Ada orang yang takut gelap.
Ada yang takut kehilangan.
Namun yang paling menyedihkan adalah orang yang takut merasa bahagia.
Karena mereka tahu...
kebahagiaan sering kali hanya menjadi jeda sebelum kehidupan kembali mengambil sesuatu.
---
Sejak malam itu, aku mulai menulis.
Bukan setiap hari.
Hanya setiap kali Dimas datang dalam mimpi.
Atau setiap kali hujan turun di Majalaya.
Di halaman pertama buku pemberian Nara, kutulis satu nama.
Dimas Pradana.
Di bawahnya, kutambahkan kalimat kecil.
"Untuk orang yang terlalu kuat di mata semua orang."
Aku menutup buku itu perlahan.
Menulis ternyata bukan soal merangkai kata.
Menulis adalah keberanian membuka luka yang selama ini sengaja kita bungkus rapi.
---
Pagi itu, ponselku bergetar.
Pesan dari Nara.
«"Kalau lagi nggak sibuk, temenin aku ke suatu tempat."»
Aku tersenyum tanpa sadar.
Mungkin beginilah rasanya menunggu seseorang.
Satu pesan sederhana saja sudah mampu memperbaiki hari yang berantakan.
---
Kami bertemu di depan Stasiun Cicalengka.
"Aku kira kita bakal ke Bandung," kataku.
Nara menggeleng.
"Nggak."
"Lalu?"
"Aku cuma pengen naik kereta."
"Ke mana?"
"Ke mana saja."
Aku tertawa.
"Kamu memang suka jalan tanpa tujuan."
"Kadang..."
ia menatap rel yang memanjang.
"...tujuan membuat orang lupa menikmati perjalanan."
---
Kereta datang dengan suara berderit.
Kami duduk berdampingan.
Di luar jendela, sawah, rumah-rumah kecil, dan langit yang mulai mendung bergerak perlahan.
"Aku dulu sering naik kereta sama ibu."
Suara Nara pelan.
"Waktu kecil?"
"Iya."
"Ayah nggak ikut?"
Ia menggeleng.
"Ayah selalu sibuk."
Aku tidak bertanya lagi.
Ada jeda yang terlalu sunyi untuk diisi.
---
"Aku iri sama kamu."
Kalimat itu mengejutkanku.
"Sama aku?"
"Iya."
"Apa yang bisa diiriin dari orang yang hidupnya pas-pasan?"
Nara tersenyum tipis.
"Kamu bebas."
Aku tertawa kecil.
"Bebas dari apa?"
"Semua."
Aku menggeleng.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Orang miskin itu bukan bebas."
"Lalu?"
"Kami cuma nggak punya cukup pilihan."
Nara memandang ke luar jendela.
Mungkin ia sedang mencerna kalimatku.
Atau mungkin ia baru sadar...
bahwa kemiskinan bukan hanya soal uang.
Kemiskinan juga berarti tidak bisa memilih hidup yang kita inginkan.
---
Kereta berhenti di sebuah stasiun kecil.
Kami turun.
Berjalan menyusuri jalan desa.
Udara terasa segar.
Anak-anak bermain bola tanpa alas kaki.
Seorang nenek menjajakan pisang rebus.
"Lucu ya."
Nara memandang anak-anak itu.
"Apa?"
"Mereka kelihatan bahagia."
Aku tersenyum.
"Karena mereka belum kenal cicilan."
Nara terkekeh.
"Sinis."
"Realistis."
Kami tertawa bersama.
Sudah lama aku tidak tertawa tanpa merasa bersalah.
---
Menjelang sore, kami duduk di pematang sawah.
Langit mulai berubah jingga.
Angin bertiup pelan.
"Aku boleh nanya?"
Kataku.
"Boleh."
"Kamu bahagia?"
Ia diam.
Lama sekali.
Hingga aku hampir mengira ia tidak akan menjawab.
"Aku lupa rasanya."
Jawaban itu membuat dadaku sesak.
"Lupa?"
"Iya."
"Aku selalu takut."
"Takut apa?"
"Kalau aku bahagia hari ini..."
"...berarti besok hidup bakal ngambil sesuatu lagi."
Aku tidak langsung menjawab.
Karena aku juga pernah merasakan hal yang sama.
Setelah Dimas pergi...
aku mulai takut tertawa terlalu keras.
Takut semesta menganggap hidupku sudah cukup bahagia.
Lalu mengambil seseorang lagi.
---
"Nara."
"Hm?"
"Kalau suatu hari nanti..."
"Apa?"
"...kita nggak sengaja saling jatuh cinta..."
Ia langsung menoleh.
"...jangan buru-buru percaya."
Ia mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena cinta sering datang membawa harapan."
"Lalu?"
"Harapan adalah cara paling sopan yang digunakan hidup untuk mengajari manusia kecewa."
Nara memukul lenganku pelan.
"Kamu nyebelin."
"Aku serius."
"Aku juga."
Ia tersenyum.
Senyum yang kali ini lebih lama.
Lebih hangat.
Dan entah mengapa...
lebih berbahaya.
---
Saat matahari hampir tenggelam, ponsel Nara berdering.
Nama di layar membuat wajahnya berubah pucat.
Ia tidak mengangkatnya.
Panggilan kedua datang.
Lalu ketiga.
"Ayah?"
tebakku.
Ia mengangguk.
Tangannya mulai gemetar.
"Aku harus pulang."
"Ke rumah om?"
"Bukan."
"Ke Jakarta."
Aku menatapnya.
"Kapan?"
"Mungkin..."
ia menarik napas panjang.
"...besok."
Angin sore mendadak terasa lebih dingin.
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Menahannya.
Memintanya tetap tinggal.
Namun aku sadar...
cinta yang belum sempat diucapkan tidak punya hak untuk melarang seseorang pergi.
Kami pulang dalam diam.
Kereta yang kami naiki terasa jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat.
Di balik jendela, langit perlahan berubah gelap.
Dan untuk pertama kalinya...
aku takut.
Bukan karena kehilangan.
Melainkan karena mulai menyadari...
aku sedang jatuh cinta kepada seseorang yang mungkin sejak awal memang tidak ditakdirkan untuk tinggal.