Dua hari setelah Nara tiba di Jakarta, aku menemukan waktu untuk meneleponnya saat istirahat makan siang. Ia mengangkat setelah dering kedua.
"Aku lagi di rumah om," katanya. "Kami sedang menyusun catatan dari berkas Ayah."
"Sudah ada gambaran?"
"Belum lengkap. Ada kewajiban usaha, ada surat yang perlu dijelaskan, dan beberapa catatan pembayaran. Aku nggak akan menyebut jumlahnya dulu sebelum semuanya cocok."
"Bagus."
"Jangan bilang bagus seperti kamu sedang memberi nilai."
"Maaf. Maksudku, bagus kamu tidak asal menyimpulkan."
Ia tertawa singkat. Suara itu memberiku rasa lega yang tak ingin kuakui terlalu besar.
Nara bercerita bahwa ayahnya sempat meminta ia menelepon keluarga rekan bisnis, tetapi ia memilih tidak membuat janji apa pun sebelum memahami urusannya. Ia juga mengatakan kepada ayahnya bahwa pembicaraan tentang calon pasangan tidak boleh dipakai untuk menghentikan pertanyaan tentang usaha. Ayahnya belum senang, namun tak lagi mengulang bahwa tanggal pernikahan harus segera ditentukan.
"Om ada di pihakmu?" tanyaku.
"Om membantuku bicara, tapi dia nggak mau mengambil alih keputusan. Dia juga bilang aku jangan menjadikan dia tameng terus-menerus. Aku harus bisa bicara sendiri." Nara berhenti sejenak. "Kurasa dia benar."
Aku tersenyum meski ia tak melihat. "Kadang orang tua benar tanpa harus menjadi menyebalkan."
"Jangan bilang begitu di depannya. Nanti dia besar kepala."
Dari dalam warung, Pak Ujang memanggilku karena ada pelanggan. Aku meminta Nara menunggu sebentar, lalu menyelesaikan pesanan kopi. Ketika kembali, ia masih di telepon.
"Kamu kerja?" tanyanya.
"Aku bantu Pak Ujang sebentar. Pesanan mural minggu depan juga sudah masuk."
"Berarti kamu mulai kembali sibuk."
"Memang harus. Aku masih punya rumah yang perlu dibantu."
Hening sejenak. "Aku senang dengarnya. Aku nggak ingin kamu duduk sendirian menunggu kabarku."
"Aku juga nggak ingin begitu."
Kami membicarakan hal praktis: kapan ia bisa menelepon, kapan aku biasanya bekerja, dan bagaimana jika pesan baru dibalas malam. Bukan karena kami sudah menjadi pasangan, tetapi karena komunikasi yang jelas lebih baik daripada membuat orang menebak. Nara mengatakan ia lebih nyaman mengirim pesan singkat jika sedang bersama ayahnya. Aku berjanji tak akan menelepon tanpa memastikan waktunya cocok.
"Kalau aku belum membalas, bukan berarti aku menghilang," katanya. "Aku mungkin sedang mengurus dokumen atau menemani Ayah."
"Aku paham. Kalau aku belum jawab, biasanya tanganku sedang kena cat."
"Kalau begitu, jangan jawab pakai jempol yang penuh cat. Ponselmu bisa ikut jadi mural."
Kami tertawa. Setelah itu, ia berkata ia harus kembali ke ruang depan. Kami menutup telepon dengan janji sederhana: kabari jika ada perubahan penting, dan jangan membuat kesimpulan dari satu hari sunyi.
Sore itu aku pulang untuk makan bersama orang tuaku. Ayah baru menerima kabar dari kawan lama bahwa pabrik yang dulu mempekerjakannya tak lagi akan membuka lini lama. Ia menyebutnya sambil menonton televisi, seolah sedang membicarakan cuaca. Ibu menaruh lauk di meja dan tak mendesaknya menjelaskan perasaan.
Aku berkata pesanan mural minggu depan akan membayar uang muka. Ayah bertanya berapa, lalu mengingatkan agar aku menyimpan sebagian untuk membeli cat. Ia tak lagi menatapku seolah pekerjaan serabutan adalah alasan untuk malu. Barangkali perubahannya kecil. Bagiku, itu seperti pintu yang dibuka satu jengkal.
Setelah makan, aku duduk di teras bersama ayah. Kami mendengar kendaraan lewat dan suara tetangga menutup kios.
"Ayah pernah ingin kerja lain setelah pabrik tutup?" tanyaku.
Ia mengangkat bahu. "Pernah. Tapi umur, pengalaman, dan lowongan tidak selalu cocok. Waktu itu Ibumu bilang kita cari cara lain dulu."
"Kamu pernah cerita itu padaku?"
"Sepertinya belum."
Aku tak tahu harus berkata apa. Aku sering mengira diam ayah berarti ia tidak ingin berbagi. Mungkin ia juga tidak tahu bagaimana memulai. Aku tidak meminta izin menulis tentangnya malam itu. Catatan pribadiku cukup berisi hal yang kulihat dan yang ia ucapkan sendiri.
Malamnya Nara mengirim pesan bahwa ia akan tetap di Jakarta beberapa hari lagi. Ia dan omnya menemukan berkas tambahan yang perlu diperiksa. Aku menjawab bahwa aku mengerti dan akan fokus pada pekerjaan. Ia mengirim foto tumpukan map di meja, tanpa angka yang terlihat.
Aku menatap foto itu lama. Dulu aku mungkin ingin menawarkan diri datang, menyelesaikan semuanya, membuat Nara tidak perlu takut. Kini aku tahu tawaran seperti itu bisa menjadi cara lain untuk menghindari ketidakberdayaanku sendiri.
Aku menulis di buku hitam: "Ada keputusan yang tidak menyelesaikan masalah. Ia hanya mengembalikan hak seseorang untuk memilih langkah berikutnya."
Keesokan paginya, aku mengirim pesan pada Nara bahwa aku akan menemui ibu Dimas dua hari lagi untuk menanyakan apakah ada kebutuhan yang bisa kubantu. Aku tidak menyebut surat itu sebagai izin untuk mengambil alih hidupnya. Nara membalas: "Tanya dulu apa yang beliau butuhkan. Jangan berjanji lebih dari yang bisa kamu lakukan."
Aku setuju. Hari itu, aku kembali mengecat mural sekolah. Di tembok, anak-anak yang kulukis sedang berlari mengejar layang-layang. Cat warna biru menempel di jariku. Di atasnya, langit belum selesai.
Aku belum tahu bagaimana cerita kami akan berakhir. Nara sedang menghadapi ayahnya dan urusan yang tak sederhana. Aku sedang belajar bekerja, menulis, dan tinggal bersama kesedihan tanpa menjadikannya alasan untuk berhenti. Untuk saat ini, satu keputusan kecil sudah cukup: ia menjawab panggilan, dan aku tidak memintanya mengubah arah demi rasa takutku.
Sebelum tidur, aku membaca ulang halaman yang kutulis. Aku menghapus satu kata yang terdengar terlalu yakin, lalu mematikan lampu.
Di halaman terakhir, kutambahkan tanggal malam itu. Aku tidak ingin kelak mengingatnya sebagai malam ketika seseorang pergi, melainkan sebagai malam ketika kami belajar berkata jujur tentang rencana.
Aku menutup buku itu dan menyimpannya di laci meja kerja. Esok aku masih harus mengecat, mengantar ayah, dan mengirim kabar kepada Nara bila ada waktu. Hidup belum menjadi lebih mudah, tetapi setidaknya aku mulai tahu bagian mana yang harus kukerjakan lebih dulu.