Pagi berikutnya aku kembali ke rumah ibu Dimas setelah beliau mengirim pesan bahwa satu orang penagih menelepon lagi. Aku bertanya apakah beliau ingin aku datang sebelum menjawab. Balasannya singkat: boleh, tapi jangan bicara untukku.
Aku menyetujui batas itu.
Kami duduk di ruang tamu dengan daftar pertanyaan di meja. Ibu Dimas memegang ponsel, sementara aku membuka buku catatan. Saat telepon tersambung, ia menyebut namanya dan meminta penjelasan mengenai surat yang diterima. Suaranya beberapa kali bergetar, tetapi ia tidak menyerahkan ponsel kepadaku.
Pihak di seberang menyebut angka yang berbeda dari catatan di surat. Ibu Dimas meminta agar rincian itu dikirim tertulis. Ia bertanya tanggal, dasar tagihan, dan apakah ada biaya lain yang ditambahkan. Aku mencatat jawabannya tanpa memberi penilaian. Ketika lawan bicara mendorongnya untuk menyetujui sesuatu saat itu juga, ia berkata ia perlu waktu membaca dan akan menghubungi kembali.
Setelah panggilan selesai, ia menatap daftar. "Aku takut mereka marah."
"Mereka mungkin tidak suka menunggu," kataku. "Tapi Ibu berhak memahami apa yang diminta sebelum menjawab."
"Aku tidak tahu apakah angka itu benar."
"Kita belum tahu. Kita minta tertulis dulu."
Ia mengangguk. Tidak ada kemenangan besar dalam percakapan itu. Hanya satu batas kecil yang berhasil ia ucapkan.
Aku menawarkan menemaninya mencari tempat bertanya yang tersedia di kecamatan atau dari layanan bantuan masyarakat, tanpa menjanjikan mereka pasti akan menyelesaikan masalahnya. Beliau setuju mencari informasi, tetapi tidak ingin pergi hari itu. Kami menelepon Pak Ujang untuk bertanya apakah ia tahu jadwal layanan warga. Pak Ujang memberi satu alamat kantor dan menyarankan mereka memastikan jadwal sebelum datang. Ia tidak menawarkan nama orang yang menjanjikan hasil instan.
Di perjalanan pulang, aku mampir membeli cat untuk mural sekolah. Harga bahan naik dibanding bulan lalu. Aku menghitung ulang penawaranku dan mengirim kabar kepada kepala sekolah bahwa biaya cat perlu disesuaikan atau bidang lukis diperkecil. Ia memilih mengurangi bidang, bukan menambah dana. Aku menerima, lalu menggambar ulang rancangan. Bekerja dengan jujur berarti kadang kehilangan sebagian imajinasi agar upah dan biaya tetap masuk akal.
Sore harinya aku berbicara dengan Nara melalui telepon. Ia sedang berada di ruang depan rumah ayahnya. Ia memberi tahu bahwa mereka menemukan lebih banyak surat, tetapi belum semua cocok dengan daftar pembayaran. Ia tidak menyebut jumlah dan aku tidak bertanya.
"Masih tegang?" tanyaku.
"Sedikit. Ayah bilang aku membuat semua tampak lebih rumit."
"Kamu cuma minta tahu dulu."
"Iya. Aku bilang aku akan membantu menyusun catatan, tapi aku nggak bisa menjanjikan menikah untuk menyelesaikan masalah usaha."
"Apa jawabannya?"
"Dia diam. Om bilang kita berhenti dulu sebelum saling menyakiti dengan kata-kata."
Aku mendengarkan suara latar: pintu, langkah orang, televisi. Nara tidak sepenuhnya sendirian, meski pembicaraan itu berat. "Kamu mau cerita lebih banyak?"
"Nggak malam ini. Aku capek."
"Baik. Istirahat."
Ia bertanya bagaimana ibu Dimas. Aku menjelaskan bahwa kami mengurutkan surat dan beliau meminta rincian tertulis. Aku tak menceritakan angka atau siapa yang menelepon. Nara berkata ia lega ibu Dimas mulai punya daftar, lalu mengingatkanku untuk tidak memikul semuanya sendirian.
"Aku cuma mencatat," kataku.
"Kadang itu juga melelahkan."
Aku mengakuinya. Setelah menutup telepon, aku duduk sebentar di teras. Ayah sedang memperbaiki radio lama. Ibu menyulam sarung bantal. Aku membaca ulang daftar bahan mural, memastikan angka masuk akal. Tidak ada satu pun urusan yang selesai, tetapi setiap orang mulai menyebut kebutuhan mereka sendiri.
Hari berikutnya, aku mengantar ibu Dimas menuju kantor layanan warga untuk memastikan jam konsultasi. Tempat itu sedang tutup lebih awal karena rapat, jadi kami tak bertemu siapa pun. Ia tampak kecewa, tetapi tidak menyesal datang.
"Kita coba lagi hari lain," kataku.
"Iya. Setidaknya sekarang aku tahu alamatnya."
Aku mengantarnya pulang, lalu berangkat memasang sketsa mural. Saat matahari turun, aku menerima foto satu surat yang dikirim ibu Dimas. Ia meminta aku menambahkan tanggal surat ke daftar, bukan menafsirkan isinya. Aku menambahkan tanggal dan mengirim kembali salinan. Ia membalas terima kasih.
Aku menyadari dukungan tidak selalu berupa tindakan besar. Kadang hanya memastikan seseorang tidak harus menghadapi map dan telepon sendirian. Tetapi aku juga harus pulang, bekerja, dan tidur. Aku tidak bisa menjaga siapa pun sepanjang waktu, termasuk diriku sendiri.
Kepala sekolah melihat mural dari halaman dan meminta satu perubahan kecil: pot tanaman yang semula berada di sudut dipindah agar tidak tertutup tiang. Aku mengukur ulang bidang dinding dan memperbaikinya. Anak-anak memberi komentar dari kejauhan, ada yang menyarankan awan ditambah, ada yang meminta warna lebih terang. Aku mendengarkan, tapi tidak mengubah semuanya. Tidak mungkin satu gambar menampung semua keinginan. Aku mengatakan kepada mereka mural akan selesai hari berikutnya. Seorang anak bertanya apakah pohon miring itu akan roboh. Aku menjawab belum tentu; ia hanya tumbuh mengikuti cahaya yang tersedia. Aku sadar jawaban itu terdengar seperti tentang banyak hal, tetapi kali ini memang hanya tentang pohon.
Di rumah, ayah menanyakan apakah aku akan menemui ibu Dimas lagi. Aku menjelaskan beliau ingin datang ke layanan warga, tetapi jadwalnya belum dikonfirmasi. Ayah menawarkan mengantar dengan motor jika hari itu aku tidak bisa. Aku terkejut dan bertanya apakah ia yakin. "Aku juga kenal Dimas," katanya. "Tidak harus selalu kamu yang datang." Aku mengucapkan terima kasih, lalu tidak memaksanya membuat rencana sebelum jadwal ada. Ibu mendengar dari dapur dan berkata mereka bisa bergantian mengurus rumah bila salah satu dari kami pergi. Untuk pertama kalinya, bantuan tidak terasa seperti satu orang menyeret semua orang lain.
Di rumah, aku menerima pesan dari pemilik kios yang menyetujui penawaran. Ia akan mengirim uang muka lusa. Aku membalas dengan tanggal pengerjaan dan daftar warna yang perlu ia pilih. Aku kemudian mencatatnya di kalender, agar jadwal mengantar ibu Dimas tidak berbenturan. Ibu melirik kalender itu dan berkata aku mulai memakai lebih banyak catatan daripada ingatan. Aku menjawab bahwa ingatanku sering kalah oleh pesan masuk. Ayah menyahut dari ruang depan bahwa itu bukan hal buruk, selama aku membaca catatannya lagi. Kami tertawa kecil, lalu kembali pada pekerjaan masing-masing.