Di dasar Sumur Ketujuh, dalam dingin yang tak punya dasar, air berkumpul dan membentuk wujud.
Mula-mula tak berbentuk — hanya gerakan dalam kegelapan, gemericik yang menyusun diri jadi tubuh. Lalu air menebal, menggumpal, dan dari permukaan hitam yang berkilau di cahaya obor kecil Lana, muncul dua sosok yang berdiri di atas air tanpa tenggelam.
Bayu.
Dan ibunya.
Lana berhenti bernapas. Ia tahu — bagian rasionalnya yang masih bertahan tahu — bahwa ini tidak nyata. Bahwa ini adalah air yang meminjam wajah, kelaparan yang memakai rupa orang yang ia cintai, seperti yang selalu dilakukannya. Tapi pengetahuan itu tak meringankan apa pun. Sebab Bayu berdiri di sana, utuh, tidak basah, tidak kering, hanya Bayu — senyum lelah yang ia kenal, mata yang berani, tangan yang dulu menggenggam tangannya di tengah kabut. Dan ibunya berdiri di sampingnya, perempuan yang tak pernah benar-benar Lana kenal, tapi yang wajahnya kini menatap dengan kasih yang seharusnya ia terima sejak kecil.
"Lana," kata Bayu. Suaranya. Persis. "Kamu datang."
"Kamu bukan Bayu," Lana memaksa kata-kata keluar. Air sudah setinggi dadanya, dingin, menyusup. "Bayu sudah diambil. Kamu cuma—"
"Aku di sini," Bayu memotong, lembut, tidak marah. "Aku tidak hilang, Lana. Aku di sini, di bawah, bersama ibumu. Kami tidak disiksa. Kami menunggu. Kami menunggu kamu." Ia mengulurkan tangan, kering, di atas air hitam. "Dengarkan tawarannya. Kumohon. Cuma sekali ini."
Suara entitas berbicara sekarang, dari mana-mana dan dari tidak ke mana, bergetar di air yang mengelilingi Lana.
"Aku menawarkan sesuatu yang tak pernah kutawarkan pada siapa pun, Nduk. Karena kamu istimewa. Kamu wadah. Kamu garis darah yang kutunggu tujuh generasi." Air beriak. "Jadi wadahku. Buka dirimu. Biarkan aku masuk. Dan sebagai gantinya — aku kembalikan mereka. Bayu. Ibumu. Hidup. Bernapas. Hangat. Kalian bertiga keluar dari sumur ini bersama, dan kalian hidup. Selamanya, kalau kamu mau. Tak ada yang pergi. Tak ada yang ditinggalkan. Tak ada lagi yang sendirian."
Tak ada yang ditinggalkan.
Kata-kata itu menusuk tepat ke luka tertua Lana — luka seorang anak yang ibunya pergi, yang ayahnya tak pernah dikenal, yang sepanjang hidup merasa selalu ditinggalkan oleh setiap orang yang ia cintai. Itu janji yang dibuat khusus untuknya. Entitas tahu. Tentu ia tahu. Ia sudah berenang di air mata Lana, di mimpi-mimpinya, di kelembapan napasnya selama berminggu-minggu. Ia tahu persis bentuk lubang di dada Lana, dan ia membentuk tawarannya persis seukuran lubang itu.
Dan untuk sesaat — sesaat yang panjang dan mengerikan — Lana hampir menerima.
Ia melihat Bayu mengulurkan tangan, dan ia merindukannya dengan kerinduan yang membuat dadanya hancur. Ia melihat ibunya tersenyum, dan ia mendambakan kasih itu dengan kedambaan seumur hidup yang tak pernah terpenuhi. Air sudah setinggi lehernya sekarang. Ia hanya perlu membuka diri. Hanya perlu berhenti melawan. Hanya perlu menyerahkan diri, dan ia tak akan pernah sendirian lagi.
Tangannya yang memegang lembar kidung mulai mengendur.
"Lana," bisik ibunya — dan suaranya begitu nyata, begitu hangat. "Ayo, Nduk. Pulang. Ibu di sini. Ibu tak akan pergi lagi."
Tangan Lana hampir melepas kidung.
Lalu ia menatap mata ibunya.
Dan di sana, di kedalaman mata yang seharusnya penuh kasih, Lana melihatnya — gerakan yang terlambat. Pantulan cahaya obor di mata itu bergerak sepersekian detik terlambat, seperti pantulan di air yang tak sinkron dengan yang dipantulkannya. Tanda yang sama. Tanda yang selalu sama. Tanda bahwa yang ia tatap bukan ibunya, bukan kasih, bukan rumah — hanya air yang meniru, kelaparan yang memakai wajah, jebakan yang dibuat sempurna kecuali satu cacat kecil yang tak bisa disembunyikan.
Air tak pernah bisa memantulkan jiwa dengan tepat waktu.
"Ibuku," kata Lana pelan, air menyentuh dagunya, "sudah pergi. Aku melihatnya pergi. Tadi. Di api. Ia mengering dan terangkat bersama asap. Ia bebas sekarang." Ia mengeratkan genggaman pada kidung, dan suaranya menguat. "Kamu tidak bisa mengembalikan mereka, karena kamu tidak pernah memiliki mereka. Mereka bukan milikmu. Mereka tidak pernah jadi milikmu."
Sosok Bayu dan ibunya gemetar, seperti pantulan di air yang terganggu batu.
Dan untuk pertama kali, suara entitas itu kehilangan kelembutannya.