Kereta masih bergerak ketika aku akhirnya menemukan suara untuk memecah diam.
"Besok kamu benar-benar ke Jakarta?"
Nara tidak langsung menjawab. Ponselnya tergeletak di pangkuan, layarnya sudah padam setelah panggilan ketiga. Tadi, selama perjalanan pulang, ia hanya memegang benda itu seperti seseorang yang sedang menimbang apakah sebuah pintu layak dibuka.
"Sepertinya," katanya. "Ayah menelepon lagi."
"Belum kamu angkat?"
Ia menggeleng. "Aku takut kalau aku dengar suaranya, aku langsung merasa harus menyetujui semua yang dia minta."
"Apa yang dia minta?"
Nara memandang jendela. Sawah gelap melintas dalam potongan-potongan, disela lampu rumah yang jarang. "Pulang. Bicara soal pernikahan itu. Dia bilang keadaan nggak bisa dibiarkan menggantung."
Aku ingin bertanya apakah ia masih berniat menikah. Pertanyaan itu terasa tidak adil. Jawabannya bukan milikku, dan malam ini ia sudah memikul terlalu banyak hal untuk menenangkan rasa takutku.
Ponselnya kembali bergetar. Nama yang sama menyala di layar.
Nara menarik napas. "Kalau aku nggak jawab, dia akan terus menelepon Om. Aku nggak mau omku ikut menanggung ini."
Ia menekan tombol hijau dan mendekatkan telepon ke telinga.
"Halo, Yah."
Suara dari seberang tidak terdengar jelas bagiku, hanya serpihan yang membuat bahunya kaku. Nara mendengarkan tanpa menyela. Matanya tertuju pada pantulan wajah sendiri di jendela.
"Aku dengar," katanya. "Besok aku pulang ke Jakarta."
Jeda.
"Bukan berarti aku sudah setuju menikah."
Jeda lagi. Jemarinya mengencang di tepi ponsel.
"Aku mau tahu keadaan usaha dan utangnya. Yang benar-benar tercatat, bukan cuma yang orang bilang bisa selesai kalau aku menikah."
Suara ayahnya meninggi, lalu berhenti. Aku menahan diri untuk tidak bertanya. Nara tak membutuhkan aku menjadi penerjemah atau pembela.
"Aku nggak kabur lagi," katanya pelan. "Tapi aku juga nggak akan menjawab sebelum kita bicara baik-baik. Aku akan datang besok. Tolong jangan minta aku berjanji lewat telepon."
Ia mendengarkan cukup lama, sesekali mengangguk meskipun ayahnya tak bisa melihat.
"Iya. Aku tahu Ayah sakit. Aku akan datang. Tapi soal pernikahan tetap harus dibicarakan terpisah dari utang."
Setelah panggilan berakhir, ia menurunkan ponsel dan memejamkan mata. Tidak ada tangis. Hanya letih yang kembali terlihat.
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku.
"Belum tahu." Ia memasukkan ponsel ke tas. "Tapi setidaknya sekarang dia tahu aku akan pulang. Aku nggak mau menghilang lagi cuma karena takut mendengar jawabannya."
Aku mengangguk. "Itu sudah lebih jelas daripada ‘mungkin besok’."
"Jangan bikin aku ketawa. Nanti aku berubah pikiran dan turun di stasiun berikutnya."
"Kalau begitu aku harus serius." Aku menatap lurus ke depan. "Perjalanan ini masih panjang. Kita belum sampai."
Nara tertawa kecil, lalu diam lagi. Kali ini diamnya tidak terasa seperti pintu tertutup. Ia baru saja melakukan sesuatu yang menakutkan, dan aku tak perlu mengubahnya menjadi pidato tentang keberanian.
"Raka," katanya setelah beberapa menit. "Kamu marah kalau besok aku pergi?"
"Aku sedih mungkin." Aku memilih kata-kataku perlahan. "Tapi aku nggak marah. Kamu pulang karena ada hal yang harus kamu hadapi."
"Kalau aku lama di Jakarta?"
"Aku tetap harus mengecat papan yang belum selesai. Ibu juga tetap akan tanya kapan aku dibayar."
Senyumnya kembali muncul. "Jawabanmu selalu berhasil merusak suasana."
"Lebih baik suasananya rusak daripada kamu merasa harus mengurus perasaanku juga."
Ia memandangku, lebih lama dari biasanya. Aku merasakan kalimat yang berputar di dada, tetapi belum sanggup membiarkannya keluar. Aku menyukainya. Mungkin jauh lebih dari yang aman bagiku. Namun perasaan itu belum memberiku hak atas arah hidupnya.
Kereta memperlambat laju. Pengumuman stasiun terdengar samar. Nara mengemasi tasnya, memeriksa tiket dan dompet. Aku membantu mengangkat satu tas ke rak tanpa bertanya apakah ia akan tinggal di Jakarta selamanya.
Saat pintu terbuka di stasiun tujuan kami, udara malam menyambut dengan bau besi dan hujan lama. Kami turun bersama penumpang lain. Di peron, om Nara sudah menunggu di dekat pintu keluar. Ia melambaikan tangan, wajahnya tampak lega melihat keponakannya datang dengan kabar yang jelas.
Nara menyapanya. "Om, besok aku ke Jakarta. Ayah sudah tahu."
Omnya menatapnya, lalu mengangguk. "Kita bicarakan pagi-pagi. Kamu istirahat dulu malam ini."
Ia menoleh kepadaku. "Terima kasih sudah menemani dia."
Aku mengangguk. "Kami satu kereta."
Nara tertawa kecil. "Dia memang selalu mengecilkan hal-hal yang penting."
Aku tak tahu apakah kalimat itu ditujukan kepadaku atau sekadar cara menutup percakapan. Omnya mengantar Nara ke mobil. Sebelum masuk, Nara menoleh.
"Aku kabari kalau sudah tahu jam berangkat."
"Kabari ommu juga," kataku.
"Aku akan kabari kamu."
Om Nara bertanya apakah aku sudah lama mengenal keponakannya. Aku menjawab baru beberapa pekan. Ia tampak lega karena aku tidak mengaku tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya. "Nara sedang melewati masa sulit," katanya. "Kalau dia minta ruang, beri ruang. Kalau dia minta ditemani, temani. Jangan putuskan untuknya." Aku mengangguk. Nasihat itu tidak terasa sebagai larangan, melainkan pengingat bahwa kedekatan bukan kepemilikan.
Aku menyimpan kalimat itu tanpa mencoba menambah makna. Mobil bergerak meninggalkan peron. Aku pulang dengan motor tua, membawa kesedihan yang belum punya nama, dan satu kelegaan kecil: malam ini Nara tidak menghilang.
Nara merapatkan tas ke tubuh. "Aku dulu juga begini kalau harus pergi dari rumah. Selalu merasa kalau melangkah keluar, berarti aku meninggalkan orang yang sedang kesulitan."
"Kamu bisa pulang dan tetap punya batas," kataku. "Dua hal itu nggak saling membatalkan."
Ia menatapku. "Kamu yakin?"
"Nggak. Tapi aku tahu kamu nggak harus menyelesaikan semua utang sendirian. Kamu juga nggak harus memilih pernikahan untuk membuktikan sayang pada ayahmu."
Nara menunduk, mengusap sudut ponselnya. "Waktu Ibu masih ada, dia sering bilang rumah bukan tempat yang harus kita bayar dengan hidup sendiri. Aku baru mengerti setelah dia nggak ada."
Aku tidak menjawab dengan kalimat yang terdengar bijak. Aku hanya duduk di sampingnya sampai pengumuman stasiun menandakan kami hampir tiba. Kadang menemani berarti membiarkan seseorang mengingat tanpa buru-buru menutup ingatannya dengan harapan.