Malamnya, pesan Nara datang setelah aku selesai mencuci kuas.
"Aku sudah sampai. Ayah menjemput. Besok kami bicara."
Aku mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Akhirnya kukirim, "Terima kasih sudah kabari. Semoga pembicaraannya berjalan baik. Istirahat dulu."
Ia menjawab dengan tanda jempol dan satu kalimat, "Aku juga nggak mau menghilang lagi."
Aku meletakkan ponsel di meja. Ibu melihat dari pintu dapur.
"Temanmu?"
"Iya. Dia sudah sampai Jakarta."
"Bagus. Kalau orang pergi, setidaknya keluarganya tahu dia selamat."
Ibu tak mengajukan pertanyaan lain. Namun wajahnya membuatku sadar bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang bukan Nara. Sejak ayah kehilangan pekerjaan, setiap kabar tentang orang pergi membawa arti lain di rumah ini.
"Ayah tadi ngomong soal kerjaan," kataku.
Ibu mengeringkan tangan dengan lap. "Dia juga sering bicara begitu kepadamu?"
"Belum. Cuma menyuruhku menepati janji dan menyelesaikan pekerjaan."
"Dia dulu juga selalu berangkat pagi. Setelah pabrik tutup, dia seperti kehilangan alasan untuk bangun." Ibu menunduk. "Aku kadang marah karena dia diam saja. Kadang aku tahu aku marah karena takut uang kita habis."
Aku ingin membela ayah atau ibuku, tetapi keduanya tidak sedang meminta pembelaan. Aku hanya duduk di kursi dapur dan mendengarkan. Di ruang depan, suara televisi ayah terdengar kecil.
"Kalau aku pulang terlambat karena kerja, bilang saja," kataku. "Aku bisa bantu belanja mingguan. Tapi aku belum bisa memberi banyak."
Ibu mengangguk. "Aku tidak minta banyak. Aku cuma ingin kamu bilang kalau ada rencana. Jangan membuat rumah menebak-nebak."
Kalimat itu serupa dengan yang kuucapkan kepada Nara. Barangkali aku baru memahami betapa beratnya menunggu kabar dari seseorang yang diam.
Pagi berikutnya, aku menerima telepon dari pemilik toko fotokopi. Papan nama yang kukerjakan perlu dipasang sebelum akhir pekan. Bayarannya tidak besar, tetapi cukup untuk menutup uang bensin dan sebagian belanja. Aku mengatur ulang jadwal mural kecil yang kutunda dan menyampaikan perubahan kepada pelanggan. Satu orang mengomel; yang lain menyetujui. Dunia kerja lepas memang tidak punya ruang tunggu yang sopan.
Ketika berhenti makan siang di warung Pak Ujang, aku membuka buku hitam pemberian Nara. Halaman pertama masih berisi kalimat tentang kehilangan Dimas. Di halaman berikutnya kutulis tanggal dan satu paragraf tentang ayah yang duduk di teras, tetapi kuhentikan sebelum kalimatnya berubah menjadi kesimpulan. Aku belum tahu apa yang ia pikirkan. Aku hanya tahu apa yang kulihat.
Pak Ujang duduk di bangku seberang. "Nulis lagi?"
"Nyoba."
"Jangan buru-buru bikin orang jadi tokoh baik atau jahat. Hidup sering lebih berantakan daripada itu."
Aku menutup buku. "Saya belum tahu mau menulis tentang siapa."
"Kalau begitu, tulis yang kamu lihat dulu. Nanti kamu tahu mana yang bukan hakmu."
Nasihat itu tinggal di kepalaku ketika ponsel bergetar. Pesan Nara tiba: "Ayah ngajak bicara besok pagi. Aku bilang aku mau lihat catatan utang dulu. Dia tersinggung, tapi akhirnya setuju mencari berkasnya."
Aku mengetik, "Kamu sudah tahu apa yang ingin kamu katakan?"
Balasannya datang beberapa saat kemudian. "Aku mau bilang aku pulang karena keluarga, bukan karena setuju dijadikan jawaban untuk utang. Aku belum tahu setelah itu bagaimana."
Aku ingin menuliskan sesuatu yang menyemangati, tetapi tak mau membuatnya merasa harus kuat demi aku. "Katakan sesuai yang kamu yakini sekarang. Kamu nggak harus menyelesaikan semuanya besok."
Nara hanya membalas, "Iya."
Sore itu ayah duduk di teras ketika aku pulang membawa papan yang baru selesai dicat. Aku menaruhnya di dinding agar kering, lalu duduk beberapa langkah darinya.
"Kerjaannya selesai?" tanyanya.
"Hampir. Besok dipasang."
"Bayarannya?"
"Setengah setelah dipasang, sisanya pekan depan."
Ayah mengangguk pelan. "Jangan habiskan uang sebelum diterima."
"Siap."
Ia kembali menatap jalan. Aku menunggu, tapi ia tak menambah apa-apa. Dulu aku menganggap diamnya sebagai penolakan. Sekarang aku mulai bertanya apakah diam itu satu-satunya cara yang ia punya untuk mengakui bahwa hidupnya berubah.
Malam itu Nara mengirim pesan singkat bahwa pertemuan dengan ayahnya dimulai pagi. Aku membalas bahwa aku akan bekerja dan tidak bisa terus melihat ponsel, tetapi ia boleh mengabariku setelahnya. Ia menjawab, "Aku ngerti. Kamu selesaikan kerjaanmu."
Aku menyimpan ponsel dan membuka buku. Di bawah kalimat pertama, kutulis satu lagi: "Orang yang pergi kadang sedang mencoba kembali dengan cara yang lebih jujur."
Kali ini aku tak menulis nama Nara. Kalimat itu bukan janji tentang kami. Itu hanya pengingat tentang pilihan yang baru saja ia buat: menjawab panggilan, datang ke Jakarta, dan menghadapi ayahnya tanpa menyerahkan hidupnya sebagai pembayaran.
Setelah mengirim pesan, aku berjalan pulang melewati pasar. Seorang pedagang memanggilku untuk menanyakan apakah aku bisa mengecat ulang papan kiosnya bulan depan. Aku meminta ia mengirim ukuran dan perkiraan biaya bahan sebelum aku menyanggupi. Dulu aku akan langsung berkata iya karena takut kehilangan pekerjaan. Sekarang aku mencoba menghitung lebih dulu, memastikan uang dan waktuku tidak hanya menjadi janji.
Di rumah, ayah sedang memperbaiki gagang kursi. Aku duduk di sebelahnya dan membantu memegang obeng. Ia bertanya apakah Nara sudah berangkat. Aku menjawab ia sedang menuju Jakarta. Ayah tidak menanyakan siapa Nara bagiku. Ia hanya berkata, "Kalau orang mau pulang untuk bicara, dengarkan dulu. Jangan langsung menyuruh dia tinggal."
Aku menoleh, heran mendengar kalimat itu darinya. Ayah mengangkat bahu. "Dulu waktu Ibumu pindah ke sini, aku juga nggak tahu apakah dia akan betah. Orang perlu memilih sendiri." Setelah itu ia kembali bekerja. Aku ingin menanyakan apakah ia sedang bicara tentang dirinya, tetapi kutahan. Mungkin suatu saat ia akan bercerita kalau memang ingin.
Ibu kemudian bertanya apakah besok aku sempat mengantar ayah ke bengkel. Aku melihat jadwal di ponsel, lalu menyanggupi setelah memasang papan. Ibu menulis jamnya di kertas belanja. Tak ada ucapan terima kasih yang panjang, hanya gerakan kecil yang membuatku merasa mulai dipercaya mengatur waktuku.
Aku menghitung ulang uang di dompet dan mencatat belanja yang bisa kutunda, bukan untuk menyalahkan ibu, tetapi agar ia tahu aku ikut memikirkan rumah.