Karangwungu membangun kembali, tapi tak pernah sama.
Reruntuhan joglo dibiarkan. Warga sepakat tak menyentuhnya — bukan karena takut, tapi karena hormat. Di atas abu rumah penjaga, rumput perlahan tumbuh, dan seseorang menanam kembang kantil di sudut tempat dulu senthong tengah berdiri. Gundukan tanah di belakangnya, tempat dulu Sumur Ketujuh, mereka pagari dengan bambu — bukan bambu kuning lagi, bukan pagar gaib, hanya bambu biasa, penanda agar anak-anak tak bermain di atasnya. Tak ada nisan. Tak ada nama. Hanya gundukan yang berdengung lirih bila kau cukup dekat dan cukup hening.
Para tetua yang tersisa kehilangan kuasa mereka. Tanpa Darmojo, tanpa ritual, tanpa ancaman yang di bawah, wibawa mereka luruh seperti garam dalam hujan. Beberapa pergi dari desa, malu atau takut atau keduanya. Yang tinggal menjadi tua dalam diam, jarang bicara, tak pernah lagi menyebut kata "tumbal" atau "utang" atau "yang di bawah".
Yang muda mengambil alih.
Wati, yang dulu berdiri bersama Lana di malam pengepungan joglo, menjadi semacam pemimpin tak resmi — bukan lurah, hanya seseorang yang dipercaya. Ia dan Winda dan sisa warga muda membuat satu kesepakatan, diucapkan di bawah pohon beringin balai desa, di hadapan semua yang mau mendengar: tak akan ada lagi ritual. Tak akan ada lagi tumbal. Karangwungu akan hidup atau mati seperti desa-desa lain di kaki gunung — dengan panen yang kadang gagal, dengan kemarau yang kadang panjang, dengan kematian yang wajar dan kelahiran yang wajar. Mereka memilih hidup yang fana daripada kemakmuran yang dibeli dengan darah.
"Kalau sawah kita gagal, ya kita merantau," kata Wati. "Kalau hujan tak turun, ya kita berdoa seperti orang lain. Kita tidak akan pernah lagi memberi makan sesuatu di bawah tanah supaya beras kita melimpah. Tidak akan pernah lagi. Kita berhutang itu pada Mbak Lana. Pada Bayu. Pada semua yang sudah mereka ambil."
Mereka mengangguk. Mereka berjanji. Dan untuk beberapa musim, janji itu ditepati.
Panen pertama setelah Lana turun memang biasa saja — tak melimpah seperti tahun-tahun "makmur", tapi cukup. Hujan turun di musimnya. Kali Suwung tetap jernih. Anak-anak bermain di halaman lagi, dan suatu sore, seekor anjing — anjing pertama yang berani masuk Karangwungu sejauh ingatan siapa pun — datang mengikuti rombongan pedagang dan tinggal. Warga menganggapnya pertanda baik. Hewan tak lagi menjauh. Tanah tak lagi mengusir kehidupan.
Tahun-tahun berlalu. Desa pelan-pelan melupakan, seperti desa-desa selalu melupakan. Anak-anak yang lahir setelah malam itu tumbuh tanpa pernah tahu apa yang ada di bawah gundukan tanah berdengung itu. Tembang dolanan yang dulu liriknya tentang memberi makan sumur perlahan berubah, kata-katanya bergeser dari mulut ke mulut, sampai tinggal lagu anak-anak biasa yang tak berarti apa-apa.
Lalu datang kemarau pertama yang benar-benar panjang.
Tiga bulan tanpa hujan. Langit kelabu tapi kering, kabut yang tak pernah turun jadi hujan. Sawah merekah. Dan suatu pagi, seorang warga yang menimba di Sumur Kidul mendapati timbanya naik setengah penuh — lalu seperempat — lalu, pada hari ketujuh kemarau, naik kosong. Sumur Kidul mengering.
Tak ada yang panik. Sumur mengering di musim kemarau adalah hal biasa di desa pegunungan. Mereka beralih ke sumur lain, mereka mengangkut air dari mata air di hulu. Hal yang wajar. Hal yang manusiawi.
Tapi malam itu, di rumah dekat Sumur Kidul, seorang anak perempuan berumur tujuh tahun — cucu dari salah satu warga, lahir bertahun setelah malam itu, tak tahu apa-apa — terbangun dari mimpi.
Ia mimpi menimba air. Dari sumur yang dalam dan gelap. Dan saat timbanya hampir penuh, ia menunduk untuk melihat ke dasar, dan dari dasar yang gelap itu, sesuatu menatapnya balik.
Anak itu menangis. Ibunya datang, menenangkannya, mengira itu mimpi buruk biasa anak-anak. Ia mengusap kening anaknya, dan tak menyadari — atau tak mau menyadari — bahwa telapak tangan anaknya, yang ia genggam erat, berbau samar seperti lumpur sumur.
Bau yang tak hilang dicuci.
Di belakang reruntuhan joglo, di bawah gundukan tanah tak bernama, kidung Lana terus berdengung. Tapi malam itu, untuk pertama kali sejak sumur menutup, dengungnya tersendat sesaat — seperti seseorang yang menahan napas, mendengarkan sesuatu yang ia harap tak pernah ia dengar lagi.
Lalu kidung itu berlanjut, lebih keras, lebih mendesak. Menjaga. Selalu menjaga.
Kelaparan tak pernah mati. Ia hanya tertidur. Dan kemarau, selalu, membuatnya lapar.