Malam itu Lana berjalan ke halaman belakang tanpa mantel, tanpa senter, hanya dengan lilin yang nyalanya bergoyang seolah ikut takut. Tanah di sekitar Sumur Ketujuh sudah berubah sejak Bayu diambil. Rumpun bambu kuning yang dulu rapat kini menguning lebih pucat, daunnya gugur seperti rambut orang sakit. Beton penutup sumur, yang sepanjang ingatannya selalu kering berdebu, kini berkeringat. Embun gelap merembes dari pori-porinya, menggenang tipis di permukaan, lalu menetes ke bawah kembali ke dalam sumur seolah air itu menolak meninggalkan rumahnya.
Ia berlutut di tepi beton. Empat puluh hari sudah habis. Sejak itu, tubuhnya tak lagi sepenuhnya miliknya — urat di lengannya menghitam seperti aliran sungai bawah tanah, dan telapaknya berbau lumpur yang tak bisa dicuci. Mbah Jum sudah mati. Bayu sudah di bawah. Tetua memandanginya seperti memandang ternak yang siap dipotong. Yang tersisa hanya ia, sumur, dan kabut.
"Aku tahu kalian di situ," bisiknya.
Untuk beberapa saat tak ada apa-apa. Hanya gemericik samar, seperti air menetes di gua yang dalam. Lalu, perlahan, gemericik itu menjadi suara. Bukan satu suara. Banyak. Berlapis-lapis, naik dari dasar yang tak berdasar, menggema lewat retakan beton seperti koor di dalam sumur yang sangat panjang.
Mula-mula ia tak bisa membedakan kata. Hanya nada — rintihan rendah, datar, tanpa akhir, seperti senandung orang yang sudah lupa kenapa ia menyanyi. Tapi makin lama makin ia kenali. Ada suara perempuan tua, parau, bicara dalam bahasa kuno yang sama dengan yang digumamkan warga kesurupan. Ada suara anak kecil yang menangis pelan, lalu berhenti, lalu mulai lagi dari awal seperti rekaman yang macet. Ada suara laki-laki yang batuk-batuk lalu memanggil nama yang bukan namanya.
Lana memejamkan mata. Mbah Jum pernah memperingatkannya: jangan dengarkan terlalu lama, sebab air menyimpan, bukan sekadar menampung. Tiap orang yang pernah jatuh ke dalam — tiap tumbal, tiap penjaga yang gagal, sejak zaman Eyang Kromo — masih ada di sana, tak mati, tak hidup, larut tapi belum hilang. Suara mereka adalah suara penjara yang penuh.
Lalu ia mendengarnya.
"Nduk."
Suara itu menusuk lebih dalam dari semua suara lain. Suara perempuan, lembut, dengan logat desa yang sudah lama tak ia dengar dari mulut siapa pun. Suara yang ia kira sudah ia lupakan, tapi ternyata hanya ia simpan terlalu dalam untuk diakui.
"Ibu?" katanya, dan suaranya pecah di kata itu.
"Nduk, jangan."
Air mata jatuh sebelum ia sempat menahannya, dan ia tahu itu bahaya — air mata adalah jalan, kata Mbah Jum, entitas masuk lewat air apa saja. Tapi ia tak bisa berhenti. Suara ibunya naik dan turun, kadang jelas kadang tenggelam di antara koor yang lain, seolah ada arus yang menariknya menjauh tiap kali ia hampir mengucapkan kalimat utuh.
"Jangan turun. Jangan ikut. Di sini... di sini tidak ada apa-apa untukmu—"
Lalu suara lain menimpa. Lebih muda. Lebih ia kenal dari belakangan ini.
"Lana."
Bayu.
Ia menahan napas. Suaranya tenang, seperti malam-malam mereka duduk di beranda sekolah membahas daftar nama orang hilang. Tapi ada yang salah dengan nada itu. Terlalu tenang. Bayu yang ia kenal selalu menyelipkan tawa kecil di ujung kalimat, sekecil apa pun. Suara ini rata, seperti dinding.
"Lana, turunlah. Di sini tak ada yang pergi. Kita semua di sini. Ibumu di sini. Aku di sini. Tak ada yang ditinggalkan."
"Berhenti," bisik Lana. Lalu lebih keras, "Berhenti."
Tapi koor itu tak berhenti. Justru sebaliknya — kata-katanya mulai bertabrakan, saling menimpa, sampai ia tak bisa lagi memilah mana ibunya, mana Bayu, mana suara-suara asing yang sudah ratusan tahun di bawah. Satu memohon ia jangan turun. Satu memintanya turun. Satu memanggil namanya seperti memanggil pulang. Satu menangis. Dan ia, yang berlutut di atas beton dingin dengan lilin yang hampir padam, tak bisa membedakan mana yang mencintainya dan mana yang sekadar lapar.
"Kalian mau aku ikut, atau kalian mau aku lari?" tanyanya, hampir tertawa karena ngeri. "Kalian sendiri tak tahu, ya? Atau kalian semua adalah dia — semuanya — dan tak ada satu pun dari kalian yang masih kalian?"
Koor itu diam sejenak. Hening yang lebih buruk dari suara.
Lalu, dari paling dalam, paling bawah, ada satu suara yang tak ikut bicara sebelumnya. Suara perempuan tua, sangat tua, dengan ketegasan yang membuat Lana tegak meski seluruh tubuhnya gemetar.
"Dengar baik-baik, Nduk." Suara itu seperti Mbah Surti, tapi Lana tak akan pernah yakin. "Mereka yang memintamu turun — itu dia. Mereka yang memohonmu jangan — itu kami. Tapi kau tak akan bisa membedakannya dengan telinga. Hanya dengan hati. Dan hatimu sudah retak, Nduk. Itu yang dia tunggu."
Lilin padam.
Dalam gelap, suara-suara itu terus mengalir, naik dari dasar seperti air yang tak pernah penuh. Lana tetap berlutut, tak berani bergerak, sementara di telapak tangannya bau lumpur sumur menebal — dan jauh di bawah, di tempat yang tak punya dasar, sesuatu yang sabar mendengarkan ia menangis, dan menghitung air matanya satu per satu seperti menghitung hari sampai panen.