Air sudah menutupi dada Lana, dingin merayap ke jantungnya, dan dua sosok di hadapannya — Bayu, ibunya — mulai meleleh kembali menjadi air hitam yang dari sana mereka dibentuk. Wajah-wajah indah itu memanjang, melebur, hilang. Dan dari air yang tersisa, naik suara yang tak lagi berpura-pura manis.
"KALAU KAU TAK MAU JADI WADAH BAIK-BAIK," gemuruh kelaparan itu, suara yang sekarang seperti banjir bandang yang menabrak batu, seperti ribuan tenggorokan yang tenggelam bersama, "MAKA AKU AMBIL PAKSA."
Air melonjak. Tangan-tangan basah naik dari kegelapan — bukan dua, bukan sepuluh, melainkan ratusan, tangan-tangan kelabu para tumbal yang tercetak di dinding, kini hidup, mencengkeram pergelangan Lana, lehernya, rambutnya, menariknya ke bawah, ke dalam, ke dasar yang tak berdasar. Kelaparan itu tak mau lagi membujuk. Ia akan merobek Lana terbuka dan masuk dengan kekerasan, mengisi wadahnya entah Lana mengizinkan atau tidak.
Inilah pilihannya. Inilah titik yang Mbah Jum bisikkan, yang Mbah Surti tulis dengan tinta merah, yang seluruh perjalanan ini menuju.
Satu jalan: menyerah. Menjadi wadah. Mungkin selamat dalam arti tertentu — tubuhnya akan tetap hidup, berjalan, bernapas. Tapi yang berjalan keluar dari sumur ini bukan lagi Lana. Itu kelaparan yang memakai kulit Lana, berjalan ke desa, ke jembatan Kali Suwung, ke kota di hilir, memakan dan memakan dan tak pernah kenyang. Ia akan kehilangan kemanusiaannya, perlahan, tiap suapan, menjadi monster yang ia takuti.
Jalan lain: memutus. Menyanyikan kidung utuh dengan darahnya. Mengikat dirinya sendiri menjadi segel hidup. Menukar nyawanya — bukan untuk menunda, melainkan untuk mengakhiri. Membebaskan garis darahnya, membebaskan Karangwungu, membebaskan kota di hilir. Harganya: dirinya, selamanya, di bawah air. Tidak mati seperti orang mati. Tidak hidup seperti orang hidup. Menjaga, dari dalam, sampai air pegunungan ini kering.
Lana memilih.
Ia menarik lembar kidung dari dadanya, kertas yang sudah basah tapi tulisan darahnya masih menyala merah gelap di air hitam. Tangan-tangan basah menariknya lebih dalam, air menutup di atas kepalanya, dan dalam dunia tanpa udara itu, Lana membuka mulutnya dan menyanyikan kidung pengunci.
Suara tak seharusnya bisa keluar di bawah air. Tapi kidung ini bukan suara biasa — ia adalah darah penjaga yang berbicara, tujuh generasi yang berbicara, segel yang berbicara. Kata-kata kuno mengalir dari mulut Lana sebagai gelembung yang naik dan, anehnya, sebagai getaran yang menusuk seluruh air. Tiap kata adalah paku. Tiap baris adalah garam. Tiap nama leluhur yang ia sebut adalah lapisan segel.
Ia menyanyikan namanya sendiri. Nama sejatinya. Penjaga ketujuh, wadah yang menolak, anak yang ditinggalkan yang memilih untuk tidak meninggalkan dunia kepada kelaparan.
Air di sekelilingnya mulai memadat. Dingin yang tadi menusuk berubah menjadi sesuatu yang lain — bukan menyiksa, melainkan menerima. Lana merasakan dirinya menjadi bagian dari air, tubuhnya melarut di tepi-tepinya, kesadarannya menyebar ke seluruh sumur, ke seluruh enam sumur warga di atas, ke seluruh lapisan air bawah tanah di bawah Karangwungu. Ia tidak hilang. Itu yang paling mengerikan dan paling menenangkan sekaligus. Ia melebur, tapi ia tetap ada. Ia akan menjaga. Dari dalam. Selamanya.
Dan kelaparan yang sabar itu — untuk pertama kali dalam tujuh generasi, dalam seabad lebih, sejak Eyang Kromo membuka jalan — merasakan dirinya dikunci oleh sesuatu yang lebih kuat darinya. Bukan tumbal. Bukan makanan. Bukan wadah. Sebuah jiwa yang menyerahkan diri bukan karena tertipu, melainkan karena memilih. Dan kehendak bebas, ternyata, adalah satu-satunya hal yang tak bisa dimakan kelaparan.
"TIDAK," gemuruhnya, melemah, tenggelam. "TIDAK. KAU MILIKKU. KAU—"
Tangan-tangan basah melepaskan Lana, satu per satu, ditarik kembali ke dinding, kembali menjadi relief beku. Wajah Karjo, gelandangan tua, ibunya, istri Eyang Kromo — Lana merasakan mereka semua, dan ia merasakan, dalam pelukan air yang kini menjadi tubuhnya, mereka akhirnya beristirahat. Bukan bebas — terkurung bersamanya selamanya. Tapi tenang. Dijaga. Tidak lagi dimakan.
Di suatu tempat, jauh di atas, ia merasakan obor kayu joglo padam saat air menutupinya. Tapi ia tak butuh lagi. Apinya sudah pindah ke dalam dirinya.