Setelah pemakaman Dimas, Majalaya terasa lebih sunyi.
Padahal suara motor masih lalu-lalang.
Pedagang tetap berteriak menawarkan dagangan.
Anak-anak masih bermain layang-layang di lapangan.
Yang berubah hanya satu.
Aku.
---
Orang-orang sering berkata, hidup harus terus berjalan.
Kalimat itu terdengar bijaksana.
Sampai suatu hari kau kehilangan seseorang.
Lalu kau sadar...
yang berjalan hanyalah waktu.
Manusia sering kali masih tertinggal.
---
Sudah seminggu aku tidak menyentuh kuas.
Beberapa pelanggan membatalkan pesanan mural.
Seorang pemilik toko bahkan berkata,
«"Kalau nggak sanggup kerja, bilang dari awal."»
Aku hanya mengangguk.
Di negeri ini, kesedihan tidak termasuk alasan yang bisa memperpanjang tenggat waktu.
Tagihan tetap datang.
Listrik tetap harus dibayar.
Perut tetap lapar.
Dunia tidak pernah memberi cuti untuk berduka.
---
Sore itu aku memberanikan diri mendatangi rumah Dimas.
Ibunya sedang menyapu halaman.
Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding seminggu lalu.
Mungkin memang begitu cara duka bekerja.
Ia tidak hanya menguras air mata.
Ia juga mencuri usia.
"Masuk, Rak."
Aku mengangguk pelan.
Rumah itu terasa berbeda.
Motor tua Dimas sudah tidak ada.
Helmnya masih tergantung.
Sepasang sandal lusuh masih tergeletak di depan pintu.
Ada benda-benda yang tetap berada di tempatnya.
Hanya pemiliknya yang tak lagi pulang.
---
"Ada sesuatu buat kamu."
Ibunya mengambil sebuah kotak kayu dari lemari.
"Dimas nitip ini."
Dadaku berdebar.
Kubuka perlahan.
Di dalamnya hanya ada sebuah buku tulis hitam, kamera analog rusak, dan amplop cokelat.
Di bagian depan amplop tertulis:
Untuk Raka. Kalau suatu hari aku benar-benar menyerah.
Tanganku gemetar.
Aku membukanya.
Tulisan tangan Dimas masih sama.
Berantakan.
Tetapi jujur.
---
"Rak..."
"Kalau kamu baca surat ini, berarti aku kalah."
"Maaf."
"Aku tahu kamu bakal marah."
"Aku juga marah sama diriku sendiri."
"Aku cuma capek pura-pura kuat."
"Orang-orang bilang laki-laki harus tahan banting."
"Padahal besi saja bisa berkarat."
"Apalagi hati."
"Jangan salahkan ibu."
"Jangan salahkan siapa-siapa."
"Kalau bisa..."
"Teruslah jadi penulis."
"Tulis semua yang nggak sempat aku ceritakan."
"Supaya nanti ada yang tahu..."
"Kalau orang miskin bukan mati karena malas."
"Kadang mereka mati karena terlalu lama dipaksa bertahan."
"— Dimas."
---
Aku menutup surat itu perlahan.
Tidak ada air mata.
Air mataku habis beberapa hari yang lalu.
Yang tersisa hanya sesak.
---
"Kamu tahu?"
Suara ibu Dimas memecah keheningan.
"Sejak kecil dia suka ketawa."
Aku tersenyum tipis.
"Iya."
"Ternyata..."
Beliau memandang foto Dimas di dinding.
"...orang yang paling sering bikin orang lain tertawa..."
"...justru paling pandai menyembunyikan tangisnya."
Aku menunduk.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada isi surat tadi.
---
Malam harinya aku menemui Nara.
Kami duduk di bangku taman kecil dekat alun-alun.
Lampu-lampu jalan memantul di genangan air bekas hujan.
"Aku baca surat Dimas."
Nara diam mendengarkan.
"Aku ngerasa bersalah."
"Kenapa?"
"Karena aku hidup."
Ia menoleh.
"Rak..."
"Aku mulai mikir..."
"Kalau waktu itu aku maksa dia cerita..."
"Mungkin dia masih ada."
Nara menghela napas panjang.
"Luka punya kebiasaan buruk."
"Apa?"
"Membuat orang yang ditinggalkan merasa menjadi penyebab."
Aku memandangnya.
"Kamu juga begitu?"
Ia mengangguk pelan.
"Waktu perusahaan ayah bangkrut..."
"Aku pikir itu salahku."
"Padahal?"
"Padahal manusia memang senang mencari seseorang untuk disalahkan."
Kami sama-sama terdiam.
Barangkali itulah cara duka bekerja.
Ia selalu mencari rumah baru.
Dan sering kali...
rumah itu adalah hati orang yang masih hidup.
---
Sebelum pulang, Nara mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah buku kosong.
"Simpan."
"Buat apa?"
"Mulai nulis."
Aku mengernyit.
"Sekarang?"
"Iya."
"Aku nggak tahu mau nulis apa."
Nara tersenyum.
"Tulis yang paling kamu takut lupa."
Aku membuka halaman pertama.
Tanganku masih gemetar.
Dengan pena hitam, kutulis satu kalimat.
«"Di kota bernama Majalaya, aku kehilangan sahabat sebelum sempat mengucapkan selamat tinggal."»
Nara membacanya.
Lalu menatapku sambil tersenyum tipis.
"Itu bukan awal yang buruk."
Aku memandang langit.
Untuk pertama kalinya sejak Dimas pergi...
aku merasa menulis mungkin bukan cara melupakan.
Melainkan cara agar seseorang tetap hidup.
Sebab ada manusia yang dimakamkan di tanah.
Dan ada pula yang hidup selamanya...
di dalam kalimat.