Catatan tertua Mbah Surti tidak ditulis Mbah Surti.
Lana menemukannya di dasar peti kayu di senthong tengah, di bawah lapisan kain kafan dan kendi—sebuah buku yang jauh lebih tua dari semua catatan lain, halamannya rapuh, tintanya cokelat seperti darah kering, ditulis dalam aksara Jawa yang harus ia eja huruf demi huruf dengan bantuan buku terjemahan tua milik neneknya. Di halaman pertama ada nama yang membuat tangannya dingin: tulisan tangan Eyang Kromo Sentiko sendiri, lalu di bawahnya, tulisan yang lebih tua lagi, yang ia duga milik Ki Jagad.
Ia membaca tiga malam penuh.
Dan perlahan, lewat aksara yang memudar dan lewat suara Mbah Surti yang—entah halusinasi, entah arwah, entah pinjaman entitas—kadang membisikkan terjemahan di telinganya saat ia tersesat, kebenaran penuh tentang yang di bawah akhirnya terbentuk di benaknya.
Ia bukan setan. Bukan jin. Bukan apa pun yang punya nama di kitab atau dongeng.
Ia lebih tua dari itu. Ia adalah kelaparan—kelaparan murni, purba, yang sudah ada di mata air pegunungan Wungu sejak sebelum ada manusia yang menamainya. Ki Jagad menulis bahwa sebelum desa ada, sebelum sawah dan sumur dan joglo, hanya ada mata air gelap di celah batu, dan dari mata air itu sesuatu memperhatikan binatang-binatang yang datang minum, lalu memperhatikan manusia pertama yang datang minum, dengan kesabaran air yang tak mengenal waktu.
Ia tidak bisa keluar. Itu hukumnya, batasnya, penjaranya sejak awal: ia adalah air, dan ia hanya bisa berada di mana air berada. Ia menjangkau lewat kelembapan—embun, keringat, air mata, uap, sumur, hujan—tapi ia tidak bisa berjalan. Tidak bisa keluar dari lembah. Tidak bisa turun ke hilir mengikuti Kali Suwung ke desa-desa lain, ke kota, ke negeri yang luas penuh manusia yang tak pernah menaburkan garam di ambang pintu.
Tidak bisa—kecuali ia punya tubuh.
Itulah arti wadah, Lana akhirnya mengerti sepenuhnya. Bukan sekadar inang. Wadah adalah kaki. Wadah adalah cara kelaparan yang terkurung di air berjalan keluar dari air. Sekali entitas berpindah ke tubuh dari garis darah penjaga—garis yang telah "dikenalnya" selama tujuh generasi, yang darahnya telah berkali-kali masuk ke sumur lewat tumbal—ia tak lagi terikat pada kelembapan. Ia bisa berjalan di tanah kering. Ia bisa menyeberangi jembatan. Ia bisa turun mengikuti kali ke hilir.
Dan di hilir Kali Suwung ada desa demi desa, kota demi kota, jutaan manusia yang tak pernah dengar tentang Karangwungu, tak pernah tahu untuk takut pada air, tak pernah belajar menabur garam atau menyanyikan kidung. Ladang makan yang tak berujung.
Lana menutup buku itu dan duduk lama dalam gelap.
Selama ini ia memahami kutukan ini sebagai tragedi keluarganya. Dosa Eyang Kromo, utang yang diwariskan, ibunya yang ditenggelamkan, Bayu yang diambil. Sebuah lingkaran kecil penderitaan yang terkurung dalam satu lembah sempit di kaki gunung. Mengerikan, tapi kecil. Miliknya. Yang bisa ia pilih untuk tanggung atau tinggalkan.
Sekarang ia mengerti taruhannya bukan keluarganya. Bukan bahkan desa.
Kalau ia menyerah—kalau hatinya yang patah akhirnya berkata ya pada suara Bayu, kalau ia turun dan membiarkan kelaparan itu memakai tubuhnya—maka yang berjalan keluar dari Sumur Ketujuh bukan Lana. Yang berjalan keluar adalah sesuatu yang sudah lapar selama ribuan tahun, akhirnya bebas dari air, memakai wajah perempuan kota yang ramah, menyeberangi jembatan Kali Suwung yang selama ini menahannya, dan berjalan ke dunia.
Mbah Surti tahu ini. Itu sebabnya neneknya menyembunyikan ibu Lana di kota dulu. Itu sebabnya neneknya menanggung kutukan sendirian, menunda, bertahan, menjadi sipir penjara yang dingin dan dibenci selama puluhan tahun—bukan untuk menyelamatkan satu cucu, tapi untuk menahan satu pintu agar tidak terbuka ke seluruh negeri.
"Kamu tidak menelantarkanku," bisik Lana ke gelap, dan untuk pertama kali ia merasa dekat dengan perempuan tua yang tak pernah benar-benar ia kenal. "Kamu menjaga pintu. Sepanjang hidupmu, kamu cuma menjaga pintu."
Dari kejauhan, dari bawah beton, ia mendengar gemericik. Lalu suara Bayu, pelan, mengiba. Mlebua, Lana. Aku kesepian.
Tapi sekarang kalimat itu kehilangan sebagian kekuatannya. Karena sekarang Lana tahu apa yang ada di balik undangan manis itu: bukan tempat di mana tak ada yang pergi, tapi mulut kelaparan yang ingin memakai kakinya untuk pergi ke mana-mana, memakan semua orang, di mana-mana.
Ia tidak bisa menyerah. Bukan demi dirinya—dirinya sudah hampir terlalu lelah untuk diselamatkan. Tapi demi orang-orang di hilir yang tak pernah ia temui, yang tak tahu mereka sedang dilindungi oleh seorang perempuan asing di lembah berkabut yang bahkan tak ada di peta.
Pertanyaannya, yang membuatnya tak tidur sampai subuh, hanya satu: kalau ia tak boleh menyerah, dan tak bisa kabur, dan tak mau melanjutkan tumbal—apa yang tersisa untuk dipilih?
Ia sudah tahu jawabannya. Mbah Jum sudah mengatakannya sebelum mengering jadi ranting. Ia hanya belum berani mengucapkannya pada dirinya sendiri.