Aku mengetuk pintu rumah Dimas sebelum masuk. Ibu Dimas membuka setelah beberapa saat. Ia tampak terkejut melihatku, lalu memberi jalan.
"Maaf kalau waktunya kurang pas," kataku.
"Nggak apa-apa. Aku tadi di belakang."
Rumah itu masih menyimpan bekas kehadiran Dimas dalam hal-hal kecil. Helmnya tetap tergantung dekat pintu. Sepasang sandal lusuhnya sudah dipindah ke rak, tapi tak dibuang. Di ruang tamu ada foto dirinya yang sama dengan foto saat pemakaman. Aku tak memandang terlalu lama.
Kami duduk berhadapan. Aku tidak langsung mengeluarkan surat atau membahas janji terakhirnya.
"Ibu bilang kemarin belum tahu mau minta apa," kataku. "Aku datang untuk dengar. Kalau Ibu cuma mau ditemani, itu juga tidak apa-apa."
Beliau meremas ujung kain di pangkuan. "Orang datang selalu bilang begitu. Setelah duduk, mereka tanya soal utang atau bilang Dimas pasti punya masalah yang disembunyikan."
"Aku nggak akan menebak apa yang ada di kepala Dimas. Aku cuma tahu aku terlambat mengerti dia sedang kesulitan."
Ibu Dimas menatapku. "Kamu merasa bersalah?"
"Iya. Tapi aku tahu rasa bersalahku bukan alasan untuk memaksa Ibu menerima bantuanku."
Ia mengangguk kecil. Kejujuran sederhana itu tampaknya lebih mudah didengar daripada janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Ada yang datang lagi soal tagihan?" tanyaku setelah ia sendiri mulai bercerita.
"Ada yang menelepon. Aku belum tahu mana yang harus kubayar, mana yang masih perlu ditanyakan. Dimas yang urus semua. Sekarang kertasnya bercampur."
Aku menawarkan membantu membuat daftar dokumen dan tanggal, bukan menyatakan mana yang sah atau tidak. Beliau menyetujui. Kami membuka laci tempat beberapa amplop disimpan. Tidak semua berisi tagihan; ada kuitansi, surat rumah sakit, dan selebaran yang terselip. Aku menulis nama pengirim serta tanggal yang terlihat, lalu membiarkan bagian yang tidak jelas kosong.
"Kalau begini, kita bisa tanya satu per satu," kataku. "Aku tidak tahu jawabannya, tapi setidaknya kita tahu apa yang belum jelas."
Ibu Dimas menghela napas panjang. "Aku takut kalau tanya, mereka malah minta lebih banyak."
"Kita bisa minta waktu untuk membaca. Ibu tidak harus menjawab saat itu juga."
Beliau menyandarkan punggung. "Dimas biasanya yang bicara. Aku cuma ikut mendengar."
Aku menahan keinginan mengatakan bahwa sekarang aku akan menggantikan perannya. Itu bukan hal yang bisa kulakukan, dan bukan permintaan beliau.
"Kalau Ibu mau, aku bisa menemani saat Ibu menelepon. Ibu yang menentukan pertanyaannya. Aku hanya mencatat."
"Besok belum. Aku perlu membaca dulu."
"Baik."
Kami merapikan dokumen sesuai tanggal. Tak ada utang yang lunas. Tak ada jawaban lengkap. Namun laci yang semula menjadi tumpukan kini memiliki beberapa amplop terpisah dan catatan pertanyaan. Aku menyimpan salinan daftar itu hanya setelah meminta izin.
Sebelum pulang, aku bertanya apakah beliau ingin aku membawa makanan atau membelikan sesuatu untuk rumah. Ibu Dimas menggeleng. Ia hanya meminta aku memeriksa lampu teras yang kadang mati. Aku melihat saklarnya, lalu menemukan bola lampu yang longgar. Aku mengencangkannya, memastikan cahayanya kembali menyala.
Beliau tersenyum tipis. "Dimas juga suka lupa memeriksa lampu."
Aku tidak menjawab. Ada kenangan yang tak perlu kubalas dengan perbandingan.
Di luar, Pak Ujang sedang berdiri di warung dekat gang. Ia bertanya apakah kunjunganku berjalan baik. Aku menjawab kami menyusun dokumen dan memperbaiki lampu. Pak Ujang tidak bertanya lebih jauh.
"Kalau ada yang bisa kulakukan, bilang," katanya.
Aku berterima kasih, lalu menyampaikan bahwa ibu Dimas belum ingin menerima banyak kunjungan. Pak Ujang setuju menjaga supaya orang tidak datang ramai-ramai. Dukungan kadang berarti memastikan rumah orang berduka tidak berubah menjadi tempat orang lain mencari rasa lega.
Malamnya, aku menulis di buku hitam bahwa ibu Dimas ingin membaca dulu sebelum menelepon siapa pun. Aku tidak menuliskan rincian dokumen. Aku menuliskan bahwa lampu teras kembali menyala dan beliau tersenyum saat menyebut sandal anaknya. Aku tak tahu apakah detail itu akan pernah masuk naskah. Untuk sekarang, itu milik kami yang melihat.
Kami memeriksa lagi amplop-amplop yang tersisa dan menandai mana yang sudah memiliki balasan tertulis. Satu surat tidak mencantumkan tanggal yang jelas. Ibu Dimas tidak ingin menelepon pengirimnya tanpa ditemani. Aku menawarkan hadir pada jam yang ia pilih, tetapi ia memutuskan menunggu konsultasi warga terlebih dahulu. Keputusan itu miliknya. Aku menulis tanggal rencana konsultasi dan siapa yang akan mengantar, lalu membaca kembali catatan agar tidak ada janji yang salah.
Ketika aku pulang, ibu sedang membuat daftar belanja. Aku berkata aku mungkin menemani ibu Dimas ke kantor layanan setelah jadwalnya jelas. Ibu bertanya apakah aku sempat menyelesaikan pesanan mural. Aku menjawab aku sudah mengatur waktu dan tidak akan meninggalkan pekerjaan yang telah disepakati. Ia mengangguk, lalu menyelipkan uang bensin tambahan ke saku jaketku. Aku menolaknya sekali, tetapi ia berkata itu bukan bantuan untuk orang lain, melainkan ongkos kerja. Aku menerimanya dan berjanji mencatat pengeluarannya.
Sambil menunggu air mendidih, ibu Dimas menunjukkan sebuah foto lama yang terselip di bawah alas meja. Dimas berdiri di depan warung Pak Ujang, memegang gelas plastik dan tertawa karena matanya menyipit. Di sampingnya ada aku, rambutku masih panjang dan wajahku lebih kurus. Aku tertawa melihat bajuku sendiri.
"Dia yang memotret," kata beliau. "Katanya kamu tidak pernah mau difoto."
"Karena saya selalu berkedip."
Beliau menyimpan foto itu kembali, bukan ke kotak, melainkan di atas lemari agar mudah terlihat. Aku tidak bertanya apakah ia ingin membicarakan surat Dimas. Ia sendiri yang berkata ia membaca surat itu berkali-kali tetapi tidak memahami semua alasan anaknya. Aku menjawab bahwa aku juga tidak tahu semuanya, dan tidak akan berpura-pura punya jawaban. Beliau mengangguk. Setelah itu kami membicarakan makanan yang biasa dibeli Dimas sepulang mengantar paket. Percakapan sederhana tersebut membuat rumah terasa sedikit kurang sunyi tanpa menghapus ruang yang ditinggalkannya.
Aku mengucapkan terima kasih kepada beliau karena sudah membiarkanku mendengar, bukan menganggapku harus punya solusi.