Kidung utuh sudah ada — disatukan dari makam Mbah Surti dan dari Mbah Jum, ditebus dengan darah dan dengan dua nyawa. Tapi kidung saja tak cukup. Untuk mengikat diri jadi segel hidup, Lana butuh apa yang dipakai leluhurnya membangun segel pertama, hanya saja kali ini dipakai untuk mengunci dari dalam, bukan dari luar. Empat hal. Garam. Besi tua. Bambu petuk. Dan api dari kayu joglo penjaga.
Garam adalah yang termudah. Warga selama ini menyelipkan bungkusan garam ke mana-mana — di ambang pintu, di tas Lana, di sela-sela jendela. Garam yang tak bisa diseberangi air gelap secara bersamaan dengan besi tua. Lana mengumpulkan semua, sekarung penuh, garam laut kasar yang dibeli warga dari pasar di luar desa bertahun-tahun, ditimbun untuk hari yang mereka takutkan tapi tak pernah berani sebut. Ia menuangnya ke dalam kantong-kantong kain, mengikatnya, menumpuknya di senthong tengah.
Besi tua ia kumpulkan dari mana saja. Paku-paku berkarat yang dicabut dari dinding gudang. Mata cangkul tua peninggalan entah siapa. Pisau dapur Mbah Surti yang sudah menghitam. Dan — yang paling penting — paku-paku besar berkarat yang tertanam di beton penutup sumur ketujuh sendiri, yang harus ia cabut nanti, yang sudah "kenal" air gelap selama tujuh generasi. Besi yang tua, kata catatan Mbah Surti, lebih kuat dari besi baru; ia sudah lama bersentuhan dengan tanah, sudah menyerap waktu. Air gelap tak bisa menyeberanginya bersama garam.
Bambu petuk adalah masalahnya.
Bambu petuk — bambu kuning beruas ganjil — adalah pagar gaib yang ditanam di sekeliling sumur ketujuh sejak zaman Eyang Kromo. Rumpun itulah yang selama ini menahan agar yang di bawah tetap "tidur", agar segel tak melemah. Lana butuh beberapa batang utuh untuk ritualnya — untuk ditancapkan mengelilingi dirinya saat ia turun, sebagai pagar terakhir. Tapi mencabut bambu petuk dari rumpunnya berarti melubangi pagar yang masih berfungsi.
Ia tahu risikonya. Mbah Jum sudah memperingatkan. Tapi ia tak punya pilihan; bambu yang dipakai ritual harus bambu dari rumpun penjaga, bukan bambu lain.
Sore itu, dengan parang di tangan dan kabut menebal di belakangnya, Lana masuk ke balik rumpun bambu kuning. Daun-daun gugur menyapu wajahnya, kering dan pucat. Ia memilih batang yang ruasnya ganjil — menghitungnya tiga kali untuk memastikan, sebab salah hitung bisa fatal — lalu mengayunkan parang.
Batang pertama tumbang dengan suara retak yang terlalu keras untuk bambu sekecil itu, seperti tulang patah.
Saat itulah tanah bergetar.
Bukan gempa. Lebih halus, lebih dalam, getaran yang naik dari bawah seperti sesuatu yang sangat besar baru saja membuka satu matanya setelah tidur panjang. Lana menjatuhkan parang dan menoleh ke beton penutup sumur. Di permukaannya, retakan-retakan yang sebelumnya hanya seperti urat rambut kini melebar, dan dari celah-celah itu naik uap — uap putih berbau anyir, bau lumpur dan besi dan sesuatu yang busuk-manis, mengepul dari dalam tanah seolah sumur itu sedang menghela napas.
"Tidak," bisik Lana.
Ia mencabut satu batang lagi — ia butuh setidaknya tujuh — dan tiap batang yang tumbang, retakan di beton melebar, uap mengepul lebih tebal, getaran lebih kuat. Pagar gaib itu, yang ditanam sejak zaman Eyang Kromo tujuh generasi lalu, melemah tiap kali ia merampas sepotongnya. Ia sedang merobohkan dinding penjara untuk membangun kunci. Tapi selama dinding belum jadi kunci, penjara itu terbuka.
Saat batang ketujuh tumbang, beton di tengah retak dengan bunyi dentum tumpul, dan dari celah terbesar, air merembes naik — bukan menetes ke bawah seperti biasa, tapi naik, melawan gravitasi, menggenang di permukaan beton dan tak mau turun. Air hitam. Dan di permukaan air hitam itu, untuk sesaat sebelum Lana memalingkan wajah, ia melihat pantulan langit sore — kecuali bahwa di pantulan itu, langitnya gelap dan penuh wajah yang menatap ke atas, ke arahnya, lapar dan sabar dan bangun.
Lana memunguti tujuh batang bambu dan berlari ke joglo, jantungnya menghantam tulang rusuk. Di belakangnya, sumur ketujuh terus menghela napas, terus membuka diri, uap anyir mengejarnya seperti tangan.
Ia tahu sekarang ia berlomba dengan waktu. Bukan empat puluh hari lagi. Hitungan yang lebih pendek. Tiap jam pagar makin lemah, tiap jam ia makin terbuka. Ia harus menyiapkan ritual sebelum yang di bawah cukup bebas untuk naik sendiri — sebab kalau itu terjadi, tak akan ada lagi pintu untuk ditutup.
Yang tersisa hanya satu alat. Api dari kayu joglo penjaga. Dan untuk menyalakannya, ia harus membakar rumah leluhurnya sendiri.