana duduk di lantai menghadap dinding tempat dulu ada kursi yang menghadap dinding, dan ia mengerti sekarang kenapa kursi itu ada. Penjaga sebelumnya duduk di sini, juga, menghadap kekosongan, mendengarkan suara-suara dari bawah. Ia mengerti karena ia mendengarnya juga, sepanjang waktu sekarang, tak peduli ke mana ia pergi di dalam rumah.
Suara Bayu yang paling jelas.
Lana, panggil suara itu, lembut, bukan menyiksa, hanya memanggil. Lana, kowe ana ing ngendi? Di sini dingin tapi tenang. Di sini tidak ada yang harus dilawan. Di sini kita bisa bersama.
Ia tahu itu bukan benar-benar Bayu. Bagian dari dirinya yang masih arsitek, masih rasional, masih perempuan kota yang dulu menertawakan takhayul, tahu bahwa entitas itu meminjam suara orang yang dicintai—itu tertulis jelas di catatan Mbah Surti, itu yang dilakukannya pada setiap penjaga sebelum Lana. Ia tahu.
Tapi mengetahui sesuatu palsu tidak membuatnya berhenti melukai. Suara itu adalah Bayu sampai ke nada terkecil—cara ia menyebut "kowe", cara ia menggantung di akhir kalimat, tawa kecil yang menyusup di antara kata. Dan setelah berhari-hari mendengarnya, Lana mulai mendapati dirinya menjawab.
"Aku kangen," bisiknya ke dinding, suatu malam, dan langsung membenci dirinya karena mengatakannya.
Di sini tidak ada kangen, jawab suara itu. Kangen cuma ada di tempat orang pergi. Di sini tidak ada yang pergi, Lana. Mlebua. Masuklah. Kowe ora bakal ditinggal maneh.
Kamu tidak akan ditinggalkan lagi.
Kalimat itulah yang paling tajam. Karena kalimat itu tahu persis luka Lana yang paling tua—lebih tua dari kutukan, lebih tua dari desa ini. Ibu yang pergi. Ayah yang tak pernah ada. Hubungan di kota yang kandas. Karier yang runtuh. Seluruh hidup Lana adalah rangkaian orang dan tempat yang melepaskannya, satu per satu, sampai ia belajar untuk tidak lagi memegang apa pun terlalu erat. Dan sekarang sesuatu di bawah tanah menjanjikan satu hal yang tak pernah ditawarkan dunia padanya: tempat di mana tak ada yang pergi.
Ia mendapati dirinya berjalan ke kebun belakang tengah malam, tanpa sadar memutuskan untuk pergi, berdiri di tepi rumpun bambu kuning, menatap beton yang merapat di mana Bayu menghilang. Hanya berdiri. Mendengarkan. Membiarkan suara itu membelai bagian dirinya yang paling lelah.
Akan jadi mudah, pikirnya. Aku tinggal turun. Aku bisa bersama Bayu. Bersama ibu. Tidak perlu melawan lagi. Tidak perlu takut pada wajahku sendiri di cermin. Tidak perlu sendirian.
Tangannya menyentuh beton. Dingin. Lembap. Dan di sentuhan itu suara-suara di bawah membludak, riang, mengundang, dan untuk satu detik yang panjang dan mengerikan Lana mencondongkan tubuhnya ke depan—
dan teringat kata terakhir Bayu.
Jangan turun karena aku. Apa pun suara yang kamu dengar—jangan turun karena aku.
Bayu yang sungguhan, di detik-detik terakhir saat matanya masih bening tanpa hitam, telah memperingatkannya tentang persis momen ini. Ia tahu. Bahkan saat ditarik ke bawah, ia tahu bahwa entitas akan memakai suaranya untuk membujuk Lana turun. Dan ia menggunakan napas terakhirnya bukan untuk meminta diselamatkan, tapi untuk memperingatkan.
Suara di bawah yang memakai wajah Bayu tidak akan pernah memperingatkannya. Suara itu hanya mengundang.
Itulah perbedaannya. Itulah satu retak di antara yang palsu dan yang nyata.
Lana menarik tangannya dari beton. Mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Suara di bawah berubah—undangan lembut itu meninggi sedikit, tergesa, kecewa, dan untuk sekejap kehilangan kesempurnaan tiruannya, terdengar seperti banyak suara berbicara bersamaan mencoba meniru satu.
"Kamu bukan Bayu," kata Lana ke beton, suaranya gemetar tapi tegak. "Bayu menyuruhku jangan. Kamu menyuruhku ayo. Bayu tidak akan pernah menyuruhku ayo."
Hening sejenak di bawah. Lalu gemericik, pelan, sabar, tak terganggu. Suara sesuatu yang sudah menunggu ratusan tahun dan tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama.
Lana kembali ke joglo dengan kaki gemetar. Ia tahu sekarang ia masih bisa menolak. Ia tahu juga bahwa penolakan ini tak akan bertahan selamanya—setiap malam undangan itu akan datang lagi, dengan suara Bayu, dengan suara ibunya, mengikis sedikit demi sedikit. Wadah yang matang tidak dipaksa. Ia dibujuk sampai memilih sendiri.
Maka ia harus menemukan jalan keluar—bukan jalan kaki dari desa, yang sudah terbukti mustahil—sebelum hatinya yang patah cukup hancur untuk berkata ya. Ia menyalakan pelita, mengeluarkan seluruh catatan Mbah Surti, dan mulai membaca dengan mata seseorang yang akhirnya berhenti berharap diselamatkan, dan mulai mencari cara menyelamatkan.
Di luar, embun turun. Membawa, seperti selalu, suara yang memanggil namanya dengan suara orang yang ia cintai.