Malam itu Lana tak tidur. Tidur sudah menjadi pintu, dan ia tak mau membukanya untuk apa pun.
Ia bekerja di bawah cahaya obor di halaman belakang joglo, di tanah yang hangat dan lembap meski udara pegunungan dingin menggigit. Catatan terakhir Mbah Jum tergeletak terbuka di atas batu, halamannya bergelombang oleh kelembapan, tulisannya hampir pudar. Di sebelahnya, lembar-lembar kidung pengunci yang utuh — separuh dari makam Mbah Surti, separuh dari Mbah Jum — kini menyatu, ditulis ulang oleh tangan Lana sendiri dengan darah yang ia tarik dari telapaknya yang berbau lumpur. Darah penjaga. Hanya itu yang bisa mengaktifkannya.
Ia menata alat-alat sesuai yang ditulis Mbah Surti dalam buku tertua, sesuai yang dijelaskan Mbah Jum sebelum tubuhnya mengering. Garam, satu karung penuh, hasil sumbangan diam-diam warga yang menyelipkannya ke ambang pintu joglo sepanjang minggu ini. Besi tua — paku-paku berkarat yang ia cabut dari soko guru, mata bajak yang berkarat, rantai sumur. Bambu petuk, bambu kuning beruas ganjil, yang ia potong dari pagar gaib yang dulu mengelilingi sumur. Dan obor — tapi bukan obor biasa. Obor yang harus dinyalakan dari kayu joglo penjaga, kayu yang sudah "kenal" segel selama lebih dari seabad.
Itu bagian yang membuat tangannya berhenti.
Untuk menyalakan api yang bisa melukai yang di bawah, ia harus membakar rumah ini. Rumah leluhurnya. Rumah tempat ibunya lahir, tempat Mbah Surti hidup dan mati, tempat tujuh generasi perempuan keluarganya memikul kutukan sendirian. Membakarnya berarti melepas masa lalu keluarganya secara harfiah. Lana menatap soko guru yang menghitam, ukiran-ukiran yang sudah aus, dan untuk sesaat ia merasa rumah itu menatapnya balik — tidak marah, tapi lelah. Seperti seseorang yang sudah lama ingin beristirahat.
"Belum," bisiknya pada rumah itu. "Sebentar lagi."
Di kejauhan, di tepi pekarangan, segelintir warga tersisa berdiri menonton. Mereka membawa obor dan cangkul, tapi tak satu pun berani mendekati sumur. Wati di antara mereka, tangannya masih dibalut perban dari luka melepuh. Winda. Beberapa keluarga korban. Mereka datang bukan untuk menghentikan Lana — mereka datang karena tak tahu lagi harus ke mana, dan karena di dalam hati mereka yang takut, mereka tahu perempuan ini sedang mencoba melakukan sesuatu yang tak pernah berani dilakukan tetua mereka.
Tanah bergetar.
Mula-mula halus, seperti truk yang lewat jauh di jalan tanah. Lalu lebih kuat. Air naik dari dalam cor beton, merembes lewat retakan, menggenang di sekeliling mulut sumur dan tak mau surut. Lana mundur selangkah, menjaga lingkaran garam yang sudah ia tabur tetap utuh. Permukaan genangan beriak meski tak ada angin.
Dan dari bawah, suara-suara mulai memanggil.
"Nduk."
Lana membeku. Itu suara ibunya. Bukan kenangan — nyata, jelas, naik dari dalam beton seolah ibunya berdiri tepat di bawah kakinya, di dasar air dingin yang gelap.
"Nduk, jangan." Suara itu memohon, lembut, penuh kasih yang tak pernah Lana rasakan sepanjang hidupnya yang ditinggalkan. "Jangan turun. Jangan jadi seperti aku. Pergi selagi bisa. Tinggalkan tempat ini. Kamu masih punya hidup di kota. Jangan—"
Lalu suara itu berubah. Bergeser. Nadanya tetap suara ibunya, tapi kata-katanya membalik.
"Nduk, ayo." Hangat, mengundang, menjanjikan. "Turun ke sini. Ibu menunggu. Bayu menunggu. Tak ada yang pergi di sini. Tak ada yang ditinggalkan. Ayo, Nduk. Pulang."
Lana menutup telinganya, tapi suara itu tak masuk lewat telinga — ia masuk lewat air, lewat kelembapan di kulitnya, lewat air mata yang mulai mengalir tanpa ia kehendaki. Jangan menangis, ia memperingatkan diri sendiri. Air mata adalah jalan. Mbah Jum sudah memperingatkannya. Tiap tetes membuka pintu lebih lebar.
Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan yang penuh garam, dan rasa perih garam di matanya membakar suara itu pergi sejenak.
"Aku tahu kamu bukan ibuku," kata Lana ke arah sumur, suaranya gemetar tapi tak patah. "Ibuku tak pernah memanggilku pulang. Ibuku menyelamatkanku dengan menjauhkanku. Kamu cuma meminjam suaranya. Seperti kamu meminjam semua suara."
Genangan beriak, marah kali ini. Air menyembur dari satu retakan, mengenai lingkaran garam, dan di tempat air menyentuh garam, terdengar desis — desis seperti daging di atas bara, dan uap anyir mengepul. Yang di bawah menjerit, bukan dengan suara, melainkan dengan getaran yang membuat gigi Lana bergemeletuk.
Garam menahannya. Untuk sekarang.
Lana menatap langit yang mulai kelabu di timur. Fajar masih jauh, tapi ia merasa waktu menipis seperti tali timba yang aus. Ia kembali pada tata letak alatnya, memeriksa tiap lingkaran, tiap potong bambu, tiap paku tua. Tangannya gemetar, tapi ia tak berhenti.
Tinggal satu hal yang belum ia lakukan.
Ia menatap joglo di belakangnya, dan rumah itu menatapnya balik, sabar, lelah, siap.