Kehancuran datang bukan dengan ledakan, melainkan dengan dahaga.
Setelah Sulastri, enam sumur warga tak lagi bisa dipercaya. Air yang ditimba dari Sumur Lor berbau besi dan membuat anak-anak muntah. Air Sumur Kidul, yang dekat kuburan, naik berwarna cokelat-kemerahan seperti darah encer dan tak pernah jernih lagi meski diendapkan berhari-hari. Sumur Wetan dekat sawah mengering separuh, lalu meluap lagi tengah malam tanpa hujan, membanjiri pematang dengan air yang membuat padi menguning dalam semalam. Sumur Pengilon, yang dulu jernih seperti cermin dan jadi kebanggaan desa, kini hitam pekat, dan siapa pun yang menatap ke dalamnya terlalu lama mulai bicara sendiri.
Karangwungu mati kehausan di tengah air yang melimpah.
Itulah ironi yang membuat Lana mual tiap kali ia melihatnya. Hujan turun hampir tiap sore sekarang, kabut tak pernah benar-benar terangkat, embun menggantung di mana-mana — dan justru karena itu, tak ada setetes pun yang aman diminum. Sebab semua air sekarang adalah miliknya. Yang di bawah tak lagi terkurung di balik beton; ia telah bocor ke seluruh urat air desa, dan tiap genangan, tiap tetes embun, tiap uap dari tanah yang basah, adalah perpanjangan tangannya.
Dan manusia yang kehausan akan minum, bagaimanapun bahayanya.
Kesurupan menyebar seperti wabah. Bukan lagi satu-dua orang dalam upacara, melainkan belasan dalam satu hari, dua puluhan keesokan harinya. Mereka yang minum dari sumur yang salah — atau sekadar berdiri terlalu lama di kabut — mulai berubah. Mata mereka menjadi rata. Mereka bicara dalam bahasa kuno yang sama, koor yang sama dengan suara-suara di dasar sumur. Dan mereka tidak lagi sekadar menggumam dan menunjuk joglo. Mereka mulai melukai.
Lana melihat seorang ibu mencakar wajah anaknya sendiri di tengah jalan desa, tangannya membentuk cakar, mulutnya berbusa, dan saat warga menariknya menjauh ia tertawa dengan suara yang bukan suaranya. Ia melihat dua laki-laki saling mencekik di depan masjid sampai keduanya jatuh, lalu bangun seperti tak terjadi apa-apa, lalu mencekik orang lain. Tak ada lagi pola. Tak ada lagi ritual rapi, satu tumbal per generasi yang tertib seperti tagihan. Kelaparan yang dulu sabar kini sudah kehilangan kesabarannya, dan ia memakan tanpa antrean.
Tetua kehilangan kendali atas hal yang telah mereka pelihara selama tujuh generasi.
Lana menemukan ini paling jelas di balai desa, tempat ia datang mencari Darmojo dan menemukan kekacauan. Para tetua yang dulu duduk dengan wibawa, yang dulu menekan Lana di ruangan ini dengan kalimat-kalimat bersayap tentang keselamatan desa, kini berkerumun ketakutan di pojok ruangan. Salah satu dari mereka, lelaki tua yang dulu paling lantang menuntut tumbal, kini meringkuk di bawah meja, menaburi dirinya sendiri dengan garam dari karung yang ia peluk, menggumam doa yang tercampur dengan kalimat dalam bahasa kuno — separuh dirinya sudah di bawah.
"Kalian memberinya makan selama tujuh generasi," kata Lana kepada mereka, berdiri di pintu balai sementara hujan turun di belakangnya. "Kalian mengira selama dia kenyang, dia akan menurut. Selama satu nyawa per generasi, desa aman, panen melimpah, kalian terhormat. Kalian pikir kalian majikan dan dia anjing peliharaan."
"Diam—" seorang tetua mendesis.
"Tapi kalian bukan majikan," lanjut Lana, suaranya naik. "Kalian sipir penjara yang menyangka diri kepala penjara. Dan sekarang tahanannya sudah membongkar jeruji, dan kalian baru sadar — kalian tak pernah memberinya makan. Kalian hanya menundanya. Tiap nyawa yang kalian beri membuatnya lebih kuat, bukan lebih kenyang. Dan sekarang dia cukup kuat untuk tidak butuh kalian lagi."
Di luar, kentungan berbunyi lagi — kali ini dari arah Sumur Kulon. Teriakan. Seseorang lagi terseret.
Malam itu, dari beranda joglo, Lana memandangi desanya. Lampu-lampu padam karena listrik tak pernah pulih. Di kegelapan, ia bisa melihat obor-obor kecil bergerak panik di antara rumah, mendengar tangis, mendengar tawa yang salah. Karangwungu — desa yang dulu menahannya, memutar jalannya tiap kali ia hendak pergi, mengikatnya dengan surat wasiat dan kabut dan tatapan ramah-dingin — kini sedang menelan dirinya sendiri.
Ia memikirkan kata-kata Mbah Jum sebelum mati. Kamu bisa memutusnya, tapi hanya dengan turun sendiri.
Ia memikirkan suara ibunya. Jangan, Nduk. Dan, di tarikan napas yang sama, dari mulut yang sama: Ayo, Nduk.
Ia memikirkan Bayu di bawah beton.
Dan untuk pertama kalinya, di tengah desa yang sekarat, Lana berhenti bertanya apakah ia akan turun. Ia mulai bertanya bagaimana — dan apa yang harus ia bawa.