Pesanan mural sekolah dimulai pada hari yang panas. Aku tiba membawa cat, kuas, dan sketsa baru yang bidangnya sudah diperkecil. Seorang guru menemaniku melihat tembok yang akan dilukis. Ia meminta gambar anak-anak tampak beragam, tidak semua memakai seragam yang sama warna. Aku mengubah beberapa detail sesuai permintaannya.
Anak-anak berhenti satu per satu saat jam istirahat. Seorang bocah bertanya kenapa gambar pohonnya tumbuh miring. Aku berkata pohon tidak selalu tumbuh lurus, tapi tetap bisa menaungi orang. Ia mengangguk seolah jawaban itu cukup, lalu berlari kembali bermain.
Aku memikirkan Dimas. Ia pernah berkata orang miskin terlalu sering diminta berdiri tegak, seolah kesulitan bisa diselesaikan dengan postur. Aku tak menulis kalimat itu di tembok. Aku hanya membiarkan pohon dalam gambar tumbuh sedikit miring.
Saat makan siang, ibu Dimas mengirim pesan bahwa ia sudah menerima surat tertulis. Ia belum membacanya karena menunggu aku pulang kerja untuk menemani. Aku membalas bahwa aku akan datang setelah membersihkan kuas. Ia mengirim tanda setuju.
Sore itu kami membuka surat di meja. Aku duduk di sebelahnya, tetapi ia yang membaca. Ada bagian yang menjelaskan nilai awal, bagian lain menyebut pembayaran yang belum tercatat. Kami menyalin pertanyaan yang masih tersisa dan menandai angka yang berbeda dari dokumen sebelumnya. Aku tidak mengatakan bahwa surat itu benar atau salah. Kami sepakat membawa salinan ke konsultasi saat jadwalnya tersedia.
"Kalau Dimas masih ada, mungkin dia tahu semua ini," katanya.
"Mungkin," jawabku. "Tapi kita tidak bisa memastikan. Kita cari tahu dari kertas yang ada."
Beliau mengangguk, lalu menutup map. "Aku kangen dia."
Aku tidak menjawab bahwa aku juga. Kata itu terlalu kecil untuk menampung rumah yang berubah. Aku hanya tetap duduk sampai ia siap memindahkan surat ke laci.
Dalam perjalanan pulang, aku melihat warung Pak Ujang ramai. Ia sedang membagikan kopi kepada beberapa pelanggan yang menonton pertandingan di televisi. Aku berhenti sebentar untuk menyerahkan catatan alamat layanan warga. Pak Ujang mengingatnya dan berkata ia bisa menemani ibu Dimas bila jadwalnya cocok. Aku bilang beliau ingin mengatur sendiri dan kami akan bertanya dulu sebelum mengajak siapa pun.
Pak Ujang mengangguk. "Bagus. Membantu bukan berarti mengambil alih."
Kalimat yang sama muncul lagi dalam bentuk berbeda. Aku mulai sadar betapa mudahnya menganggap diriku pusat dari masalah orang lain hanya karena aku hadir.
Di rumah, ayah sedang duduk di depan radio yang akhirnya menyala. Ia memberitahuku bahwa tetangga meminta bantuan memperbaiki pagar dan akan membayar jasanya. Ayah berkata ia mungkin bisa mengerjakannya akhir pekan. Ibu bertanya apakah ia cukup kuat mengangkat kayu. Ayah menjawab akan meminta bantuan orang lain untuk bagian berat. Tidak ada yang menyebut ini pekerjaan tetap. Namun ia telah memilih melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan.
Aku melihat ibu tersenyum sambil kembali ke dapur. Aku ingin mencatat adegan itu, tetapi sebelum membuka buku, aku bertanya kepada mereka apakah mereka keberatan bila aku menulis sedikit tentang hari-hari di rumah. Ibu berkata ia perlu melihat dulu apa yang kutulis. Ayah meminta aku tidak memakai nama mereka. Aku setuju. Tulisan itu masih untuk diriku sendiri, dan mereka berhak menentukan batas.
Malamnya, Nara menelepon. Ia berkata berkas-berkas usaha sudah mulai dikelompokkan, tetapi ayahnya kembali mendesak agar ia bertemu keluarga rekan bisnis. Nara menolak membuat janji tanggal. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia akan tetap tinggal di Jakarta untuk menyelesaikan pembicaraan, bukan untuk menyerah.
"Apakah kamu ingin aku datang?" tanyaku.
"Belum. Aku ingin bicara dengan Ayah dan Om dulu. Kalau nanti aku butuh ditemani, aku akan bilang."
"Baik."
Ia bertanya apakah aku kecewa tidak bisa melakukan apa-apa. Aku memandang kuas yang masih terendam air. "Aku kecewa karena situasinya sulit. Bukan karena kamu nggak minta aku datang."
"Terima kasih. Aku ingin tetap punya ruang untuk memutuskan sendiri."
"Kamu punya."
Setelah kami menutup telepon, aku menyelesaikan satu halaman di buku hitam. Aku menulis tentang hari ketika aku mencatat surat bersama ibu Dimas, tentang pohon miring di tembok sekolah, dan tentang ayah yang memperbaiki radio. Aku tidak menulis seolah-olah satu dari tiga hal itu menyembuhkan siapa pun.
Di bagian bawah, kutulis: "Aku tidak mampu membayar semua utang orang lain. Aku bisa mendengarkan, mencatat, menemani bila diminta, lalu pulang untuk bekerja."
Kalimat itu tidak terdengar heroik. Mungkin karena memang bukan itu tujuannya. Aku mematikan lampu dan meletakkan buku di laci, mengetahui besok akan ada pekerjaan baru dan jawaban yang belum lengkap. Untuk sekarang, itulah yang sanggup kulakukan.
Saat istirahat, guru kelas datang membawa segelas air dan bertanya apakah aku bisa menerima pembayaran sesuai tahap pekerjaan. Aku menjelaskan biaya bahan sudah keluar, tetapi upah bisa dibayar setelah bagian kedua selesai. Kami mencatatnya supaya tidak ada kesalahpahaman. Aku lebih suka pembicaraan yang jelas meski jumlahnya sederhana daripada janji manis yang membuatku harus menebak. Guru itu bercerita bahwa sekolah juga menghitung anggaran satu per satu. Aku mendengarkan tanpa menyalahkan siapa pun. Kadang keterbatasan bukan perkara satu orang malas membayar; uang memang tidak selalu tersedia sekaligus.
Ketika aku pulang sore itu, ibu Dimas menelepon. Jadwal konsultasi warga ternyata baru dua hari lagi. Ia bertanya apakah aku masih bisa mengantarnya. Aku mengecek kalender dan mengingat pesanan kios yang mulai dikerjakan lusa. Kami menemukan waktu setelah konsultasi sebelum aku pergi mengambil cat. Aku memastikan ia nyaman dengan jadwal tersebut dan tidak merasa harus pergi jika berubah pikiran. Ia mengatakan ingin mencoba. Aku menuliskan jamnya besar-besar di kalender dapur dan memberi tahu ayah, yang menawarkan mengantar bila aku terlambat. Kali ini aku menerima tawaran itu sebagai rencana cadangan, bukan beban yang harus dibalas.
Sebelum berangkat, aku mencuci kuas di halaman sekolah. Air berubah keruh, lalu jernih kembali.
Aku membiarkan cat itu mengering sebelum membereskan peralatanku.