Ia tidak jadi menyalakan apa pun.
Bukan karena ia berubah pikiran. Tapi karena, di saat ia mundur dari mulut sumur dan kembali ke dalam joglo untuk menarik napas sebelum melangkah lebih jauh, dunia di sekelilingnya retak menjadi dua, dan ia berdiri di tengah keretakan itu, tak tahu lagi sisi mana yang nyata.
Di satu sisi: dirinya yang berdiri di senthong tengah, di antara karung garam dan tumpukan besi tua, joglo yang masih berdiri tua dan utuh di sekelilingnya, kidung terlipat di dadanya, rencana yang belum ia jalankan. Dunia yang ia kenal selama ini sebagai perjuangannya.
Di sisi lain: keheningan. Air. Dingin yang lembut. Tak ada api, tak ada joglo, tak ada perjuangan. Hanya Lana, sudah di bawah, sudah tenang, sudah turun, dan semua yang ia kira "perlawanan" hanyalah mimpi yang ia ciptakan sendiri di detik-detik terakhir sebelum air menutup di atas kepalanya — dongeng yang dikarang oleh pikiran yang sekarat untuk membuat penyerahan diri terasa seperti pilihan.
Mana yang nyata?
Ia memandangi tangannya yang kosong dan melihat dua tangan. Satu mengepal, tegang, melawan, hidup. Satu lagi terbuka, basah, pasrah, sudah di bawah. Keduanya tangannya. Keduanya bergerak.
"Mana aku yang asli?" tanyanya ke gelap senthong, atau ke air, ia tak tahu lagi.
Dan kemudian ia melihat dirinya sendiri.
Dua versi. Berdiri menghadapnya di tengah ruangan, seperti pantulan yang lepas dari cermin. Yang satu kering — Lana yang ingin membakar joglo dan turun untuk mengunci pintu, yang akan mati untuk memutus siklus. Wajahnya lelah, ketakutan, tapi mata itu masih miliknya, masih manusia.
Yang lain basah. Lana yang lain, dengan air hitam menetes dari rambut dan urat menghitam menjalar ke seluruh wajahnya, tersenyum dengan senyum yang terlalu lebar. Lana yang ingin hidup — yang ingin menerima jadi wadah, berjalan keluar dari sumur memakai kulit Lana, hidup selamanya dengan Bayu dan ibunya di bawah, hidup sebagai kelaparan yang berjalan. Wajahnya tenang, puas, dan mata itu bukan miliknya lagi.
Keduanya menatapnya. Keduanya adalah dia.
"Pilih," bisik yang basah, dengan suaranya sendiri. "Kau lelah, Lana. Kau selalu ditinggalkan. Sekali ini, biar tempat ini memilikimu. Biar kau jadi milik sesuatu. Tidak sakit. Hidup itu yang sakit. Turun, dan tak ada lagi yang sakit."
"Bakar," bisik yang kering, dengan suaranya sendiri juga. "Kau bukan milik tempat ini. Kau bukan sisa. Kau bukan wadah. Kau penjaga, dan penjaga mengunci pintu. Bakar rumahnya, turun dengan kidung, dan jadilah kunci. Itu satu-satunya kali kau memilih, bukan ditinggalkan, bukan ditarik — memilih."
Lana berdiri di antara kedua dirinya dan menyadari kengerian yang paling dalam dari semuanya: ia tidak akan pernah tahu pasti mana yang benar. Mungkin perlawanan ini nyata, dan ia hendak menyelamatkan negeri di hilir Kali Suwung dengan nyawanya. Atau mungkin seluruh perlawanan ini — warga muda, Parman, kidung, segel hidup, api joglo — adalah ritual yang dirancang oleh yang di bawah, sebuah dongeng heroik yang ditanam di kepalanya supaya ia turun ke sumur secara sukarela, dengan dada penuh keyakinan mulia, dan menyerahkan dirinya sebagai wadah dengan senyum di wajah. Sebab wadah hanya bisa berpindah bila inangnya turun dengan sukarela. Dan apa cara yang lebih sempurna untuk membuat seseorang turun sukarela, selain meyakinkannya bahwa turun adalah pengorbanan suci?
Mungkin dengan membakar joglo dan turun, ia memutus siklus. Mungkin dengan membakar joglo dan turun, ia justru menyelesaikan ritual perpindahan — menghancurkan rumah penjaga, melepas pagar terakhir, dan menyerahkan diri ke air dengan sukarela, persis seperti yang dibutuhkan entitas.
Tangannya yang kosong gemetar.
Di luar, jauh di belakang, sumur ketujuh masih menghela napas dalam gelap, dan joglo tua masih berdiri di sekelilingnya — utuh, belum tersentuh api. Kedua versi dirinya menunggu. Kidung — separuh dari makam, separuh dari Mbah Jum, ditebus dengan darah dan nyawa — terlipat di atas jantungnya yang menghantam rusuk.
Lana menutup matanya, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Karangwungu, ia berhenti berusaha membedakan mana nyata dan mana halusinasi. Sebab ia akhirnya mengerti — di titik nol kewarasan ini — bahwa pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab. Mungkin kedua pembacaan benar sekaligus. Mungkin ia menyelamatkan dunia dan menyerahkan dirinya pada saat yang sama. Mungkin memutus siklus dan menjadi wadah adalah pintu yang sama, dilihat dari dua sisi.
Yang tersisa baginya bukan kepastian. Yang tersisa hanyalah pilihan.
Ia membuka mata. Kedua versi dirinya memudar, larut kembali ke dalam bayangan ruangan, meninggalkannya sendirian di senthong dengan kidung di dada dan rencana yang masih harus ia jalankan. Dan dengan suara yang akhirnya tenang — tenang seperti air yang sudah berhenti beriak — ia berbisik pada kedua dirinya yang sudah tak terlihat, pada yang menunggu di bawah dan yang memohon dari atas, pada seluruh Karangwungu yang sekarat dalam kabut:
"Kalau aku tetap tidak tahu mana yang nyata... maka aku pilih yang membuatku tetap menjadi manusia sampai detik terakhir. Aku pilih membakar. Aku pilih turun. Aku pilih — meski kalian semua menontonku, meski mungkin aku salah, meski mungkin ini persis yang kau inginkan — karena setidaknya, sekali ini, akulah yang memilih."
Ia menyimpan kembali korek ke dalam sakunya. Belum. Tapi sebentar lagi. Di luar, malam belum usai, joglo masih menahan napas seabad, dan di suatu tempat di balai desa Darmojo masih hidup, masih mengira dirinya bisa menghentikan apa yang sudah Lana putuskan. Lana mengeratkan kidung di dadanya dan melangkah keluar dari senthong, ke arah pintu, ke arah segala yang masih harus ia hadapi sebelum api dan sebelum air.