Lana tahu sesuatu berubah ketika ia bangun pagi dan mendengar lonceng kentungan di balai dibunyikan bertalu-talu — bukan irama biasa, bukan tanda kumpul, melainkan tabuhan panik yang patah-patah seperti tangan yang membunyikannya juga tak yakin kenapa.
Ia berlari ke arah Sumur Tengah, tempat warga berkerumun. Mereka berdiri membentuk setengah lingkaran, menjauh dari bibir sumur, tangan menutup mulut, ada yang menangis tanpa suara. Tak ada yang berani mendekat. Saat Lana mendekat, kerumunan membelah untuk memberinya jalan — bukan karena hormat, ia tahu sekarang, tapi karena takut. Mereka selalu membelah untuk wadah.
Di bibir Sumur Tengah, tergeletak setengah keluar dari lubang seperti dimuntahkan, adalah Sulastri.
Atau yang dulu Sulastri.
Tubuhnya kering. Bukan kering seperti orang mati biasa — kering total, seperti buah yang ditinggalkan di terik bertahun-tahun, kulitnya menempel ke tulang, bibirnya tersibak memperlihatkan gigi yang menghitam. Matanya terbuka dan cekung, dan di rongga mata itu tak ada air sama sekali. Seluruh cairan tubuhnya telah disedot habis. Persis seperti Karjo dulu di dasar Sumur Kulon. Tapi Karjo ditemukan di dasar. Sulastri ada di permukaan, terdorong ke atas, dipajang.
"Dia menceburkan diri tadi malam," kata seorang perempuan tua, suaranya bergetar. "Aku lihat dari jendela. Dia... dia bicara ke sumur. Bilang dia lebih pantas. Bilang dia rela. Bilang ambil aku, ambil aku, jadikan aku wadahmu."
Lana menelan ludah. Ia tahu Sulastri selama ini ingin jadi penjaga, ingin jadi yang terpilih, iri pada darah yang mengalir di tubuh Lana dan bukan di tubuhnya. Dalam keputusasaannya — setelah ritual tetua gagal, setelah ia setengah kesurupan dengan separuh wajah selalu basah — Sulastri rupanya membuat tawaran terakhir. Ia menyerahkan dirinya, bukan sebagai makanan, tapi sebagai inang. Sebagai pengganti Lana. Ambil aku, bukan dia. Jadikan aku jalanmu keluar.
Dan entitas menjawab.
Tapi jawabannya bukan yang Sulastri inginkan.
"Dia tidak diterima sebagai wadah," kata Lana pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia dimakan. Seperti tumbal biasa. Seperti makanan."
Seorang laki-laki muda — salah satu murid Bayu, Lana mengenalinya — berdiri di sampingnya, wajahnya pucat. "Apa bedanya, Mbak? Mati ya mati."
"Bedanya," kata Lana, dan suaranya dingin karena ia baru benar-benar memahaminya saat itu juga, "dia mengira dia bisa menggantikan aku. Dia mengira dia bisa menawar. Tapi dia bukan garis Eyang Kromo. Dia kerabat jauh, darahnya encer. Yang di bawah tidak butuh darah sembarangan untuk wadah. Dia hanya menerima satu garis. Garisku."
Ia memandangi mayat kering itu, dan untuk pertama kalinya sejak lama ia merasa bukan takut, melainkan sesuatu yang lebih dingin — pengertian. Sulastri telah menjelma menjadi pesan. Entitas mengeringkannya, menyedot habis, lalu memuntahkannya ke permukaan sumur warga, di tengah desa, di tempat semua orang bisa melihat, supaya tak ada keraguan lagi tentang aturan: aku tidak menerima pengganti. Aku tidak menerima sukarelawan. Aku hanya menerima Lana. Bawakan dia, atau aku akan ambil kalian semua satu per satu seperti ini.
"Kenapa di sumur warga?" tanya perempuan tua tadi, hampir histeris. "Kenapa Tengah? Itu sumur kita, sumur minum kita—"
"Karena dia ingin kalian mengerti," kata Lana, "bahwa enam sumur kalian bukan lagi milik kalian. Dia bisa naik ke mana saja sekarang. Beton di belakang rumahku bukan lagi satu-satunya pintu." Ia menatap wajah-wajah warga, satu per satu. "Tutup semua sumur. Jangan minum dari mana pun. Tampung air hujan kalau harus. Tapi jangan timba lagi dari enam sumur itu — semuanya."
Lurah Darmojo datang terlambat, membelah kerumunan dengan wibawa yang sudah mulai retak. Ia memandang mayat Sulastri, dan untuk sekejap Lana melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat di wajah orang tua itu: ketakutan murni. Bukan ketakutan pemimpin yang kehilangan kendali atas warganya. Ketakutan orang yang baru sadar bahwa hal yang sepanjang hidup ia layani tak pernah benar-benar ia kuasai.
"Ini kesalahan dia sendiri," kata Darmojo, suaranya berusaha tegas. "Sulastri nekat. Tidak ada sangkut pautnya dengan—"
"Tidak ada sangkut pautnya?" Lana memotong. "Pak Lurah, dia menawarkan diri jadi tumbal supaya saya selamat. Supaya saya bisa terus jadi penjaga patuh kalian. Dan yang di bawah menolaknya — bukan karena dia tak cukup, tapi karena dia mau saya. Hanya saya." Lana mendekat, cukup dekat untuk berbisik. "Berapa banyak lagi yang harus dia keringkan sebelum kalian paham kalian tak punya barang dagangan yang dia mau, selain saya?"
Darmojo tak menjawab. Di belakangnya, dari mulut Sumur Tengah, air mulai naik perlahan — keruh, berbau anyir — menggenang di sekitar tubuh Sulastri seolah hendak menariknya kembali ke bawah. Warga mundur serempak. Dan di permukaan air keruh itu, sesaat saja, Lana melihat banyak wajah menatap ke atas, tenggelam, lapar, dan satu di antaranya — ia bersumpah — tersenyum.