Papan nama toko fotokopi akhirnya terpasang menjelang siang. Aku berdiri di seberang jalan, mengamati huruf-huruf yang kulukis sendiri. Cat merahnya terlihat lebih menyala daripada yang kubayangkan di ruang kerja, mungkin karena dinding toko berwarna kusam. Pemiliknya menepuk bahuku dan menyerahkan sisa bayaran.
"Sudah pas?" tanyanya.
"Kalau Bapak lihat dari sini, iya. Kalau dari dekat, ada satu huruf yang bisa saya rapikan."
Ia menyipitkan mata, lalu tertawa. "Kalau terus dicari, semua kerjaan pasti ada kurangnya."
"Itu sebabnya saya bawa kuas."
Aku membetulkan tepi huruf yang dimaksud. Bukan pekerjaan besar, tapi aku tak mau meninggalkan sesuatu yang bisa kuperbaiki hanya karena pembayaran sudah lunas. Setelah selesai, pemilik toko mengajakku minum teh. Ia bertanya apakah aku bisa membuat papan lain untuk kios temannya bulan depan. Aku meminta ia memastikan ukuran dan anggaran bahan dahulu. Kali ini aku tak langsung menyanggupi sebelum tahu apakah waktuku cukup.
Di rumah, ibu menerima uang yang kubawa dan mencatat pengeluaran pekan itu di buku kecil. Ia tak meminta laporan panjang. Aku menyebut pesanan baru mungkin datang bulan depan, tetapi belum ada kesepakatan. Ibu mengangguk dan berkata kami akan menghitung belanja berdasarkan uang yang sudah ada, bukan uang yang belum tentu masuk.
Ayah duduk di teras, memperbaiki engsel jendela. Ia sudah lama tidak mengerjakan apa-apa di rumah selain menonton televisi atau memeriksa motor. Aku tak tahu apakah memperbaiki engsel pertanda ia lebih baik atau hanya kebetulan. Aku tak ingin memberi makna terlalu cepat.
"Ada kerjaan lagi?" tanyanya.
"Mungkin ada. Belum pasti."
"Jangan beli cat dulu sebelum pesanan jelas."
Aku tersenyum. "Aku tahu."
Ayah menyerahkan obeng. Aku menahan jendela sementara ia memasang engsel. Kami bekerja tanpa banyak bicara. Sesekali ia menyuruhku menggeser tangan agar lubang sekrup terlihat. Saat jendela akhirnya dapat ditutup rapat, ia mengujinya dua kali.
"Sudah," katanya.
Aku mengembalikan obeng ke kotak. "Ternyata kita bisa kerja bareng."
"Memangnya selama ini nggak bisa?"
"Bisa. Cuma jarang."
Ia tak menjawab. Namun tidak juga kembali masuk. Kami duduk sebentar memandang jalan. Dari ujung gang terdengar suara pedagang memanggil pembeli, suara yang sama setiap sore, seperti Majalaya punya cara sendiri untuk memastikan hari terus bergerak.
Ponselku bergetar. Pesan Nara masuk: "Aku dan Om mulai menyusun berkas. Ada beberapa yang harus dicocokkan. Ayah belum mau membahas perjodohan dulu."
Aku menjawab bahwa ia tak perlu memaksa pembicaraan hari ini. Ia mengirim, "Aku juga nggak mau bicara terus kalau ujungnya cuma saling marah." Aku paham. Beberapa hal perlu waktu, tapi waktu bukan berarti Nara harus mengubah jawabannya.
Ibu bertanya apakah kabar itu dari Nara. Aku mengangguk. Ia bertanya apakah Nara akan lama di Jakarta. Aku menjawab tidak tahu. Ibu mengusap pinggir buku belanja.
"Jangan lupa hidupmu sendiri," katanya.
"Aku sedang coba."
"Bagus. Orang bisa sayang sama seseorang dan tetap harus menyelesaikan kerjaan."
Aku menatap ibu. Tak ada tuduhan dalam suaranya. Hanya pengalaman bertahun-tahun mengatur rumah sambil menghadapi hal-hal yang tidak ia pilih.
Malamnya, aku menulis beberapa kalimat tentang ayah memperbaiki engsel. Aku berhenti sebelum menyimpulkan bahwa ia sedang kembali menemukan dirinya. Aku tidak tahu itu. Aku hanya melihat ia memilih duduk di teras, memegang obeng, menyelesaikan satu kerusakan kecil yang lama dibiarkan.
Buku hitam itu kututup ketika ibu memanggil makan. Di luar, cat papan nama sudah mengering dan lampu toko menyala. Aku merasa lega menerima upah, lalu malu karena sempat menganggap pekerjaan kecil tidak layak diceritakan. Hidup kami memang tidak berubah karena satu papan terpasang. Namun ada uang yang bisa dipakai membeli beras, ada jendela yang kembali rapat, dan ada percakapan singkat yang tidak berakhir dengan saling menyalahkan.
Pemilik toko memeriksa garis huruf yang baru kurapikan, lalu mengeluarkan kuitansi pembayaran. Ia meminta aku menuliskan tanggal pemasangan dan jumlah yang sudah dibayar. Aku menulisnya tanpa keberatan. Saat seseorang kehilangan pekerjaannya, uang bukan sekadar angka di amplop; ia juga kepastian tentang berapa hari kita bisa menunda khawatir. Di jalan pulang aku membeli dua kaleng cat dasar untuk pesanan berikut, tetapi hanya setelah uang muka kios benar-benar masuk. Aku menyimpan bukti pembelian di dompet agar tidak bercampur dengan uang belanja rumah.
Nara membalas pesanku saat aku sedang membilas kuas. "Ayah belum mau lihat semua berkas. Dia bilang ada beberapa yang disimpan orang lain." Aku tidak mendesaknya menyebut siapa atau berapa. Aku bertanya apakah ia ingin menjadwalkan pembicaraan lain atau beristirahat dahulu. Ia memilih berhenti untuk malam ini. Aku menjawab bahwa itu terdengar masuk akal. Ia mengirim satu kata, "Besok." Aku tidak meminta laporan lengkap. Ia berhak mengurus hidupnya tanpa menjadikan setiap pesanku sebagai ruang sidang.
Setelah toko tutup, aku duduk di bangku depan sambil menunggu cat benar-benar kering. Pemilik toko bertanya apakah aku pernah bekerja di pabrik seperti ayahku. Aku bilang tidak, bahwa aku selalu berpindah dari satu pesanan ke pesanan lain. Ia berkata dulu banyak pelanggan datang dengan seragam pabrik, sekarang beberapa kios hanya buka setengah hari. Ia tidak mengeluh panjang. Ia hanya menggeser kursi agar aku tidak menghalangi pintu.
Aku pulang membawa nota yang sudah dibayar. Di meja makan, ibu memeriksanya dan bertanya apakah ada uang untuk membeli bahan pesanan berikutnya. Aku menjelaskan belum, karena uang muka belum diterima. Ia menawarkan meminjamkan sedikit dari uang belanja, tetapi aku menolak dengan halus. Aku akan menunggu sampai pelanggan mengirim uang muka. Ibu mengangguk, lalu berkata ia senang aku mulai berani mengatakan tidak jika hitungannya belum masuk. Aku menyadari pelajaran paling sulit dari kerja lepas bukan mengejar pekerjaan, tetapi tidak menggadaikan semua tenaga demi rasa takut tak kebagian.
Aku menyimpan kuitansi di buku kerja dan memastikan ibu tahu jumlah yang bisa dipakai hari itu.
Ia menyimpan nota dan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan.