Ada orang-orang yang tertawa karena bahagia.
Ada pula yang tertawa agar tidak ditanya, "Kamu kenapa?"
Dimas termasuk yang kedua.
---
Namanya Dimas Pradana.
Sahabatku sejak kami sama-sama percaya bahwa menjadi dewasa adalah perkara umur, bukan luka.
Kami sekolah di bangku yang sama.
Pernah dihukum guru yang sama.
Pernah jatuh cinta pada perempuan yang berbeda.
Dan kini...
sama-sama belajar bahwa hidup ternyata tidak pernah mengembalikan apa yang telah diambilnya.
Dimas bekerja sebagai kurir.
Bukan karena itu cita-citanya.
Melainkan karena cita-cita terlalu mahal untuk dibayar dengan ijazah SMA.
"Ayo ngopi."
Ia datang ke tempatku mengecat mural dengan motornya yang knalpotnya lebih berisik daripada mesinnya.
"Traktir?"
"Tetap aja miskin, Rak."
"Kamu juga."
"Makanya aku ngajak orang miskin. Biar nggak minder."
Kami tertawa.
Persahabatan memang aneh.
Kadang yang paling tulus justru lahir dari saling mengejek.
---
Warung kopi langganan kami berdiri di sudut jalan yang mulai retak dimakan usia.
Pemiliknya, Pak Ujang, sudah hafal pesanan kami.
"Dua kopi hitam. Satu pisang goreng. Uangnya nyusul, kan?"
Aku dan Dimas saling pandang.
Lalu tertawa.
"Kalau Bapak tahu bakal nyusul, kenapa tetap dikasih?"
Pak Ujang mengangkat bahu.
"Karena saya lebih takut kehilangan pelanggan daripada kehilangan uang."
Kalimat itu sederhana.
Namun di negeri ini, terlalu banyak orang kecil yang bertahan hidup dengan kepercayaan.
Sementara orang besar bertahan hidup dengan kontrak.
---
"Kamu lagi dekat sama cewek?"
Dimas menyulut rokok.
Aku menggeleng.
"Nggak."
"Jangan bohong."
"Kok tahu?"
"Soalnya rambutmu disisir."
Aku terkekeh.
"Kamu kenal Nara?"
"Yang sering jalan sama kamu?"
"Belum tentu sering."
"Majalaya itu kecil, Rak."
Ia menyeruput kopi.
"Di sini, orang beli cabai setengah kilo aja bisa jadi berita. Apalagi laki-laki jalan sama perempuan."
Aku menghela napas.
Begitulah kota kecil.
Privasi adalah barang mewah.
Orang-orang selalu lapar pada cerita orang lain, mungkin karena terlalu lelah menghadapi cerita mereka sendiri.
---
"Rak."
"Hm?"
"Jangan terlalu sayang."
Aku menoleh.
"Maksudnya?"
Dimas menatap kopinya.
"Dunia ini punya kebiasaan buruk."
"Apa?"
"Mengambil orang yang mulai kita anggap rumah."
Aku diam.
Biasanya Dimas bercanda.
Hari ini tidak.
"Ada apa?"
Ia tersenyum.
"Nggak ada."
Aku mengenal senyum itu.
Senyum yang dibuat agar orang berhenti bertanya.
---
Sore menjelang malam.
Kami pulang melewati tepian Sungai Citarum.
Airnya mengalir pelan.
Membawa sampah.
Membawa ranting.
Mungkin juga membawa doa-doa yang terlalu lama tidak dikabulkan.
Dimas berhenti.
"Dulu aku sering mancing di sini."
"Sekarang?"
"Sekarang ikannya mungkin lebih sibuk makan limbah."
Aku memandang sungai itu.
Kadang manusia luar biasa.
Kami menyebut alam sebagai ibu.
Lalu memperlakukannya seperti tempat sampah.
Ironisnya, kami masih heran ketika banjir datang.
Seolah alam tidak boleh marah.
---
Ponsel Dimas berdering.
Wajahnya berubah setelah melihat nama yang muncul.
"Kenapa?"
"Debt collector."
Ia mematikan layar.
"Kamu pinjam uang?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Ibu masuk rumah sakit bulan kemarin."
Aku tercekat.
"Kenapa nggak cerita?"
"Ngapain?"
"Biar aku bantu."
Ia tertawa pelan.
"Bantu pakai apa?"
Aku tidak bisa menjawab.
Karena memang benar.
Aku bahkan masih sering menghitung uang receh sebelum mengisi bensin.
"Kita ini lucu ya, Rak."
"Apa lagi?"
"Kalau orang kaya utang miliaran, namanya restrukturisasi."
"Kalau kita?"
"Namanya gagal bayar."
Kami sama-sama tertawa.
Tawa yang terdengar seperti ejekan kepada nasib sendiri.
---
Malam semakin larut ketika kami berpisah.
Sebelum naik motor, Dimas menepuk bahuku.
"Kalau suatu hari aku nggak ada..."
"Jangan ngomong aneh."
"Dengerin dulu."
Aku menghela napas.
"Ya."
"Tolong jagain ibu."
Aku langsung memukul lengannya pelan.
"Ngomong apa sih?"
Ia tersenyum.
"Kamu tahu?"
"Tahu apa?"
"Orang yang paling sering bilang 'aku baik-baik saja' biasanya sedang berbohong."
Aku hendak menjawab.
Namun ia sudah menyalakan motornya.
"Lusa kita ngopi lagi!" teriakku.
Ia mengacungkan jempol tanpa menoleh.
Motor tuanya perlahan menghilang di ujung jalan.
Entah mengapa...
untuk pertama kalinya sejak kami bersahabat, aku merasa langkahnya terlalu berat.
Seolah ia sedang membawa sesuatu yang tidak sanggup dibagi kepada siapa pun.
Aku tidak mengejarnya.
Karena aku percaya masih ada waktu.
Padahal hidup tidak pernah memberi tahu...
bahwa beberapa perpisahan menyamar sebagai pertemuan yang biasa saja.
Dan ketika kita menyadarinya, yang tersisa hanyalah penyesalan karena tidak sempat berkata,
"Hati-hati di jalan."