Ia naik dari sumur seperti orang yang keluar dari air dangkal — perlahan, basah, tenang. Air hitam meleleh dari rambutnya, dari bahunya, dari ujung jarinya, menetes kembali ke dalam sumur dengan suara gemericik yang lembut. Ia berdiri di bibir beton, dan di bawah cahaya kebakaran obor yang berserakan dan bulan yang berlumur kabut, wajahnya adalah wajah Bayu.
Persis. Setiap garisnya. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Bekas luka tipis di alis kanan dari waktu ia jatuh sepeda kecil dulu, yang pernah ia ceritakan pada Lana sambil tertawa. Bahkan cara ia berdiri — sedikit miring, bahu kiri lebih rendah — adalah cara Bayu berdiri.
"Lana," katanya. Dan suaranya adalah suara Bayu.
Lana berhenti menancapkan bambu. Tangannya membeku. Seluruh tubuhnya berteriak untuk berlari ke arah suara itu, untuk memeluknya, untuk percaya — karena selama berhari-hari ia telah berduka, telah mendengar suaranya dari dalam beton, telah membayangkan tubuhnya membusuk di air gelap. Dan kini ia berdiri di sana. Utuh. Hidup. Memandangnya dengan mata yang basah dan penuh kerinduan.
"Kamu hidup," bisik Lana, dan suaranya pecah.
"Aku di bawah," kata Bayu, mengulurkan tangan. Tangannya kering — itu yang aneh, tubuhnya basah tapi telapaknya kering, kering seperti tangan orang yang sudah lama mati. "Tapi di bawah tidak seperti yang kamu kira, Lana. Tidak gelap. Tidak dingin. Tidak ada yang pergi di sana. Ibumu di sana. Mbah Jum di sana. Parman baru saja datang. Kami semua menunggumu. Turunlah. Cuma sekali turun, dan kamu tidak akan pernah ditinggalkan lagi."
Tidak akan pernah ditinggalkan lagi.
Itu kalimat yang menusuk paling dalam, karena itu kalimat yang sepanjang hidupnya Lana paling takut dan paling rindukan. Ibunya yang melepaskannya di gerbang desa. Ayahnya yang tak pernah ia kenal. Karier dan hubungan yang kandas di kota. Selalu ditinggalkan. Selalu sisa. Dan kini, di mulut sumur, ada janji yang mengulurkan tangan: kamu milik tempat ini, kamu tidak akan ditinggalkan lagi, di sini selamanya bersama yang kamu cintai.
Lana melangkah satu langkah ke arahnya. Lalu dua.
"Iya," kata Bayu lembut, tersenyum, senyum Bayu, senyum yang dulu membuat dadanya hangat di beranda sekolah. "Begitu. Pelan-pelan. Tidak sakit, Lana. Cuma seperti tidur. Ingat malam itu, waktu kita duduk di beranda sampai pagi, dan kamu ketiduran di bahuku, dan aku tidak berani bergerak supaya kamu tidak bangun? Seperti itu. Selamanya seperti itu."
Lana berhenti.
Sesuatu dingin merayap di tengkuknya, mengusir kehangatan.
Karena malam itu di beranda — malam ia ketiduran di bahu Bayu — itu tidak pernah terjadi. Lana tidak pernah ketiduran di bahu Bayu. Bukan karena ia tak ingin. Tapi karena Bayu, yang asli, yang sungguhan, selalu menjaga jarak yang sopan dengannya, selalu — bahkan ketika hubungan mereka menghangat — terlalu menghormatinya untuk membiarkan momen itu terjadi tanpa kata-kata. Bayu pernah berkata, justru di beranda itu, dengan canggung dan tulus: "Kalau aku bilang aku suka, kamu jangan kabur dari desa lebih cepat, ya?" Dan Lana tertawa, dan mereka tidak pernah saling menyentuh malam itu, hanya bicara sampai fajar dengan jarak satu jengkal di antara mereka yang tak satu pun berani tutup.
Itulah kenangan yang sebenarnya. Bukan kepala di bahu. Bukan tidur. Sebuah jarak yang dijaga karena hormat. Sebuah kalimat canggung yang Lana simpan lebih erat dari pelukan mana pun.
"Bayu tidak pernah membiarkan aku tidur di bahunya," kata Lana pelan, dan suaranya berubah, mengeras, dingin. "Bayu terlalu menghormatiku untuk itu. Itu yang membuatku mencintainya. Kau tidak tahu itu — karena kau tidak pernah memilikinya. Kau hanya mengambil wajahnya."
Senyum di wajah Bayu tak berubah. Tapi matanya berubah. Kerinduan di sana menguap, digantikan sesuatu yang rata, tua, lapar, dan sangat sabar. Air mulai menetes lagi dari telapak tangannya yang tadi kering, dan suaranya — saat ia bicara lagi — bertumpuk, berlapis, seperti banyak suara yang memakai satu mulut.
"Sayang sekali," katanya, dan itu bukan lagi suara Bayu. "Kau hampir sampai. Satu langkah lagi."
"Aku tahu," kata Lana, mundur ke dalam pagar bambu petuknya, jantung menghantam rusuk. "Tapi 'hampir' bukan 'sudah'. Dan sekarang aku tahu pasti — Bayu yang kucintai sudah tidak ada. Yang ada cuma kau, memakai kulitnya. Jadi tidak ada lagi yang menahanku untuk menutup pintu ini selamanya."
Sosok berwajah Bayu itu memiringkan kepalanya, dengan cara yang tak akan pernah dilakukan Bayu, dan tersenyum lebih lebar dari yang dimungkinkan wajah manusia. Air hitam mulai naik di sekelilingnya, menggenang di bibir sumur, dan dari dalam genangan itu wajah-wajah lain mulai muncul, semua memakai wajah orang yang Lana cintai, semua tersenyum, semua mengulurkan tangan kering.
Lana mengeluarkan korek dari sakunya, dan menatap joglo tua di belakangnya — rumah leluhurnya, masa lalu keluarganya, seabad dosa yang berdiri sabar di tengah malam.
"Maaf, Mbah," bisiknya. "Sudah waktunya rumah ini istirahat."