Malam itu Lana bermimpi menjadi Eyang Kromo.
Bukan melihatnya dari luar seperti mimpi-mimpi sebelumnya. Kali ini ia di dalam tubuh lelaki tua itu, merasakan tulang yang renta, dada yang sesak, dan penyesalan yang begitu pekat sampai terasa seperti air dalam paru-paru. Ia tahu ini bukan sekadar mimpi—ini ingatan yang disimpan air, ditunjukkan padanya entah oleh Mbah Surti, entah oleh yang di bawah, entah oleh sumur itu sendiri yang menyimpan segala memori seperti menyimpan air.
Tahun, ia tahu entah bagaimana, adalah penghujung hidup Eyang Kromo. Hampir empat dekade sejak ia menukar wabah dengan perjanjian. Desa makmur. Keluarganya dihormati. Tapi lelaki tua di dalam tubuh yang Lana huni itu tidak bisa lagi menatap air tanpa melihat wajah istrinya.
Karena istrinyalah tumbal pertama.
Lana merasakan ingatan itu seperti luka lamanya sendiri: bagaimana puluhan tahun lalu, saat anaknya sekarat dan desa sekarat, Ki Jagad berkata syaratnya adalah yang paling dicintai. Bagaimana Eyang Kromo menipu istrinya sendiri turun ke sumur yang baru digali dengan alasan mengambil air berkah untuk menyembuhkan anak mereka. Bagaimana perempuan itu, sebelum air hitam menelannya, menatap suaminya dengan mata yang akhirnya mengerti, dan mengucapkan kutukan yang akan menggema lewat tujuh generasi: tiap dari kalian akan mencintai sebelum membunuh.
Sekarang, di penghujung hidupnya, Eyang Kromo ingin menebusnya.
Lana merasakan tekadnya seperti tekad sendiri. Lelaki tua itu telah mempelajari sumur lebih dari siapa pun. Ia tahu—atau mengira ia tahu—bahwa siklus bisa diputus kalau seseorang turun sendiri membawa nama sejatinya, mengikat diri jadi kunci. Ia tidak ingin mewariskan utang ini pada anak-anaknya. Ia akan turun sendiri. Ia akan menjadi segel. Ia akan mengakhiri apa yang ia mulai.
Lana merasakan dirinya—merasakan Eyang Kromo—berjalan ke Sumur Ketujuh di malam tanpa bulan, membawa obor dari kayu joglo yang baru dibangunnya, menyanyikan kidung yang baru setengah ia kuasai. Ia turun ke dalam air dingin, gemetar tapi mantap, dengan hati seorang lelaki yang akhirnya ingin membayar dosanya sendiri alih-alih mewariskannya.
Tapi ia gagal.
Lana merasakan kegagalan itu dari dalam, dan itu hal paling mengerikan dari seluruh mimpi. Eyang Kromo tidak punya kidung utuh—hanya separuh. Ia tidak punya darah penjaga sejati yang sudah ditandai—ia sumber kutukan, bukan penjaganya. Ia turun dengan keberanian tapi tanpa syarat yang benar. Dan yang di bawah, kelaparan yang sabar itu, tidak tertahan oleh pengorbanan setengah jadi. Ia hanya menerimanya.
Eyang Kromo tidak menjadi kunci. Ia menjadi tambahan. Satu jiwa lagi di dalam penjara. Satu suara lagi dalam koor di dasar.
Lana merasakan air naik menutup kepala lelaki tua itu, merasakan kesadarannya larut tapi tidak hilang, merasakan dirinya—Eyang Kromo—menjadi lapisan pertama di dasar segel: bukan pembebas, tapi bata pertama dalam dinding tahanan yang akan terus ditambah, satu penjaga gagal demi satu penjaga gagal, sepanjang generasi.
Lana terbangun dengan napas tercekat dan wajah basah oleh air mata yang tak ia rasakan tumpah.
Ia duduk di amben dalam gelap, jantung berdebar, dan perlahan-lahan ia memahami pesan dari mimpi itu—siapa pun yang mengirimkannya. Eyang Kromo mencoba menjadi segel hidup dan gagal, dan kegagalannya bukan menebus apa pun; kegagalannya hanya memperkuat penjara dengan menambah satu suara yang memanggil. Itulah yang terjadi pada setiap penjaga yang turun tanpa syarat yang benar. Mereka tidak menutup pintu. Mereka menjadi engsel pintu itu.
Maka kalau Lana turun—kalau ia memilih jalan kedua—ia tidak boleh gagal seperti Eyang Kromo. Gagal lebih buruk daripada tidak mencoba. Gagal berarti ia hanya menambahkan suaranya ke koor itu, memperkuat kelaparan, dan menyerahkan tubuhnya tanpa menutup apa pun. Bayu di bawah sana. Ibunya di bawah sana. Eyang Kromo, bata pertama, di bawah sana. Semua yang turun tanpa syarat lengkap.
Untuk menjadi segel hidup yang sejati—yang menutup, bukan sekadar menambah—Lana butuh tiga hal yang Eyang Kromo tak punya. Kidung yang utuh, yang sudah ia satukan dari makam Mbah Surti dan dari Mbah Jum. Darah penjaga yang sudah ditandai sejati, yang mengalir di uratnya yang kini menghitam. Dan namanya sendiri—nama sejatinya—dibawa turun dengan kehendak penuh, bukan ditipu, bukan dipaksa, bukan dibujuk oleh suara orang yang dicintai.
Ia memandang ke arah kebun belakang, ke arah beton yang menyimpan kelaparan dan semua yang ia cintai. Suara-suara memanggil, seperti selalu. Bayu. Ibu. Dan sekarang ia mendengar, samar di antara mereka, suara yang lebih tua, lebih lelah, seorang lelaki yang gagal menebus dirinya dan telah memanggil dari dasar selama hampir dua ratus tahun.
Lana, panggil mereka semua. Lana.
"Tunggu aku," bisiknya ke gelap, bukan menyerah, tapi berjanji. "Tapi aku tidak akan turun seperti Eyang Kromo. Aku tidak akan turun untuk menambah suara kalian. Aku turun untuk menutup mulut yang menelan kalian—kalau aku turun. Dan kalau aku turun, aku akan turun dengan lengkap."
Di luar, fajar pertama menyaring cahaya kelabu ke dalam joglo. Di bawah tanah, kelaparan yang sabar mendengar janji itu, dan untuk pertama kali sejak Lana pulang ke Karangwungu, gemericiknya berhenti sejenak—
seperti sesuatu yang, untuk pertama kalinya dalam tujuh generasi, mulai khawatir.