Bertahun-tahun kemudian, sebuah mobil menyusuri jalan tanah berkelok menembus kabut menuju Karangwungu.
Kabut sudah kembali. Tak setebal dulu, tak setiap hari — tapi ia kembali, turun tiap sore di lembah sempit kaki Gunung Wungu, menggantung di atas Kali Suwung yang, di musim-musim tertentu, airnya kembali menggelap. Tak ada yang ingat persis kapan itu mulai. Perubahan datang perlahan, seperti air yang merembes, sehingga tak ada yang bisa menunjuk hari pertamanya.
Mobil itu nyaris terperosok di jembatan kayu, persis seperti yang pernah terjadi pada seseorang, bertahun-tahun lalu, dalam cerita yang sudah jadi dongeng yang setengah dilupakan. Yang menyetir adalah seorang gadis muda — dua puluhan, dari kota, rasional, skeptis, lelah oleh hidup yang kandas dan ingin cepat selesai dengan urusan ini lalu pergi. Ia datang mengurus warisan: rumah neneknya yang baru wafat, di desa terpencil yang nyaris tak ada di peta.
Warga menyambutnya ramah. Ramah-dingin. Mata mereka menyimpan sesuatu yang tak ia mengerti.
Ia menamatkan urusan administrasi, mengurus pemakaman, dan pada suatu sore, didorong rasa penasaran atau didorong sesuatu yang lain, ia berjalan ke belakang tanah warisannya — melewati reruntuhan tua yang sudah ditumbuhi rumput dan kembang kantil, ke sebuah gundukan tanah yang dipagari bambu lapuk. Tak ada nisan. Tak ada nama. Hanya gundukan, dan kehangatan yang aneh memancar darinya meski sore itu dingin.
Gadis itu berdiri di atas gundukan. Ia tak tahu mengapa kakinya membawanya ke sini. Ia tak tahu apa pun tentang sumur, tentang tumbal, tentang penjaga, tentang segel hidup. Cerita itu sudah lama tenggelam, dikubur bersama orang-orang yang tahu, dilupakan oleh orang-orang yang ingin lupa.
Lalu ia mencium baunya.
Lumpur. Lumpur sumur, basah dan anyir, naik dari telapak tangannya sendiri. Ia mengangkat tangannya, menatapnya bingung. Ia tak menyentuh apa pun yang kotor. Ia menggosokkan tangannya ke roknya, tapi baunya tetap. Aneh, pikirnya. Ia akan mencucinya nanti di rumah.
(Bau yang tak hilang dicuci. Tapi ia belum tahu itu.)
Dan dari bawah, dari kedalaman tanah hangat di bawah kakinya, ia mendengar sesuatu.
Sebuah suara. Lembut. Perempuan. Memanggil namanya — namanya, yang seharusnya tak diketahui siapa pun di desa ini, yang baru ia ucapkan pada notaris pagi tadi. Suara itu tahu namanya, dan memanggilnya dari bawah tanah, dengan nada yang ia tak bisa pastikan: memperingatkan, atau memanggil. Ngeri, atau rindu. Berkata "pergi", atau berkata "datang". Ia tak bisa membedakan. Tak ada yang pernah bisa.
"Lari," mungkin kata suara itu. Atau, "Pulang."
Gadis itu menggigil, mundur selangkah dari gundukan, dan menatap ke bawah, ke tanah yang berdengung lirih. Untuk sesaat ia berpikir untuk lari. Untuk masuk mobil, menyetir kembali melewati jembatan, dan tak pernah kembali.
Tapi kabut sudah menebal di belakangnya. Dan jembatan, ia akan segera tahu, selalu punya cara untuk "rusak" pada saat yang tepat.
Di bawah tanah, Lana — atau yang dulu Lana, yang kini setengah air dan setengah kidung, yang menjaga selama bertahun-tahun dengan suaranya sendiri sampai suaranya menjadi bagian dari tanah dan air — merasakan gadis itu berdiri di atasnya. Merasakan garis darah. Merasakan, dengan rasa ngeri yang tak pernah pudar dalam keabadian basahnya, bahwa kelaparan di bawahnya juga merasakannya. Bahwa kemarau-kemarau telah menipiskan segel. Bahwa di suatu tempat di kedalaman yang lebih dalam dari tempat ia mengikat diri, sesuatu yang sabar membuka satu mata.
Segel hidup menahan. Ia masih menahan. Ia akan terus menahan selama ia bisa.
Tapi kelaparan tak pernah mati. Ia hanya, seperti namanya selalu — Sing Ngenteni, Yang Menunggu — menunggu. Menunggu kemarau berikutnya. Menunggu segel melemah. Menunggu garis darah pulang.
Dan satu garis darah baru kini berdiri di atas gundukan, telapaknya berbau lumpur, namanya dipanggil dari bawah, kabut menutup di belakangnya, dan jalan pulang — seperti selalu di Karangwungu — perlahan menutup.
Dari bawah tanah, kidung berlanjut.
Dan jauh, jauh di bawah kidung, di kedalaman yang tak terjangkau cahaya mana pun, setetes air menetes ke dalam kegelapan yang menunggu —
dan sesuatu, dengan sabar tak terhingga, tersenyum.