Orang bilang waktu menyembuhkan.
Aku tidak sepenuhnya percaya.
Waktu hanya mengajari manusia cara tersenyum di atas luka yang belum benar-benar kering.
---
Dua hari berlalu.
Aku masih menunggu Dimas di warung kopi langganan.
Jam menunjukkan pukul empat sore.
Pak Ujang sudah meletakkan dua gelas kopi di meja tanpa diminta.
"Dimas belum datang?" tanyanya.
Aku menggeleng.
"Mungkin nganter paket."
"Iya."
Kami sama-sama percaya itu.
Setidaknya sampai setengah jam berikutnya.
Ponselku bergetar.
Nomor tak dikenal.
"Halo?"
"Ini Raka?"
"Iya."
"Temannya Dimas?"
Dadaku mendadak sesak.
"Iya..."
"Mas, bisa ke rumah Dimas sekarang?"
Suara di seberang terdengar bergetar.
Tanpa menjelaskan apa pun, sambungan telepon terputus.
---
Motor tuaku melaju secepat mungkin.
Jalanan Majalaya sore itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Aku mulai membenci lampu merah.
Membenci kendaraan yang berjalan terlalu pelan.
Membenci diriku sendiri karena firasat buruk mulai tumbuh.
Ketika sampai di gang rumah Dimas...
orang-orang sudah berkumpul.
Aku menghentikan motor begitu saja.
Langkahku melemah.
Seorang tetangga menepuk bahuku pelan.
"Yang sabar ya, Rak."
Kalimat itu seperti palu.
Aku berlari masuk.
Ibunya Dimas menangis di ruang tamu.
Tetangga-tetangga mencoba menenangkan.
Di sudut ruangan, aku melihat Dimas.
Terbaring.
Matanya tertutup.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Aku mendekat perlahan.
"Dimas..."
Tidak ada jawaban.
Aku menggenggam tangannya.
Dingin.
Bukan dingin karena hujan.
Melainkan dingin yang tidak akan pernah hangat lagi.
---
Belakangan aku baru tahu.
Semalam, beberapa penagih utang datang ke rumah.
Mereka berteriak.
Menggedor pintu.
Mengancam akan menyita motor satu-satunya.
Ibunya menangis.
Tetangga mendengar.
Dimas hanya diam.
Pagi harinya...
ia ditemukan tergantung di gudang belakang.
Tanpa surat.
Tanpa pesan.
Hanya menyisakan pertanyaan yang tidak akan pernah bisa dijawab.
---
Pemakaman berlangsung sebelum magrib.
Langit mendung.
Tanah masih basah oleh hujan semalam.
Aku ikut mengangkat kerandanya.
Berat.
Bukan karena tubuh Dimas.
Melainkan karena kenangan yang ikut kupikul.
Di sampingku, Pak Ujang berbisik pelan,
"Anak baik."
Aku mengangguk.
"Kenapa orang baik sering pergi duluan, Pak?"
Beliau menghela napas.
"Mungkin karena dunia lebih ramah kepada orang yang tega."
Aku tidak tahu apakah itu benar.
Namun kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
---
Malamnya, aku tidak pulang.
Aku duduk sendirian di tepi Sungai Citarum.
Tempat terakhir kami berbincang.
Tempat Dimas berkata,
"Kalau suatu hari aku nggak ada..."
Aku memukul kepalaku sendiri.
Kenapa aku tidak menyadarinya?
Kenapa aku menganggap semua itu hanya lelucon?
Manusia memang pandai.
Kami bisa membaca novel ratusan halaman.
Tapi gagal membaca kesedihan di mata sahabat sendiri.
---
"Aku tahu kamu di sini."
Suara itu membuatku menoleh.
Nara.
Ia membawa dua gelas kopi hangat.
Tanpa banyak bicara, ia duduk di sampingku.
"Kamu dapat kabar dari mana?"
"Pak Ujang."
Aku mengangguk.
Kami kembali diam.
Kesunyian kali ini berbeda.
Tidak canggung.
Tidak juga menenangkan.
Hanya... menemani.
"Aku gagal jadi sahabat."
Kataku pelan.
Nara menatap aliran sungai.
"Kamu bukan gagal."
"Aku nggak lihat kalau dia minta tolong."
"Kadang..."
Ia menarik napas panjang.
"...orang yang ingin menyerah justru paling pandai berpura-pura kuat."
Aku menunduk.
Air mataku akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya sejak ayah kehilangan pekerjaan.
Untuk pertama kalinya sejak aku merasa harus selalu terlihat baik-baik saja.
Aku menangis.
Tidak keras.
Tetapi cukup untuk membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Nara tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya menggeser gelas kopi ke arahku.
Kopi itu mulai dingin.
Seperti banyak hal dalam hidup yang terlambat kita sadari nilainya.
---
Sebelum pulang, aku membuka ponsel.
Ada satu pesan terakhir dari Dimas.
Terkirim semalam.
Belum sempat k****a.
«"Rak, kalau besok aku masih hidup, kita ngopi lagi."»
Aku menatap layar cukup lama.
Tidak ada air mata lagi.
Karena ada kesedihan yang melampaui tangisan.
Kesedihan yang hanya menyisakan ruang kosong.
Malam itu aku akhirnya mengerti.
Bunuh diri bukan selalu tentang seseorang yang ingin mati.
Kadang...
itu adalah seseorang yang terlalu lama ingin hidup, tetapi tidak lagi menemukan alasan untuk melanjutkannya.
Dan Majalaya kembali kehilangan satu warganya.
Bukan karena perang.
Bukan karena bencana.
Melainkan karena dunia yang semakin pandai menghitung utang, tetapi semakin lupa menghitung beban yang dipikul manusia.