Joglo tua itu, yang dibangun seabad lalu sebagai rumah penjaga, malam itu menjalankan tugasnya yang sesungguhnya untuk terakhir kali: menahan.
Karung-karung garam dibongkar dan dituang di sepanjang ambang pintu, di bawah tiap jendela, membentuk garis putih yang menyala samar di bawah cahaya lilin. Besi tua — paku, mata cangkul, pisau — diselipkan di celah-celah kusen, digantung di kisi-kisi jendela. Garam dan besi tua bersamaan: satu-satunya hal yang tak bisa diseberangi yang di bawah dengan mudah. Tapi malam itu yang mengepung joglo bukan air gelap secara langsung. Yang mengepung adalah manusia — warga kesurupan, daging dan tulang, yang garam dan besi tak menghentikannya seampuh menghentikan entitas.
Mereka menghantam pintu.
Bukan mengetuk. Menghantam, dengan tubuh, berkali-kali, tanpa peduli tulang mereka sendiri remuk. Pintu jati tebal itu berderak. Parman dan dua pemuda lain menahannya dari dalam dengan punggung dan kaki, urat menonjol di leher mereka, sementara dari luar puluhan tangan menggedor, mencakar kayu sampai kuku-kuku tanggal dan darah meleleh di garis garam tanpa mereka rasakan.
"Tahan!" teriak Parman. "Tahan, jangan dibuka!"
Wati menjaga jendela timur, menahannya dengan papan yang dipaku Parman tergesa. Di balik kaca, wajah-wajah warga kesurupan menempel — tetangga mereka, paman mereka, guru ngaji mereka — mata rata, mulut menggumam, menjilati kaca dengan lidah yang basah. Salah satunya adalah ibu Wati sendiri. Wati menahan papan itu sambil menangis, menyanyikan doa yang tercekat, tak berani menatap wajah yang dulu menyusuinya.
"Bu," isaknya. "Maaf, Bu. Maaf."
Lana bekerja cepat di senthong tengah. Ia tak punya waktu untuk pengepungan ini — ia harus menyiapkan ritual, harus membawa garam dan besi dan bambu ke mulut sumur, harus menyalakan api. Tapi ia tak bisa keluar selama joglo dikepung. Ia terjebak di rumah yang sedang ia rencanakan untuk dibakar.
Dari luar, di balik kerumunan warga kesurupan, terdengar suara Darmojo, dikeraskan lewat corong tua.
"Lana! Cukup! Hentikan kebodohan ini!" Suaranya bergema, dilembutkan-paksa, wibawa lama yang sudah retak. "Kamu tidak harus mati! Tidak ada yang harus mati! Jadi penjaga seperti nenekmu — bayar utangnya satu kali, lalu desa tenang, kamu tenang! Aku bisa carikan tumbalnya, kamu tinggal duduk! Kenapa kamu pilih menghancurkan segalanya?!"
Lana berjalan ke pintu, menyibak Parman sebentar, dan berteriak ke celah, "Karena 'satu kali' kalian sudah tujuh generasi, Pak Lurah! Karena tumbalmu adalah ibuku! Karena 'desa tenang' kalian dibangun di atas sumur penuh mayat! Aku tidak akan menjadi nenekku — aku tidak akan menunda lalu menyerahkannya ke anak-anak kalian!"
"Kamu akan membunuh kita semua!" Suara Darmojo pecah, dan untuk pertama kalinya Lana mendengar ketakutan murni di dalamnya, bukan ancaman. "Tanpa segel, tanpa tumbal, dia akan naik dan memakan semuanya! Kamu mengira kamu pahlawan, tapi kamu hanya membuka kandang!"
"Aku tidak membuka kandang," balas Lana. "Aku menggantikan kuncinya. Dengan diriku."
Dan saat itulah — saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah sumpah yang kini tak bisa ia tarik kembali — tanah bergetar lagi, lebih keras, dan dari arah halaman belakang, dari sumur ketujuh, terdengar bunyi beton retak yang panjang dan basah.
Lalu jeritan.
Lana berlari ke jendela belakang dan melihatnya. Dari celah-celah beton yang sudah lemah — lemah karena ia mencabut bambu petuk — sesuatu naik. Bukan air. Tangan. Tangan-tangan basah, kelabu, terlalu banyak jari, mengepal dan membuka di udara malam, meraba, mencari. Mereka memanjang dari dalam beton seperti akar yang tumbuh terbalik, mencari apa pun yang hidup dan dekat.
Salah satu warga kesurupan yang paling dekat dengan sumur — yang dikirim tetua untuk mengepung dari belakang — terlalu dekat. Sebuah tangan basah membelit pergelangannya dan menariknya. Ia tak sempat menjerit. Tubuhnya terseret ke celah beton yang seharusnya terlalu sempit untuk dilewati manusia, dan ia masuk, lenyap, ditelan dengan bunyi yang seperti batu jatuh ke lumpur dalam.
Kerumunan kesurupan, yang tadi menghantam pintu, sekejap teralih. Mereka berbalik ke arah sumur, ke arah tangan-tangan itu, dan untuk satu saat aneh mereka tampak seperti hendak menyembah — atau hendak ikut diambil.
"Sekarang!" teriak Lana. "Selagi mereka teralih — buka jalan ke belakang! Aku harus sampai ke sumur!"
Tapi tangan-tangan basah itu kini ada di antara dia dan sumur, naik dari tanah, dari beton, dari setiap genangan air hujan di halaman. Dan Lana sadar, dengan ngeri yang dingin, bahwa pintu yang ia rencanakan untuk ditutup sudah mulai terbuka sendiri — dan ia masih belum punya api.