Mereka datang malam itu, satu per satu, lewat pintu belakang yang Lana sengaja biarkan tak terkunci.
Yang pertama adalah Parman, murid Bayu yang paling tua, lelaki dua puluhan dengan tangan kapalan tukang kayu. Lalu Wati, perempuan muda yang kakaknya hilang dua generasi lalu — namanya ada di daftar Bayu, di antara nama-nama yang "berhenti" tiap musim panen. Lalu beberapa lagi: keluarga korban, anak-anak muda yang kuliah di luar lalu pulang dan tak pernah bisa pergi lagi, orang-orang yang selama ini diam karena takut tetua tapi tak pernah benar-benar percaya pada ritual.
Mereka berkumpul di senthong tengah, di antara karung garam dan tumpukan besi tua dan tujuh batang bambu petuk yang Lana susun di sudut. Wajah-wajah mereka diterangi lilin, tegang, tapi ada sesuatu yang baru di mata mereka yang sudah lama tak ada di Karangwungu: tekad.
"Pak Bayu mengajari kami banyak hal," kata Parman, memecah keheningan. "Tapi yang paling sering dia bilang — desa ini busuk dari dalam, dan kita semua pura-pura tidak mencium baunya. Dia bilang suatu hari ada yang harus berani mencium baunya keras-keras dan bilang: cukup."
"Dia sudah diambil," kata Lana pelan. "Karena dia berani."
"Justru itu." Wati maju, suaranya bergetar tapi tak surut. "Kalau kami diam sekarang, dia diambil percuma. Kakak saya diambil percuma. Semua nama di daftar itu diambil percuma. Kami tidak mau jadi nama berikutnya yang diambil tanpa perlawanan. Kalau kami harus mati, biar kami mati melawan, bukan menunggu giliran disembelih seperti ayam."
Lana memandangi mereka. Selama ini ia berjuang nyaris sendirian — dengan Bayu, dengan Mbah Jum, dan keduanya kini sudah pergi. Ia telah terbiasa menanggung ini sebagai beban tunggal, kutukan tunggal, darahnya sendiri. Melihat wajah-wajah muda ini, yang tak punya darah Eyang Kromo, yang tak wajib menanggung apa pun, memilih untuk menanggungnya juga — sesuatu dalam dadanya yang sudah lama membeku mulai retak, kali ini ke arah yang baik.
"Kalian harus tahu apa yang akan terjadi," kata Lana. Dan ia menceritakan semuanya. Tentang segel hidup. Tentang turun ke sumur. Tentang membakar joglo untuk menyalakan api. Tentang bahwa kalau ini berhasil, ia tidak akan kembali — ia akan menjadi kunci, di bawah, selamanya. Ia tak menyembunyikan apa pun. Mereka berhak tahu untuk apa mereka mungkin mati.
Ketika ia selesai, hening lama.
"Jadi kami menjaga pintu," kata Parman akhirnya. "Sementara Mbak turun."
"Kalian menjaga supaya tetua tidak menghentikanku sebelum ritual selesai," kata Lana. "Dan supaya... supaya yang naik dari sumur tidak menarik kalian semua. Itu saja. Setelah aku turun, jangan ada yang menyusul. Lari. Selamatkan diri kalian. Itu syaratku."
Mereka mengangguk, satu per satu, meski Lana tahu sebagian dari mereka berbohong dengan anggukan itu.
Tapi mereka tak punya waktu untuk berdebat tentang kesetiaan. Karena saat itulah, dari arah desa, terdengar suara yang membuat semua orang di senthong membeku.
Bukan kentungan. Bukan tangis. Suara langkah. Banyak langkah. Bukan langkah orang yang berjalan — langkah orang yang diseret, atau yang berjalan dengan tubuh yang bukan lagi miliknya. Geretan kaki di tanah basah, ritmis, salah, mendekat dari segala arah.
Parman mengintip lewat celah jendela dan wajahnya memucat. "Mbak. Tetua. Mereka... mereka melepas yang kesurupan. Mereka mengarahkannya ke sini."
Lana ikut mengintip. Di bawah cahaya bulan yang berlumur kabut, ia melihatnya: puluhan warga kesurupan berjalan menuju joglo dalam formasi yang terlalu rapi untuk acak, mata mereka rata, mulut mereka menggumamkan koor yang sama, dan di belakang mereka — menjaga jarak aman, memegang obor, menggiring — berdiri para tetua. Darmojo di tengah. Mengarahkan manusia-manusia yang sudah bukan manusia itu seperti orang menggiring kerbau.
Mereka telah menjadikan warga kesurupan sebagai senjata. Anjing penjaga dari daging. Untuk menghentikan Lana dan warga muda sebelum ritual bisa dimulai.
"Tutup pintu," kata Lana, suaranya rendah dan dingin. "Garam di semua ambang. Besi di semua jendela. Kita tidak boleh melukai mereka — mereka masih warga kalian, masih saudara kalian, ini bukan salah mereka. Tapi kita harus menahan mereka cukup lama." Ia memandang tujuh batang bambu di sudut, karung garam, kidung yang terlipat di dadanya. "Cukup lama untukku menyalakan api."
Di luar, geretan langkah itu sampai ke pagar joglo, dan koor yang sama dengan suara di dasar sumur kini terdengar dari puluhan mulut sekaligus, dekat, mengepung, lapar.