Cor beton itu pecah saat api kayu joglo mendekat.
Bukan retak perlahan seperti sebelumnya — kali ini ia pecah, hancur, terbelah dari dalam dengan ledakan tertahan yang menyemburkan air hitam dan uap anyir ke udara fajar. Bongkahan beton tua bertabur garam dan paku berserakan, dan di tengahnya menganga mulut sumur — gelap, dalam, bernapas. Dari dalamnya naik dingin yang bukan dingin biasa; dingin yang masuk ke tulang dan berbisik.
Lana berdiri di tepinya, obor kayu joglo di satu tangan, lembar kidung utuh yang ditulis dengan darahnya di tangan lain. Di ikat pinggangnya tergantung kantung garam dan sebatang besi tua. Ia menatap ke bawah, ke kegelapan yang tak berdasar, dan untuk sesaat seluruh nyalinya hampir runtuh.
"Satu-satunya cara memutus siklus selamanya," ia mengulang kata-kata Mbah Jum dalam hati, kata-kata yang dibisikkan dukun tua itu sebelum tubuhnya mengering, "bukan menundanya dengan tumbal. Seorang penjaga harus turun ke dalam sumur, sukarela, membawa nama sejatinya, dan mengikat diri menjadi segel hidup."
Membawa nama sejatinya. Lana mengerti sekarang apa artinya. Bukan nama yang ditulis di KTP. Bukan Lana Pradipta, arsitek dari kota. Nama sejati adalah pengakuan tentang siapa dirinya — keturunan Eyang Kromo, cucu Mbah Surti, anak perempuan yang ditenggelamkan, penjaga ketujuh, dan wadah yang menolak diisi. Membawa nama sejatinya berarti turun ke bawah tanpa kepura-puraan, tanpa penyangkalan, sebagai dirinya yang utuh dan retak.
Ada tali timba tua tergantung di balok yang tersisa dari kerangka sumur. Lana menariknya, mengujinya. Masih kuat. Tujuh generasi tali ini menurunkan timba ke kelaparan di bawah; sekarang ia akan menurunkan penjaga terakhir.
"Lana." Suara Wati, gemetar, dari kejauhan. "Mbak Lana, jangan. Pasti ada cara lain. Kita panggil bantuan dari kota, kita—"
"Tidak ada bantuan dari kota, Wati." Lana tak berpaling. "Tidak ada cara lain. Kalau aku tidak turun, dia keluar. Dan kalau dia keluar, kota yang kalian harap menolong jadi yang pertama dia makan." Ia menelan ludah. "Jaga warga. Jangan biarkan siapa pun mendekat sumur setelah ini. Apa pun yang kalian dengar dari bawah — jangan turun. Berjanjilah."
Hening. Lalu suara Wati, pecah, "Saya janji, Mbak."
Lana melilitkan tali timba ke pinggangnya. Ia memasukkan obor kayu joglo ke dalam wadah bambu yang ia siapkan — bambu petuk yang melindungi api kecil itu dari air. Lembar kidung ia lipat dan selipkan di dada, dekat jantung. Lalu ia memanjat ke bibir sumur, kakinya menggantung di atas kegelapan.
Napas dingin naik dari bawah, dan bersamanya, suara.
Bukan satu suara. Banyak. Berbisik, memanggil, bergumam dalam bahasa kuno dan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Suara-suara dari dasar. Lana mulai turun, tali menggesek tangannya, dan di sepanjang dinding sumur yang basah dan berlumut, ia melihat — wajah-wajah.
Tercetak di dinding seperti relief yang dibuat oleh tekanan ribuan tahun. Wajah-wajah para tumbal. Mulut mereka terbuka dalam jeritan beku. Mata mereka terpejam atau terbuka kosong. Lana mengenali beberapa dari foto dan kesaksian — Karjo, pemuda yang ditemukan kering di Sumur Kulon, wajahnya di sini, di dinding, mulutnya masih penuh garam yang gagal menyelamatkannya. Gelandangan tua yang diseret Darmojo. Wajah-wajah dari generasi-generasi sebelumnya, semakin tua semakin tinggi ke dinding, sampai ke yang paling atas, yang paling lama — wajah seorang perempuan dengan kebaya kuno, wajah yang tampak begitu mirip dengan wajah Lana sendiri.
Istri Eyang Kromo. Tumbal pertama. Yang ditipu masuk ke sumur oleh orang yang ia cintai.
"Tiap dari kalian akan mencintai sebelum membunuh," Lana ingat kutukan itu, kutukan yang bergema turun-temurun. Bayu, batinnya, dengan rasa sakit yang menusuk. Aku mencintaimu. Apakah aku yang membunuhmu?
Air dingin mulai merangkak naik mengisi sumur dari bawah, atau mungkin Lana yang turun ke arahnya — ia tak bisa lagi membedakan. Setinggi betisnya. Lalu lututnya. Dingin merayap ke perut, ke dada. Dan dalam dingin itu, suara entitas membisikkan janji terakhir, lembut, mengiba, sabar tak terhingga.
"Berhenti, Nduk. Kamu tak perlu mati. Aku punya tawaran. Tawaran yang lebih baik daripada mati di sini sendirian dalam dingin. Dengarkan dulu. Hanya dengarkan."
Lana berhenti turun. Kakinya menyentuh sesuatu di bawah air — dasar, atau yang dianggap dasar. Ia berdiri di tempat air dan kegelapan bertemu, dan ia mengangkat obor bambunya yang masih menyala kecil.
Di hadapannya, air bergerak. Membentuk sesuatu.
"Dengarkan," bisik kelaparan yang sabar itu. "Sebelum kamu memutuskan."