Hujan punya kebiasaan yang aneh.
Ia selalu kembali.
Manusia tidak.
---
Sudah tiga hari sejak Nara pergi bersama lelaki yang ia panggil "Om".
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar.
Tidak ada pertemuan tak sengaja di pasar atau warung kopi.
Aneh.
Aku bahkan tidak memiliki nomor teleponnya.
Namun kehilangan seseorang yang baru dikenal ternyata tetap bisa terasa.
Mungkin benar kata orang.
Yang membuat seseorang berarti bukan lamanya waktu.
Melainkan seberapa dalam ia meninggalkan jejak.
---
Aku kembali bekerja mengecat mural di tembok belakang sebuah sekolah dasar.
Gambar pelangi.
Anak-anak.
Awan.
Semua tampak ceria.
Ironisnya, orang dewasa selalu melukis dunia lebih indah daripada yang mereka rasakan.
Seorang bocah menghampiriku.
"Bang."
"Iya?"
"Kalau udah gede aku pengen jadi pelukis."
"Bagus."
"Biar kaya."
Aku tertawa.
"Siapa yang bilang pelukis kaya?"
"Guru."
Aku menghela napas pelan.
Mungkin gurunya tidak berbohong.
Hanya saja ia lupa menambahkan satu kalimat.
"Kalau pelukisnya sudah meninggal."
---
Sore itu hujan turun lagi.
Majalaya memang seperti punya perjanjian dengan awan.
Aku berteduh di bawah emperan toko ketika sebuah suara memanggil.
"Raka."
Aku menoleh.
Nara.
Berdiri beberapa meter dariku.
Rambutnya sedikit basah.
Jaket abu-abunya masih sama.
Entah mengapa, melihatnya lagi terasa seperti menemukan halaman buku yang sempat hilang.
"Kamu ngilang."
Ia tersenyum kecil.
"Aku minta maaf."
"Kukira kamu pulang ke Jakarta."
"Aku memang hampir pulang."
"Hampir?"
"Aku batal."
"Kenapa?"
Ia memandang hujan yang jatuh di depan kami.
"Lagi belajar bertahan."
Jawaban itu membuatku sadar.
Barangkali selama ini aku terlalu sibuk ingin tahu masa lalunya.
Padahal yang lebih penting adalah...
apa yang sedang ia perjuangkan hari ini.
---
Kami berjalan tanpa tujuan.
Air mengalir di selokan.
Lampu-lampu toko mulai menyala.
Majalaya perlahan berubah menjadi kota yang lebih tenang ketika malam datang.
"Aku mau cerita sesuatu."
Suara Nara pelan.
"Tentang apa?"
"Tentang kenapa aku pulang."
Aku tidak menyela.
Kadang menjadi pendengar adalah bentuk kasih sayang yang paling sederhana.
"Ayahku punya perusahaan garmen di Jakarta."
Aku mengangguk.
"Dulu."
Satu kata itu terdengar lebih menyakitkan daripada kalimat panjang.
"Perusahaannya bangkrut."
Ia melanjutkan.
"Utang di mana-mana. Rumah dijual. Mobil dijual. Teman-teman yang dulu sering datang... tiba-tiba sibuk."
Aku tersenyum getir.
"Orang kaya punya banyak teman."
"Kalau miskin?"
"Mereka menyebutnya relasi yang selesai."
Nara ikut tersenyum.
Senyum yang dipenuhi kelelahan.
"Ayah sakit sejak itu."
"Dan kamu pulang?"
"Ibu berasal dari Majalaya."
Aku baru tahu.
"Om yang waktu itu..."
"Adik ibu."
Aku mengangguk pelan.
Potongan-potongan cerita mulai menemukan tempatnya.
---
"Tapi bukan itu alasan utamanya."
Nara berhenti melangkah.
Ia menatap jalan yang mulai dipenuhi pantulan lampu.
"Aku dijodohkan."
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tanpa musik.
Tanpa hujan yang tiba-tiba semakin deras.
Hanya diam.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Lelaki itu anak rekan bisnis ayah."
"Terus?"
"Kalau aku menikah dengannya, sebagian utang ayah dianggap lunas."
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena kenyataan kadang terlalu kejam hingga hanya bisa disambut dengan tawa.
"Hebat ya."
"Apa?"
"Di negeri ini, bahkan cinta bisa dijadikan alat pembayaran."
Kami sama-sama diam.
Tidak ada yang membantah.
Karena kenyataannya memang begitu.
---
"Tapi aku kabur."
Nara berkata lirih.
"Aku egois?"
Aku menggeleng.
"Bukan."
"Lalu?"
"Kamu cuma sedang berusaha menjadi manusia."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku capek, Raka."
Untuk pertama kalinya, ia menangis.
Tidak keras.
Tidak tersedu.
Hanya air mata yang jatuh perlahan.
Seperti hujan yang akhirnya menyerah kepada bumi.
Aku tidak memeluknya.
Tidak menggenggam tangannya.
Aku hanya berdiri di sampingnya.
Karena aku percaya...
tidak semua tangis membutuhkan pelukan.
Sebagian hanya membutuhkan seseorang yang memilih tetap tinggal.
---
Malam semakin larut.
Kami berpisah di sebuah persimpangan.
Sebelum pergi, Nara berkata,
"Terima kasih."
"Buat apa?"
"Karena kamu nggak pernah maksa aku cerita."
Aku tersenyum.
"Setiap orang punya waktunya sendiri untuk sembuh."
Ia mengangguk.
Lalu berjalan menjauh.
Aku memandang langkahnya hingga menghilang di balik tikungan.
Saat itu aku belum sadar.
Bahwa diam-diam aku mulai menata masa depan dengan memasukkan namanya ke dalam setiap rencana.
Padahal hidup...
adalah penulis yang gemar menghapus tokoh paling kita sayangi sebelum cerita benar-benar selesai.
Dan Majalaya, seperti biasa, hanya menjadi saksi.
Diam.
Tanpa pernah memberi peringatan.