Lana berdiri di ambang pintu belakang joglo, obor mentah di tangan kanan, sekaleng minyak tanah di tangan kiri. Di dalam, gelap dan dingin, soko guru menjulang seperti empat penjaga tua yang menunggu izin untuk mati.
Ia tahu apa artinya ini. Membakar joglo bukan sekadar menghancurkan kayu dan atap. Joglo ini adalah rumah penjaga — dibangun lebih dari seabad lalu tepat di garis lurus dari Sumur Ketujuh, bukan sebagai tempat tinggal melainkan sebagai bagian dari segel. Kayunya sudah "kenal" segel, sudah menyerap kemenyan dan garam dan rajah selama tujuh generasi. Hanya api dari kayu inilah yang bisa melukai yang di bawah. Tapi menyalakannya berarti melepas satu-satunya tempat di dunia yang pernah menjadi milik keluarganya.
"Maaf, Mbah," bisik Lana pada kekosongan. Ia tak tahu apakah ia minta maaf pada Mbah Surti, pada ibunya, atau pada semua perempuan yang pernah hidup dan menderita di dalam dinding-dinding ini. "Tapi sudah waktunya kalian istirahat."
Ia menyiramkan minyak tanah ke soko guru, ke tikar pandan, ke senthong tengah yang selama ini terkunci dan menyimpan rahasia paling gelap keluarganya. Bau minyak bercampur bau kemenyan tua dan lumpur. Lalu ia melangkah mundur ke ambang pintu, menyentuhkan api obor ke jejak minyak, dan melemparkan obor ke dalam.
Api menyambar dengan kelaparannya sendiri.
Kayu jati tua yang menghitam itu menyala seolah sudah menunggu seabad untuk terbakar. Lidah api merambat naik di sepanjang soko guru, melahap ukiran, melompat ke balok-balok atap, ke usuk, ke ijuk dan genteng tua. Dalam hitungan menit, joglo berusia lebih dari seratus tahun itu menjadi pilar api yang menyala ke langit kelabu fajar, mengusir kabut yang biasanya menggantung tak mau pergi.
Dan dalam kobaran itu, Lana melihat mereka.
Mula-mula ia kira itu hanya bayangan yang dibuat api yang bergoyang. Tapi tidak — di tengah kobaran, berdiri sosok-sosok. Perempuan. Banyak. Berbaris dari yang berkebaya kuno hingga yang berdaster modern, semua menatap ke luar, ke arah Lana. Para leluhur perempuan keluarganya. Penjaga demi penjaga, generasi demi generasi, yang hidup dan mati memikul kutukan ini sendirian. Mereka semua basah — rambut mereka menetes, kebaya mereka melekat, air menggenang di kaki mereka di tengah api yang seharusnya tak menyisakan setetes pun.
Lalu Lana melihat sesuatu yang membuat napasnya tercekat di tenggorokan.
Saat api menelan rumah, satu per satu sosok itu mulai mengering. Air berhenti menetes dari rambut mereka. Daster dan kebaya mereka mengembang, ringan, kering. Wajah-wajah yang selama ini Lana lihat di album yang dilubangi paku, wajah-wajah yang menatap dari latar berisi rumpun bambu kuning dan siluet basah — kini, untuk pertama kali dalam tujuh generasi, mereka tampak kering. Lega. Bebas.
Di barisan terdepan, Lana melihat Mbah Surti.
Neneknya tak lagi tampak keras dan dingin seperti dalam ingatan masa kecil yang samar. Ia tampak lelah, sangat lelah, lelah dengan kelelahan yang menumpuk dari menahan sesuatu sendirian selama hidup. Mata tua itu menatap Lana lewat dinding api, dan untuk satu detik — Lana bersumpah ia melihatnya — Mbah Surti mengangguk. Bukan perintah. Bukan ancaman. Sebuah pelepasan. Sebuah maaf. Sebuah terima kasih.
Lalu sosok itu mengering, dan menghilang ke dalam asap yang naik bersih ke langit.
Di samping Mbah Surti, ada sosok yang lebih muda. Perempuan dengan wajah yang Lana hanya kenal dari foto buram dan ingatan setengah hilang — suara timba, tangan basah yang melepaskannya di gerbang desa bertahun lalu. Ibunya. Ia tak memanggil. Ia tak memohon. Ia hanya menatap Lana, dan tersenyum — senyum yang nyata, senyum yang bukan jebakan, senyum seorang ibu yang akhirnya bisa pergi dengan tenang karena anaknya masih hidup dan masih berdiri.
Lalu ia pun mengering, dan terangkat bersama asap.
Lana menangis sekarang, dan ia tak peduli. Biarkan air mata mengalir. Di hadapan api yang membersihkan, bahkan air matanya tak terasa seperti pintu — terasa seperti perpisahan.
Warga di kejauhan jatuh berlutut. Bukan menyembah. Berdoa. Doa yang sebenarnya, untuk pertama kalinya dalam berapa lama, doa yang tak meminta panen melimpah dengan harga nyawa, hanya doa untuk arwah-arwah yang akhirnya pulang.
Joglo runtuh dengan suara gemuruh, mengirim percikan bara ke langit. Dan dari reruntuhan yang menyala, Lana mengambil sebatang kayu yang masih membara — kayu joglo penjaga, api yang melukai yang di bawah. Ia mengangkatnya tinggi.
Sumur Ketujuh, di balik tabir panas, mulai menggeram.