Lurah Darmojo datang sendiri ke joglo pada hari ketujuh setelah Bayu diambil.
Tidak ada rombongan tetua kali ini, tidak ada Sulastri, tidak ada warga. Hanya lelaki tua berwibawa itu, berjalan tenang menembus kabut pagi dengan tongkat kayunya, mengenakan beskap rapi seolah hendak ke kondangan, bukan ke rumah perempuan yang baru kehilangan segalanya. Ia duduk di teras tanpa diundang dan menunggu Lana keluar.
Lana keluar karena ia ingin keluar. Ia tidak lagi takut pada Darmojo. Setelah membaca buku tertua, setelah berbicara dengan Mbah Jum yang mati, manusia seperti Darmojo terasa kecil.
"Kamu sudah tahu banyak, Nduk," kata Darmojo, menatapnya dengan mata yang lembut dan tajam sekaligus. "Aku lihat dari caramu memandangku. Kamu tidak lagi memandangku seperti memandang lurah desa."
"Aku memandangmu seperti memandang orang yang membiarkan Bayu mati," kata Lana datar. "Seperti memandang orang yang menawarkan gelandangan sebagai tumbal seolah memilih ayam. Apa lagi yang harus kupandang darimu, Pak Lurah?"
Darmojo tersenyum tipis, sama sekali tidak tersinggung. Ia memutar tongkatnya pelan di antara kedua tangan.
"Kamu pikir aku ini cuma kepala desa yang takut, ya? Yang melanjutkan ritual karena percaya takhayul dan ingin panen bagus?" Ia menggeleng pelan. "Tidak, Nduk. Aku lebih dari itu. Aku selalu lebih dari itu. Sudah waktunya kamu tahu, karena kamu sudah di ujung. Penjaga harus tahu siapa lawannya, supaya pilihannya benar."
Ia mencondongkan tubuh.
"Keluargamu," katanya, "memulai semua ini lewat Eyang Kromo. Tapi Eyang Kromo cuma petani putus asa. Dia tidak tahu apa-apa soal yang di bawah sampai ada yang mengajarinya. Yang membuka jalan. Yang menggali Sumur Ketujuh tepat di mata air, yang mengajarkan ritus pertama, yang mengajari cara memberi makan dan cara menunda." Darmojo menatapnya lurus. "Ki Jagad. Dukun pengelana itu. Kamu pikir dia datang lalu menghilang, ya? Begitu yang ditulis di catatanmu?"
Lana tidak menjawab. Dinginnya mulai merayap.
"Ki Jagad tidak pernah pergi, Nduk." Suara Darmojo turun, hampir bangga. "Dia menanam keturunannya di desa ini, sama seperti Eyang Kromo menanam keturunannya. Dua garis. Garismu—garis penjaga, yang menahan dan membayar. Dan garisku—garis dukun, yang memastikan perjanjian terus berjalan. Penjaga dan pengatur. Sudah tujuh generasi kami berdua menjaga ini tetap berputar. Keluargamu menjaga pintu. Keluargaku menjaga supaya pintu itu tidak pernah benar-benar ditutup."
"Kamu keturunan Ki Jagad." Kalimat itu jatuh dari mulut Lana seperti batu.
"Aku keturunan Ki Jagad." Darmojo mengangguk, dan dalam pengakuan itu tidak ada rasa malu, hanya semacam kebanggaan tua dan dingin. "Dan aku tidak menjaga desa ini karena takut, Nduk. Aku menjaganya karena ini warisanku, sama seperti joglo ini warisanmu. Selama ada perjanjian, Karangwungu makmur. Panennya selalu cukup. Tidak ada wabah. Tidak ada kemarau yang membunuh. Lihat desa-desa di hilir yang gagal panen, yang anaknya kurang gizi, yang sumurnya kering tiap kemarau—itu yang akan terjadi pada Karangwungu kalau perjanjian putus. Aku menyelamatkan desa ini dari nasib itu. Tiap generasi. Dengan satu nyawa."
"Satu nyawa." Lana berdiri, gemetar bukan karena takut tapi karena marah. "Kamu menyebut ibuku 'satu nyawa'?"
Untuk pertama kali, sesuatu bergerak di wajah Darmojo. Bukan penyesalan. Sesuatu yang lebih buruk: perhitungan.
"Ibumu," katanya pelan, "seharusnya tidak lari ke kota. Itu mengacaukan jadwal. Mbah Surti menyembunyikannya, dan utang generasi itu hampir lewat tempo—desa hampir kena balik. Aku yang memutuskan dia harus ditarik pulang. Aku yang memastikan dia tidak lolos kedua kalinya." Ia menatap Lana tanpa berkedip. "Ya, Nduk. Aku tahu persis bagaimana ibumu masuk ke sumur itu. Aku mengaturnya. Karena kalau tidak, kamu yang dulu jadi tumbal, sewaktu kamu masih kecil. Aku menyelamatkanmu, dengan cara mengorbankan dia. Mbah Surti membencimu memahami ini—tapi dia dan aku, di soal itu, sebenarnya satu pihak. Kami berdua membiarkan ibumu mati supaya kamu hidup sampai dewasa."
Lana berdiri kaku di tengah teras. Pagi yang dingin, kabut yang merayap, dan kebenaran yang lebih busuk dari apa pun yang ia bayangkan: bahwa kematian ibunya bukan kebetulan tragis, bukan takdir buta, tapi keputusan—diambil dengan tenang, oleh lelaki tua yang sekarang duduk di terasnya minum teh yang tidak ia tawarkan.
"Kenapa kamu mengatakan ini padaku," tanyanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Kenapa sekarang."
Darmojo bangkit, bersandar pada tongkatnya. "Karena empat puluh hari sudah lewat dan kamu belum membayar. Kutukan sudah berbalik ke kamu—aku bisa lihat itu, urat di tanganmu, mata desa yang mulai tidak beres lagi. Kamu di ujung pilihan, Nduk. Dan aku ingin kamu memilih dengan kepala dingin, bukan dengan dendam." Ia menatapnya, hampir lembut, seperti seorang ayah pada anak yang keras kepala. "Lanjutkan perjanjian. Jadi penjaga seperti nenekmu. Beri satu tumbal—aku sudah siapkan, kamu tinggal mengizinkan. Desa kembali tenang. Kamu hidup. Dan dalam empat puluh tahun, ini jadi masalah cucumu, bukan kamu."
"Dan kalau aku menolak?"
Darmojo berjalan turun dari teras, ke dalam kabut. Di tepi halaman ia berhenti dan menoleh, dan untuk pertama kali Lana melihat sesuatu yang menyerupai ketakutan di balik wibawanya yang dingin.
"Kalau kamu menolak," katanya, "maka kamu, dia di bawah, dan seluruh desa akan tahu apa yang terjadi ketika perjanjian yang dijaga tujuh generasi akhirnya dibiarkan pecah. Dan percayalah, Nduk—aku sudah seumur hidup menjaga supaya kita tidak pernah tahu jawaban itu."
Ia berbalik dan menghilang ke dalam kabut, meninggalkan Lana sendirian dengan nama baru untuk kebenciannya, dan satu kepastian yang mengeras di dalam dadanya: lelaki itu, dan garis darahnya, harus jatuh sebelum ini berakhir.