Mbah Jum kembali pada Lana dalam mimpi—atau dalam sesuatu yang bukan mimpi.
Lana tidak yakin. Ia duduk membaca, lalu sadar Mbah Jum ada di seberang pelita, kering dan ringkih seperti malam ia mati, tapi matanya hidup dan tenang. Lana tidak takut. Setelah semua yang ia alami, kehadiran seorang dukun yang sudah mati terasa hampir melegakan—setidaknya ini wajah yang ia percaya.
"Kamu sudah baca bukunya," kata Mbah Jum. Bukan pertanyaan.
"Aku sudah baca." Lana menutup catatan tua di pangkuannya. "Aku tahu dia mau apa sekarang. Aku tahu kenapa Mbah Surti menahannya. Tapi aku tidak tahu caranya. Mbah, sebelum mati Mbah bilang aku bisa memutusnya dengan turun sendiri. Tapi turun sendiri kan sama saja dengan menyerah jadi wadah. Sama-sama aku turun ke air. Apa bedanya?"
Mbah Jum mengangkat satu jari kurus. "Beda semua, Nduk. Beda seperti beda antara membuka pintu dan menjadi pintu."
Ia menjelaskan, pelan, dan Lana mendengarkan dengan dingin merayap di tulang punggungnya.
Ada dua jalan, kata Mbah Jum, dan hanya dua, karena jalan ketiga—kabur, melawan dengan senjata, memanggil bantuan dari luar—semua sudah dibuktikan mustahil oleh tujuh generasi sebelumnya.
Jalan pertama: melanjutkan siklus. Berikan satu tumbal lagi, seperti yang diinginkan Darmojo. Dengan tumbal, entitas kenyang, tertidur empat puluh tahun. Lana selamat. Lana jadi penjaga, dihormati, ditakuti, menjaga rajah dan kidung dan kunci segel sampai tua. Tapi—dan Mbah Jum menekankan ini dengan suara yang nyaris tak terdengar—karena Lana adalah wadah, bukan sekadar penjaga, setiap ritual tumbal yang ia pimpin akan mengikis kemanusiaannya. Tangannya akan berlumur darah orang demi orang per generasi. Urat hitamnya akan menyebar. Pantulannya akan makin sering tersenyum saat ia tidak. Sedikit demi sedikit, ritual demi ritual, ia akan berhenti menjadi Lana dan menjadi sesuatu yang lain—monster yang berjalan dengan wajah manusia, wadah yang matang sempurna, sampai suatu hari yang di bawah tinggal melangkah masuk ke tubuh yang sudah dikosongkan dari dalam.
"Itu bukan keselamatan," kata Lana pelan. "Itu cuma kematian yang pelan. Dan di ujungnya dia tetap dapat tubuhku."
"Pinter." Mbah Jum mengangguk. "Darmojo menjual itu sebagai keselamatan desa. Tapi yang dia selamatkan cuma panennya, untuk satu generasi lagi. Sesudah itu desa tetap mati, cuma giliran cucunya yang bayar."
"Lalu jalan kedua." Lana menelan ludah. "Turun sendiri. Jadi segel hidup. Itu artinya apa, persisnya? Aku ingin tahu persisnya, Mbah. Jangan lagi setengah-setengah."
Mbah Jum diam lama. Pelita berkedip.
"Segel beton di atas sumur itu," akhirnya ia berkata, "menahan dia dengan garam, besi, dan kafan berajah. Tapi benda mati melemah. Garam larut. Besi berkarat hancur. Kafan lapuk. Itu sebabnya tiap generasi butuh tumbal—tumbal itu bukan cuma makanan, itu juga memperbarui segel dengan nyawa. Darah baru, di atas penjara lama."
"Dan?"
"Dan satu-satunya segel yang tidak melemah," suara Mbah Jum turun jadi bisikan, "adalah segel yang hidup. Seorang penjaga yang turun sendiri, dengan sukarela, membawa nama sejatinya—bukan dipaksa, bukan ditipu, tapi memilih—dan menyanyikan kidung utuh sambil mengikat dirinya ke dasar. Penjaga itu menjadi kunci. Bukan makanan. Bukan wadah. Kunci. Jiwanya tidak dimakan; jiwanya menahan. Selamanya."
"Selamanya," ulang Lana. Kata itu terasa seperti batu di mulutnya.
"Selamanya, Nduk." Mata Mbah Jum, walau kering, menatapnya dengan sesuatu yang menyerupai belas kasihan dan menyerupai hormat. "Kamu tidak mati seperti mati biasa. Kamu juga tidak hidup. Kamu menjadi air, menjadi segel, menjadi suara yang menahan kelaparan itu tidur untuk selamanya. Tidak ada lagi tumbal. Tidak ada lagi penjaga sesudahmu. Garis darahmu bebas. Desa bebas. Hilir bebas. Tapi kamu—" ia tidak menyelesaikannya.
"Tapi aku tinggal di bawah air. Bersama suara-suara itu. Bersama dia. Selamanya."
Mbah Jum mengangguk satu kali.
Lana menatap tangannya. Urat hitam itu kini sampai ke pergelangan tangan kirinya, jelas, bercabang. Ia memikirkan ibunya di bawah sana. Bayu di bawah sana. Eyang Kromo, mungkin, dan semua penjaga sebelumnya. Ia memikirkan apa artinya memilih untuk turun, sadar, dengan kehendak sendiri, ke tempat di mana semua yang ia cintai dan semua yang menghancurkan keluarganya menunggu—dan tinggal di sana, mengikat dirinya, sebagai dinding hidup antara kelaparan dan dunia.
"Salah satu pilihan menuntut aku melepas kemanusiaanku," katanya pelan. "Yang lain menuntut nyawaku. Tidak ada pilihan yang membiarkan aku hidup sebagai Lana."
"Tidak ada, Nduk." Suara Mbah Jum mulai memudar, seperti asap pelita yang menipis. "Itu sebabnya namanya kutukan. Surti tahu ini. Dia memilih menahan selama mungkin supaya kamu, paling tidak, punya beberapa tahun di kota sebagai dirimu sendiri sebelum harus memilih. Itu hadiahnya untukmu. Beberapa tahun menjadi manusia biasa."
Sosok itu hampir hilang sekarang. Lana mencondongkan tubuh. "Mbah. Kalau aku pilih turun. Apa aku bisa... apa Bayu—"
Tapi Mbah Jum sudah tidak ada.
Pelita berkedip sekali, lalu menyala tenang. Lana sendirian di senthong tengah, dengan dua jalan terbentang di depannya, dan keduanya berakhir di bawah air. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk, sangat lama, sampai subuh menyaring cahaya kelabu lewat celah dinding, dan mulai—untuk pertama kalinya—benar-benar memikirkan bagaimana caranya turun.