Pagi datang lebih cepat daripada yang kuinginkan.
Aku baru saja menyapu halaman ketika ponselku bergetar. Nomor Nara muncul di layar, kali ini disertai namanya yang tersimpan setelah ia meminta nomorku di stasiun semalam. Aku menjawab sebelum dering kedua.
"Aku jadi berangkat siang," katanya. "Om mengantar sampai terminal. Tiketnya sudah dibeli."
"Sudah bicara sama ayahmu?"
"Pesan singkat. Dia bilang tunggu di rumah. Aku bilang aku datang untuk bicara, bukan untuk menyetujui apa pun." Suaranya terdengar lebih tegak, tapi masih rapuh. "Aku ingin ketemu sebentar sebelum berangkat. Kalau kamu nggak sibuk."
Aku melihat kuas dan papan toko yang harus selesai. "Aku bisa mampir sebelum ke tempat kerja. Tapi cuma sebentar. Pesanan ini terlambat dua hari."
"Aku nggak mau bikin kamu kehilangan pekerjaan."
"Kamu nggak bikin. Aku yang harus berhenti menunda."
Kami sepakat bertemu di depan warung Pak Ujang, dekat jalan utama. Ibu mengamati ketika aku mencuci tangan dan mengambil jaket.
"Kerjaanmu sudah jelas?" tanyanya.
"Sudah. Aku cuma mampir sebentar."
Ibu menghela napas, bukan marah, lebih seperti orang yang berusaha memilih kata. "Jangan sampai semua yang belum tentu membuat kamu melupakan yang sudah ada di rumah."
Aku menunduk. "Aku tahu, Bu. Aku berangkat kerja setelah itu."
Ayah tetap duduk di teras, memandangi jalan. Ia tidak ikut bertanya tentang Nara, tetapi saat aku menyalakan motor, ia berkata, "Kalau punya janji, tepati. Kalau punya kerjaan, selesaikan."
Nasihatnya terdengar sederhana. Aku mengangguk dan berangkat.
Nara sudah menunggu di warung. Secangkir teh hangat berada di depannya. Pak Ujang sibuk menyusun gelas di rak, memberi kami ruang tanpa pura-pura tidak memperhatikan.
"Aku nggak tahu harus bilang apa," kata Nara.
"Kalau begitu nggak usah bilang apa-apa dulu."
"Aku takut nanti ayah menganggap kepulanganku berarti aku menyerah."
"Semalam kamu sudah bilang apa yang kamu mau."
"Orang bisa berubah pikiran."
"Betul. Tapi berubah pikiran juga pilihanmu. Bukan sesuatu yang harus kamu lakukan supaya orang lain tenang."
Nara mengaduk tehnya. "Aku nggak mau menikah cuma karena utang. Tapi kalau aku menolak, keluarga tetap harus menghadapi akibatnya. Aku belum tahu apa yang bisa kubantu."
"Ya cari tahu satu-satu. Jangan bayar sesuatu yang bahkan belum jelas jumlahnya."
Ia mengangkat wajah. "Kamu bicara seperti orang yang pernah membaca buku keuangan."
"Aku pernah membaca tagihan listrik. Isinya cukup menegangkan."
Ia tersenyum, lalu tertawa kecil. Pak Ujang menoleh sambil berpura-pura sedang mencari sesuatu di rak.
"Aku ingin minta maaf," kata Nara setelah tawanya reda. "Waktu aku menghilang beberapa hari, aku membuat om panik. Kamu juga mungkin bertanya-tanya. Aku takut pulang dan takut tinggal, jadi aku berhenti mengabari semua orang."
"Aku memang bertanya-tanya," kataku. "Tapi kamu nggak harus menjelaskan semuanya pagi ini. Yang penting sekarang kamu sudah memberi tahu orang-orang yang perlu tahu."
"Aku nggak ingin melakukan itu lagi."
"Kalau nanti perlu sendiri, bilang saja perlu sendiri. Jangan bikin orang menebak apakah kamu aman."
Ia diam sebentar. "Kamu juga begitu. Kalau sedang nggak baik-baik saja, jangan cuma menghilang ke sungai."
Kalimat itu membuatku teringat Dimas dan malam-malam yang kulewati sendirian. Aku mengangguk. "Aku usahakan."
Kami berjalan sampai ujung jalan. Dari sana, Nara akan dijemput omnya untuk berangkat ke terminal. Aku menawarkan mengantarnya, tetapi ia menggeleng.
"Om sudah menunggu. Kamu punya kerjaan."
"Kalau aku ikut sampai terminal, aku masih bisa menyelesaikan papan sore nanti."
"Raka." Ia menatapku sungguh-sungguh. "Aku nggak mau kamu mengorbankan penghasilan hanya karena aku pergi. Kita belum tahu apa-apa tentang nanti."
Aku tak menyangka ia akan mengatakan hal yang selama ini kutakutkan sekaligus kubutuhkan.
"Kamu benar," jawabku. "Aku antar sampai mobil ommu saja. Setelah itu aku kerja."
Di tepi jalan, mobil omnya berhenti. Nara membuka pintu, lalu menoleh sekali lagi.
"Kalau aku sudah sampai, aku kabari."
"Aku tunggu kabarnya. Bukan berarti aku menunggu kamu mengubah keputusan."
Ia tampak memahami perbedaannya. "Aku tahu."
Aku mengulurkan buku yang ia berikan padaku. Aku belum menulis banyak, hanya beberapa kalimat. "Ini tetap aku bawa. Aku cuma mau bilang, aku akan mulai sungguhan."
"Bagus. Jangan menulis karena merasa harus membuktikan sesuatu kepadaku."
"Aku akan coba menulis karena memang ada yang harus kutulis."
Nara masuk ke mobil. Omnya menyapaku dari balik kemudi dan berterima kasih. Aku membalas salam. Mobil itu bergerak, membawanya menuju terminal dan kemudian Jakarta. Kali ini kepergiannya bukan kabur. Ia tahu ke mana ia pergi dan apa yang hendak ia bicarakan.
Aku kembali ke warung. Pak Ujang menyodorkan kopi yang belum kubayar.
"Yang ini jangan nyusul terlalu lama," katanya.
"Akan saya bayar setelah papan selesai."
"Bagus. Jangan sampai semua orang di kota ini hidup dari janji."
Aku membawa kopi ke motor, lalu menuju toko fotokopi. Papan nama menungguku dengan lapisan cat yang belum kering. Siang itu aku bekerja sampai tangan pegal. Ada bagian diriku yang ingin duduk diam dan membayangkan Nara di jalan menuju Jakarta. Tapi aku tak menjadikan bayangan itu alasan untuk meninggalkan pekerjaan.
Sore menjelang, sebuah pesan masuk: Nara sudah sampai terminal dan sedang menunggu keberangkatan. Ia menulis bahwa ayahnya sudah diberi tahu ia akan datang. Aku menjawab singkat: hati-hati, makan sebelum berangkat. Ia membalas dengan foto teh dalam gelas kertas.
Aku tersenyum, lalu meletakkan ponsel dan kembali mengecat. Di rumah, tagihan tetap menunggu, ayah tetap diam, dan ibuku tetap menghitung belanja. Tidak ada yang selesai karena Nara pergi. Tidak ada pula yang selesai karena aku mulai menyukainya.
Pemilik toko fotokopi memeriksa papan nama dari jarak beberapa langkah. Ia menunjuk satu huruf yang menurutnya terlalu rapat. Aku menawarkan memperbaikinya sebelum dipasang, meskipun itu berarti mengulang satu lapis cat. Ia mengangguk dan berkata pembayaran sisanya baru bisa diberikan setelah papan terpasang. Aku tidak menyukainya, tetapi menuliskan kesepakatan itu di nota agar kami sama-sama tahu. Saat meninggalkan toko, aku sadar kerja lepas bukan cuma soal melukis; kadang aku harus belajar menegosiasikan waktu dan upah tanpa malu meminta kejelasan.
Di rumah, ibu menyimpan daftar belanja di meja. Aku menyerahkan uang yang kuterima sebagai uang muka dan menjelaskan sisanya baru masuk pekan depan. Ibu mencoret beberapa barang dari daftar, bukan dengan kesal, melainkan dengan hitungan yang biasa dilakukan setiap hari. Aku menawarkan mengambil beras di warung setelah kerja. Ia berkata bisa sendiri, tetapi menerima tawaranku untuk mengantar ayah ke bengkel minggu depan. Ayah mendengar percakapan itu dari teras, lalu berkata motornya masih bisa dipakai. Ibu menjawab bahwa bisa dipakai tidak sama dengan tak perlu diperiksa. Mereka beradu kata sebentar, kemudian sama-sama tersenyum tipis. Aku melihat rumah ini masih punya percakapan, meski tak selalu mudah.