Balai desa Karangwungu tak pernah seramai itu, dan tak pernah sesunyi itu. Lampu minyak berderet di sepanjang dinding, asapnya menggantung rendah di langit-langit kayu, dan di tengah ruangan duduk Pak Lurah Darmojo di kursi rotannya yang biasa — kursi yang sudah ia duduki selama empat puluh tahun memimpin desa. Lana berdiri di ambang pintu, sepatunya basah oleh kabut yang turun lebih cepat dari biasanya. Di belakangnya, segelintir warga muda berdiri rapat, obor di tangan, napas memburu.
"Kamu datang juga, Nduk," kata Darmojo. Suaranya tetap lembut, seperti selalu. Itu yang paling Lana benci darinya — kelembutan yang tak pernah retak, bahkan saat ia mengirim orang ke kematian. "Aku tahu kamu akan datang. Sejak Mbah Surti mati, semua jalan kamu menuju ke sini."
"Saya tahu sekarang, Pak." Lana melangkah masuk. Lantai papan berderak di bawah kakinya. "Saya tahu siapa Bapak sebenarnya. Saya tahu apa yang Bapak jaga, dan kenapa."
Darmojo tersenyum, menyandarkan punggung. "Yang kami jaga adalah desa ini, Nduk. Karangwungu makmur waktu semua desa di kaki Gunung Wungu mati kelaparan. Sawah kita tak pernah gagal. Anak-anak kita tak pernah mati pagebluk. Kamu tahu kenapa? Karena ada yang berani membayar. Leluhurmu yang memulai, dan tiap generasi ada yang melanjutkan."
"Membayar." Lana mengulang kata itu seolah kotor di lidahnya. "Bapak menyebut menenggelamkan orang sebagai membayar. Karjo. Gelandangan tua yang Bapak seret. Ibu saya." Suaranya bergetar di nama terakhir, tapi ia tahan. "Itu bukan keselamatan, Pak. Itu keserakahan. Tujuh generasi keserakahan yang Bapak wariskan turun-temurun, dibungkus jadi kewajiban supaya tak ada yang merasa berdosa."
Wajah Darmojo tak berubah, tapi tangannya — Lana memperhatikan tangannya mencengkeram lengan kursi sedikit lebih erat. "Kamu bicara seperti wong jaba. Seperti ibumu dulu, yang pikir bisa lari. Desa ini bukan tentang dosa, Nduk. Desa ini tentang bertahan. Kalau utang tidak dibayar, yang di bawah tidak diam. Kamu sudah lihat sendiri. Enam sumur sudah bocor. Warga kesurupan. Itu karena tumbal generasimu belum diberikan."
"Karena saya menolak memberikannya."
"Maka kamu yang membunuh desa ini." Untuk pertama kali, sesuatu yang keras menyusup ke suaranya. Darmojo berdiri. Tubuhnya masih tegap meski usianya sudah enam puluh. "Mbah Jum mati. Bayu diambil. Sulastri mengering jadi mayat di bibir Sumur Tengah — kamu lihat sendiri jasadnya, aku lihat sendiri. Semua karena satu perempuan keras kepala yang tidak mau menjalankan apa yang sudah ditakdirkan untuknya. Kamu penjaga sekarang, Lana. Suka atau tidak. Dan penjaga membayar."
Lana mendekat, sampai mereka hanya berjarak satu langkah. "Bapak tahu satu hal yang Bapak sembunyikan dari semua orang? Yang di bawah tidak mau tumbal lagi. Ia tidak mau makanan. Ia mau keluar. Ia mau saya — bukan untuk dimakan, tapi untuk dipakai. Dan kalau itu terjadi, Pak, desa Bapak yang makmur ini akan jadi yang pertama ia habiskan. Bukan diselamatkan. Dimakan utuh."
Sesaat, keraguan melintas di mata tua itu. Lana melihatnya — celah tipis yang selama ini ditutupi kelembutan dan wibawa. Darmojo tahu. Tentu ia tahu. Tapi ia sudah terlalu lama berjalan di jalan ini untuk berbalik.
"Kalau begitu kita selesaikan ritual lama," kata Darmojo, suaranya kini rendah, hampir berbisik. "Ritual yang benar. Bukan ditunda. Bukan separuh. Aku yang akan menyelenggarakannya sendiri. Aku keturunan Ki Jagad. Aku tahu kata-katanya. Kalau kamu tidak mau jadi wadah baik-baik, maka—"
Ia tak menyelesaikan kalimat itu.
Sebab pada saat itu, dari celah-celah papan lantai balai, merembes air. Hitam, kental, berbau anyir lumpur sumur. Lana mundur. Warga muda di belakangnya berseru. Air itu naik dari bawah, mengalir bukan ke samping melainkan ke atas, merayap di kaki kursi rotan, merambat di betis Darmojo seperti tangan yang mencari.
"Pak—" Lana memperingatkan.
Darmojo menunduk, menatap air yang kini melingkari pergelangan kakinya. Dan untuk pertama kali sepanjang Lana mengenalnya, wajah lurah itu retak total — bukan oleh kemarahan, tapi oleh kengerian seorang pelayan yang baru sadar tuannya tak pernah menyayanginya.
"Tidak," bisik Darmojo. "Aku sudah mengabdi. Aku jaga perjanjian. Aku—"
Suaranya tercekat. Matanya membeliak, lalu memutih, bola matanya berputar ke belakang. Tubuhnya menegang seperti tali yang ditarik. Dan ketika ia membuka mulut lagi, yang keluar bukan suara Darmojo, melainkan banyak suara — gemericik, parau, sabar — bicara dalam bahasa kuno yang sama yang Lana dengar dari mulut orang-orang kesurupan.
Sang pengatur, sang penyelenggara, sang pemegang kuasa di Karangwungu selama empat dekade, kini berdiri di tengah balainya sendiri sebagai boneka. Air menetes dari ujung jarinya meski tubuhnya kering sedetik lalu. Kepalanya miring ke samping dengan cara yang tak bisa dilakukan leher manusia hidup.
Dan ia menatap Lana — bukan dengan mata Darmojo, tapi dengan kelaparan yang sabar di balik mata Darmojo — lalu tersenyum.
"Wadah," kata sesuatu lewat mulut sang lurah, "sudah hampir matang."