Warga muda di belakang Lana berlarian keluar dari balai, obor mereka berjatuhan di lumpur halaman. Hanya dua yang tinggal — Wati, perempuan muda yang dulu bersama Lana di malam pengepungan joglo, yang kakaknya hilang dua generasi lalu dan ibunya termasuk yang kesurupan, dan seorang gadis bernama Winda yang ikut sejak warga muda memilih melawan tetua. Keduanya menempel di dinding, tak berani bergerak, sementara di tengah ruangan, tubuh Pak Lurah Darmojo bergerak dengan cara yang salah.
Lana memaksa kakinya tetap di tempat. "Pak Darmojo," ia memanggil, meski ia tahu yang berdiri di sana sudah bukan sepenuhnya Darmojo. "Lawan. Bapak masih bisa lawan. Bapak manusia."
Suara dari mulut Darmojo tertawa. Bukan tawa, sebenarnya — lebih seperti gemericik air yang dipaksa membentuk suara senang. Tubuh tua itu melangkah, tapi kakinya tak benar-benar mengangkat; ia menyeret diri, telapaknya menggesek lantai basah, meninggalkan jejak hitam. Air terus naik dari celah papan, kini setinggi mata kaki, dingin menusuk.
"Dia memberiku makan empat puluh tahun," kata entitas lewat bibir Darmojo. Kata-katanya patah-patah, seperti seseorang yang belajar bicara dari mendengarkan orang tenggelam. "Dia kira dia tuanku. Semua kira begitu. Eyang Kromo kira begitu. Ki Jagad kira begitu. Surti kira begitu." Kepala itu berputar perlahan ke arah Lana. "Hanya makanan yang mengira ia memberi makan."
Lana melihat tangan Darmojo terangkat — bukan ke arahnya, melainkan ke arah pintu belakang balai, ke arah barat laut, ke arah di mana, di kejauhan, di balik rumpun bambu kuning, Sumur Ketujuh menunggu. Dan tubuh tua itu mulai berjalan ke arah sana, terseret, terhuyung, namun tak terhentikan.
"Pak!" Wati tak tahan lagi. Perempuan muda itu maju, mencoba menahan lengan lurah. "Pak Lurah, jangan—"
"Wati, jangan sentuh dia!" Lana berteriak terlambat.
Begitu jari Wati menyentuh kulit Darmojo, ia menjerit dan terpental, telapaknya melepuh seolah memegang besi panas — kecuali kulit Darmojo dingin, sedingin air sumur di tengah malam. Winda menarik Wati menjauh, dan keduanya merangkak mundur ke sudut.
Darmojo terus berjalan keluar. Lana mengikuti dari jarak aman, dan warga yang tadi kabur kini berdiri jauh di tepi jalan desa, menatap dalam diam yang mengerikan. Mereka tahu apa yang terjadi. Mereka selalu tahu. Mereka hanya tak pernah menyangka akan melihatnya menimpa Darmojo — pemimpin mereka, pelindung mereka, orang yang meyakinkan mereka bahwa selama utang dibayar, mereka aman.
Tubuh Darmojo melewati pagar bambu kuning yang sudah setengah Lana cabut. Ia menyeret diri ke mulut Sumur Ketujuh, ke cor beton yang kini retak di banyak tempat, merembes air anyir. Di sana ia berhenti. Untuk satu detik, satu detik yang terasa seperti belas kasihan, mata Darmojo jernih kembali — matanya sendiri, mata seorang lelaki tua yang ketakutan.
"Lana," ia berbisik, suaranya sendiri sekarang, kecil dan parau. "Aku salah. Sepanjang hidup, aku—"
Lalu air menariknya.
Bukan kiasan. Dari celah beton, naik lengan-lengan basah — banyak, ramping, kelabu seperti akar yang lama tenggelam — dan melilit pergelangan kaki Darmojo, lehernya, mulutnya yang setengah terbuka. Tak ada jeritan. Hanya suara gelembung, suara air menutup di atas sesuatu, dan tubuh Pak Lurah Darmojo tertarik ke bawah lewat retakan yang seharusnya terlalu sempit untuk dilewati tubuh manusia. Tulangnya berbunyi. Lalu sunyi.
Cor beton merapat kembali, seolah tak pernah terbuka. Hanya genangan air hitam yang tersisa, beriak pelan, lalu diam.
Lana berdiri terpaku. Di kejauhan, ia mendengar tangis tertahan dari warga. Faksi tetua — orang-orang yang selama puluhan tahun berlindung di bawah wibawa Darmojo, yang ikut menandatangani berkas kematian, yang memilih siapa yang boleh dikorbankan — mereka berhamburan ke rumah masing-masing, mengunci pintu, menabur garam. Tak ada lagi yang memimpin mereka. Tak ada lagi yang meyakinkan mereka bahwa ini benar.
Tetua sudah tumbang. Dan Lana mengerti, dengan dingin yang merayap dari ujung kakinya yang basah, bahwa kini tak ada lagi yang berdiri antara Karangwungu dan hal yang ada di bawah — tak ada apa pun selain dirinya. Satu perempuan dua puluh tujuh tahun, yang tangannya berbau lumpur, yang pantulannya bergerak terlambat, yang kewarasannya retak di banyak tempat.
Pertahanan terakhir desa adalah seseorang yang bahkan tak yakin lagi mana dirinya yang nyata.
Ia menatap cor beton yang merapat. Di permukaan genangan, pantulannya menatap balik — basah kuyup, dan tersenyum.
Lana tidak tersenyum.