Parman yang pertama mengerti apa yang harus dilakukan.
Tangan-tangan basah memenuhi halaman belakang, naik dari setiap genangan, dari celah beton, mengayun dan meraba. Warga kesurupan, yang tadi mengepung pintu depan, kini berkerumun mendekati sumur dalam pesona aneh, sebagian sudah tertarik masuk, sebagian berlutut menyembah. Di antara dua bahaya itu — tangan dari bawah dan tetua yang menggiring dari atas — Lana harus menyeberangi halaman, mencapai mulut sumur, dan tak ada jalan yang aman.
"Mbak harus lewat," kata Parman, napasnya tersengal, wajahnya berlumur keringat dan debu. Ia memegang obor — bukan obor kayu joglo, hanya obor biasa, tapi api tetap membuat tangan-tangan basah itu menjauh sejengkal. "Aku buka jalan. Aku dan yang lain pegang obor, kita bikin lorong. Mbak lari di tengah. Jangan berhenti, apa pun yang Mbak dengar, apa pun yang Mbak lihat. Jangan berhenti."
"Parman—"
"Pak Bayu menyelamatkan adik saya dari ini," potong Parman, dan untuk sekejap matanya berkaca. "Saya tidak pernah bisa balas. Biarkan saya balas malam ini. Bawa kidung itu ke bawah, Mbak. Tutup pintunya. Itu saja yang saya minta."
Tak ada waktu berdebat. Parman dan empat pemuda lain menyalakan obor dari tungku dapur, lalu membuka pintu belakang dan menyerbu keluar membentuk dua barisan, obor terangkat, menciptakan lorong api selebar dua orang dari ambang joglo menuju mulut sumur. Tangan-tangan basah menyusut dari nyala, mendesis seperti minyak panas terkena air, dan di antara dua barisan obor itu terbentuk jalan sempit yang berkedip-kedip.
"Lari, Mbak!" teriak Parman. "Sekarang!"
Lana berlari. Kidung utuh terlipat di dadanya, sekantong garam di satu tangan, beberapa batang bambu petuk diikat di punggung. Ia berlari di antara dua barisan obor sementara di kiri-kanannya tangan-tangan basah mengayun, meraih, mencakar nyala. Suara-suara naik dari tanah — ibunya, Bayu, Mbah Jum, memanggil namanya, memohon, membujuk — tapi ia mengingat kata Parman: jangan berhenti, apa pun yang kau dengar. Ia tak berhenti.
Ia hampir sampai ketika tangan basah terbesar — sebesar dua tangan manusia disatukan — naik dari tepat di tengah lorong, di antara Parman dan pemuda di sebelahnya, dan mengayun. Parman mengangkat obornya untuk menahan, tapi tangan itu bukan menyerang Lana. Ia menyambar Parman.
"Parman!" Lana berhenti — ia tak bisa tidak berhenti — dan menoleh.
Tangan basah itu sudah membelit pinggang Parman, menariknya ke arah sumur. Parman tak menjerit. Ia justru, dengan sisa tenaga, melempar obornya ke arah Lana — bukan untuk menyelamatkan diri, tapi untuk memastikan lorong api tetap menyala satu detik lebih lama, cukup untuk Lana lewat. "Jangan berhenti!" teriaknya, lalu suaranya tertelan saat tubuhnya terseret ke celah beton, masuk, lenyap.
Sebelum ia hilang sepenuhnya, untuk satu detik yang akan menghantui Lana selama sisa keberadaannya, Lana melihat wajah Parman berubah — bukan ketakutan, tapi semacam lega yang mengerikan, seperti orang yang akhirnya membayar utang yang terlalu lama ia tanggung.
Lalu ia hilang. Dan di tempat ia hilang, tanah seperti bernapas — kenyang, untuk sesaat.
Lana sampai di mulut sumur dengan paru-paru terbakar dan air mata yang ia tak izinkan mengalir, karena air mata adalah jalan. Ia berlutut di tepi beton retak, dan saat itulah ia memahami sesuatu yang membuat darahnya membeku: setiap nyawa yang jatuh malam ini memperkuat yang di bawah. Tiap warga kesurupan yang tertarik, tiap pemuda yang mengorbankan diri, tiap Parman — semuanya makanan, dan makanan membuatnya lebih kuat, bukan lebih kenyang. Getaran tanah lebih hebat sekarang. Tangan-tangan lebih banyak. Uap anyir lebih tebal.
Menunda berarti memberi makan.
"Cepat," bisik Lana pada dirinya sendiri, tangannya gemetar membuka lipatan kidung. "Cepat, cepat, sebelum dia kenyang dengan mereka semua. Tidak ada lagi waktu untuk ragu."
Ia menancapkan batang bambu petuk pertama di tanah, di sisi sumur, mulai membentuk pagar terakhir di sekeliling dirinya sendiri. Di belakangnya, joglo masih berdiri — gelap, tua, menahan napas seabad — dan ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa untuk mendapatkan api yang melukai yang di bawah, ia harus membakarnya. Tapi sebelum api, sebelum turun, ada satu hal lagi yang harus ia hadapi. Sesuatu mulai naik dari mulut sumur — bukan tangan kali ini. Sebuah sosok. Utuh. Berdiri.
Dan sosok itu memakai wajah Bayu.