Di atas, di permukaan dunia, Wati dan warga yang tersisa merasakan tanah berguncang lebih keras dari sebelumnya.
Mereka berdiri di tepi pekarangan, di samping reruntuhan joglo yang masih mengepulkan asap bersih ke langit pagi. Sumur Ketujuh, yang mulutnya menganga sejak beton pecah, kini meraung. Bukan suara air. Suara amukan — geraman dari kedalaman yang membuat anjing-anjing di desa-desa jauh menggonggong dan burung-burung berhamburan dari hutan pinus.
"Mbak Lana!" Wati berlari ke arah sumur, tapi Winda menahannya.
"Dia bilang jangan mendekat," kata Winda, air matanya mengalir, tangannya mencengkeram lengan Wati sekuat tenaga. "Apa pun yang terjadi. Dia bilang berjanjilah."
Dari dalam sumur, air menyembur tinggi ke udara — pilar air hitam yang naik belasan meter, lalu jatuh kembali, dan dalam semburan itu, sesaat, mereka melihat bentuk-bentuk: tangan, wajah, tubuh yang menggeliat, kelaparan purba yang mencoba dengan amukan terakhirnya untuk keluar, untuk menyeret wadahnya kembali, untuk tidak dikunci.
Tapi ia tak bisa.
Sebab dari bawah, naik suara lain. Suara nyanyian. Suara Lana, menyanyikan kidung pengunci, jernih dan tenang di tengah amukan, naik dari kedalaman seperti mata air yang tak bisa dibendung. Tiap baris kidung membuat amukan itu mengecil. Tiap nama yang ia sebut menutup celah. Air hitam yang menyembur mulai jatuh kembali ke dalam dan tak naik lagi.
Lalu tanah bergerak.
Dengan gemuruh yang dalam, dinding-dinding sumur mulai runtuh ke dalam. Bukan dihancurkan dari atas — ditarik dari dalam. Batu dan tanah dan lumpur berabad-abad berguguran ke kedalaman, mengisi sumur, menutupnya, mengubur kelaparan itu di bawah berton-ton bumi pegunungan. Mulut sumur menyempit, menyempit, sampai hanya lubang sebesar timba, lalu sebesar genggaman, lalu — dengan satu hela napas terakhir bumi — menutup sepenuhnya.
Di tempat yang dulu menganga mulut Sumur Ketujuh, kini hanya ada gundukan tanah basah, beriak sekali, lalu diam.
Sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak Lana tiba di Karangwungu — untuk pertama kalinya, mungkin, sejak Eyang Kromo membuka jalan lebih dari seabad lalu — desa itu benar-benar sunyi. Bukan sunyi yang terlalu rapi, sunyi yang menyimpan ancaman. Sunyi yang lega.
Wati berlutut di tanah berlumpur, menangis. Winda di sampingnya. Di kejauhan, warga keluar dari rumah-rumah mereka satu per satu, mengintip dari balik tirai yang selama ini selalu tertutup saat magrib.
Dan sesuatu yang ajaib terjadi.
Kabut terangkat. Kabut yang selama bertahun-tahun, mungkin berabad-abad, tak pernah benar-benar hilang dari lembah Karangwungu, kabut yang turun tiap sore dan menggantung sampai siang — kini terangkat, naik ke punggung Gunung Wungu, dan untuk pertama kali matahari pagi jatuh penuh ke desa, hangat dan kuning dan bersih. Di kejauhan, di jembatan kayu, air Kali Suwung yang selama ini hitam pekat mengalir jernih, berkilau di bawah cahaya, membawa pergi sesuatu yang gelap ke hilir dan tak kembali.
Warga turun ke enam sumur mereka — Sumur Lor, Kidul, Wetan, Kulon, Tengah, Pengilon — dan menemukan airnya bersih kembali. Tak lagi bocor. Tak lagi berdarah. Air biasa. Air yang sekadar air.
Tapi malam itu, dan tiap malam sesudahnya, mereka yang berdiri dekat gundukan tanah tak bernama di belakang reruntuhan joglo akan mendengarnya.
Dari bawah tanah, lirih, terus-menerus, tak pernah berhenti — kidung. Suara Lana, menyanyikan kidung pengunci, berdengung dari kedalaman bumi seperti senandung seorang ibu yang menidurkan bayinya, terus dan terus, agar yang di bawah tetap tertidur.
Penjaga baru telah menggantikan segel. Hidup, namun tak hidup. Mati, namun tak mati. Menjaga, dari dalam, dengan suaranya sendiri.
Wati meletakkan tangannya di tanah gundukan itu. Hangat. Selalu hangat. Dan di bawah telapaknya, ia merasakan getaran kidung itu, dan ia berbisik, "Terima kasih, Mbak Lana."
Tanah beriak sekali, pelan, seolah menjawab.