Ia memutuskannya di gudang belakang joglo, di antara kendi-kendi tua dan tumpukan buku catatan Mbah Surti, dengan satu lilin dan separuh malam tanpa tidur.
Selama ini Lana hidup di antara dua jalan yang sama-sama mematikan. Jalan pertama: menyerah jadi wadah. Membiarkan yang di bawah berpindah ke tubuhnya, berjalan keluar dari sumur memakai kulitnya, lalu menyebar ke hilir Kali Suwung — ke kota-kota di bawah gunung, ke setiap mata air, ke setiap orang yang minum dari sungai yang sama. Ia akan "hidup", dalam arti tertentu, dan ia akan bersama Bayu dan ibunya di bawah air. Tapi ia tak akan lagi menjadi Lana. Ia akan menjadi mulut kelaparan yang berjalan.
Jalan kedua: melanjutkan siklus. Membayar satu tumbal — gelandangan tua yang ditunjuk Darmojo, atau siapa pun yang bisa dikorbankan — menjadi penjaga patuh seperti Mbah Surti, dan menunda lagi selama satu generasi. Selamat. Tapi dengan tangan berlumur darah. Dan karena ia wadah, tiap ritual akan mengikis kemanusiaannya sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya tak ada bedanya dengan jalan pertama — hanya lebih lambat, lebih pengecut, lebih banyak mayat di sepanjang jalan.
Lana memilih jalan ketiga.
Jalan yang Mbah Jum bisikkan sebelum tubuhnya mengering. Jalan yang ada di catatan tertua Mbah Surti, ditulis dengan tinta yang pudar, di halaman yang nyaris robek. Satu-satunya cara memutus siklus — bukan menundanya, bukan memberinya makan, tapi mengakhirinya selamanya: seorang penjaga harus turun ke dalam sumur secara sukarela, membawa nama sejatinya dan kidung utuh, lalu mengikat dirinya menjadi segel hidup. Menjadi kunci. Bukan memberi makan kelaparan itu — tapi menguncinya dengan tubuh dan jiwa sendiri, selamanya.
Harganya adalah dirinya.
Ia akan mati di bawah air. Atau lebih buruk dari mati — ia akan menjadi bagian dari air, kesadarannya melebur tapi tak hilang, menjaga dari dalam, seperti yang dilakukan tiap penjaga yang gagal sebelumnya, hanya saja ia tidak akan gagal. Ia akan menahan pintu dengan tubuhnya yang sudah bukan tubuh, untuk selamanya, supaya garis darahnya bebas dan desa di atasnya bisa hidup — atau mati — secara wajar.
"Kalau aku harus turun," bisiknya pada lilin, "aku tidak akan turun sebagai makanan. Tidak sebagai wadah. Aku akan turun sebagai sipir, dan aku akan mengunci pintu dari dalam."
Ia menutup buku catatan. Di luar, hujan menderas. Dan saat itulah ia tahu — dengan kepastian yang dingin merayap di tengkuknya — bahwa entitas mendengar keputusannya.
Karena lilin di hadapannya tiba-tiba menyala lebih terang, lalu nyalanya berubah warna, kebiruan, dan di balik nyala itu, di dinding gudang yang gelap, bayangannya bergerak terlambat. Lana mengangkat tangan; bayangannya tetap diam. Lalu, sepersekian detik kemudian, bayangan itu mengangkat tangan juga — tapi tangan bayangan itu meneteskan air, gelap, ke lantai, padahal tangan Lana kering.
"Aku tahu kamu dengar," kata Lana, dan suaranya tak gemetar, ia bangga pada itu. "Bagus. Dengar baik-baik. Aku tidak akan jadi wadahmu."
Lilin padam sendiri.
Dalam gelap, gudang itu menjadi dingin, dingin yang basah, dan dari kendi-kendi di rak — kendi tua berisi tanah kuburan, air doa, abu — terdengar gemericik, seolah semuanya berisi air dan air itu beriak. Lalu suara. Banyak suara. Suara yang ia kenal sekarang. Ibunya. Mbah Jum. Bayu. Bahkan Sulastri. Bahkan Karjo. Semua yang pernah ia kenal yang sudah di bawah, bicara serempak dari dalam kendi-kendi, dari celah lantai, dari embun yang menetes dari atap.
Jangan, Nduk.
Turunlah.
Kami menunggumu.
Lari, lari selagi bisa.
Di sini tak ada yang pergi.
Tinggal bersama kami.
Jangan tinggalkan kami lagi.
Mereka memanggil dengan wajah-wajah orang yang ia cintai, dan itulah yang paling kejam — entitas tak mengirim monster untuk meneror. Ia mengirim cinta. Ia mengirim suara ibu yang dulu melepaskannya di gerbang desa, suara laki-laki yang nyaris ia cintai, suara perempuan tua yang mati membuka jalannya. Dan tiap suara itu menarik dadanya seperti tali, ke bawah, ke air, ke janji yang manis: kamu tidak akan ditinggalkan lagi.
Lana menyalakan lilin kembali dengan tangan gemetar. Ia menatap nyalanya sampai cahaya itu mengusir suara-suara, satu per satu, kembali ke air tempat mereka berasal.
"Kalau kamu mau menakutiku dengan wajah orang yang kucintai," bisiknya ke kegelapan, "berarti kamu sudah takut padaku. Bagus. Kita berdua takut. Tapi cuma satu dari kita yang akan turun, dan menutup pintu."
Esok paginya, ia mulai mengumpulkan alat.