Dua hari setelah kami menyepakati jadwal, aku menjemput ibu Dimas menjelang siang. Beliau sudah berdiri di depan rumah dengan map kain di tangan. Aku bertanya sekali lagi apakah ia ingin pergi hari itu atau menundanya. Ia menggeleng.
"Aku mau tahu dulu harus bertanya ke mana," katanya. "Aku tidak mau pulang dengan lebih banyak ketakutan daripada waktu berangkat."
"Kita cuma mencari penjelasan. Tidak perlu menyetujui apa pun."
Beliau mengangguk dan naik ke motor. Aku mengendarai pelan. Sepanjang jalan, map itu dipeluknya erat. Di kantor layanan warga, papan pengumuman mencantumkan jam konsultasi. Kami datang sesuai jadwal, tetapi ada beberapa orang lebih dulu menunggu. Kami mengambil nomor dan duduk di bangku panjang.
Ibu Dimas mengeluarkan daftar pertanyaan. Ia membacanya berulang-ulang, lalu bertanya apakah bahasanya terdengar kasar. Aku menjawab tidak. Ia ingin tahu dokumen apa yang sebaiknya dibawa, bagaimana meminta rincian tagihan tertulis, dan apakah semua nomor yang menelpon memang pihak yang sama. Aku tidak menambah pertanyaan yang belum ia pilih.
Saat giliran kami tiba, petugas meminta ia menjelaskan singkat persoalannya. Ibu Dimas berbicara sendiri. Aku duduk di samping, membuka catatan hanya ketika ia meminta. Petugas menjelaskan prosedur umum untuk meminta rincian tertulis dan menyarankan ia menyimpan salinan semua surat serta catatan waktu panggilan. Tidak ada janji bahwa masalah akan selesai hari itu. Tidak ada penetapan bahwa satu surat pasti benar atau salah. Ibu Dimas menanyakan apa yang perlu ia lakukan bila angka di surat berbeda dengan angka yang disampaikan lewat telepon.
"Mintalah semuanya tertulis, lalu bawa kembali untuk diperiksa," jawab petugas. "Jangan menyetujui angka yang belum dipahami."
Kami keluar dengan selembar informasi dan daftar langkah berikutnya. Ibu Dimas tampak kecewa karena tak mendapat jawaban instan, tetapi ia menyelipkan kertas itu di map dengan hati-hati.
"Setidaknya sekarang aku tahu apa yang harus diminta," katanya.
"Kita bisa tulis tanggal dan siapa yang harus dihubungi."
"Jangan tuliskan seolah-olah kamu yang akan mengurus semuanya."
Aku terdiam, lalu mengangguk. "Ibu yang mengurus. Aku menemani kalau Ibu minta."
Di jalan pulang kami berhenti di warung Pak Ujang. Ia sudah menyiapkan dua gelas teh, tetapi tidak bertanya banyak. Ibu Dimas menjelaskan bahwa ia memperoleh langkah awal, bukan penyelesaian. Pak Ujang mengatakan jika ia ingin ditemani menelepon, ia bisa datang ke warung pada jam yang sepi. Ia tidak menawarkan diri menghubungi siapa pun tanpa izin.
Aku memperhatikan ibu Dimas saat ia membaca ulang lembar informasi. Ia tidak tampak sembuh atau tenang sepenuhnya. Namun tangannya tidak lagi meremas map sekuat tadi.
Sore itu, aku menyelesaikan bagian mural yang tertunda. Kepala sekolah membayar sesuai kesepakatan tahap pertama. Aku mencatat jumlah bahan yang sudah terpakai dan menyimpan kuitansi. Tidak ada hubungan antara uang mural dan urusan ibu Dimas; aku tidak ingin mencampur dana kerja dengan bantuan kecil yang mungkin kuberikan.
Ketika pulang, ayah menanyakan apakah konsultasinya berjalan baik. Aku menceritakan bahwa ibu Dimas mendapat daftar langkah, bukan hasil. Ayah mengangguk. Ia berkata terkadang orang hanya perlu ditemani agar berani bertanya sendiri. Aku ingin menulis kalimat itu, tetapi menunggu sampai ia tahu aku sedang mencatat.
Malamnya Nara mengirim pesan bahwa ia dan ayahnya meninjau beberapa dokumen. Aku menjawab bahwa aku mengantar ibu Dimas ke konsultasi. Ia berkata semoga membantu, lalu menambahkan bahwa ia ingin bertanya soal jadwal kerja ayahnya besok. Aku tak bertanya lebih jauh. Ada dua keluarga dengan masalah masing-masing, tetapi aku tidak boleh menyatukannya hanya karena keduanya membuatku khawatir.
Dalam perjalanan pulang, ibu Dimas bertanya apakah lembar petunjuk itu perlu disimpan bersama surat. Aku menyarankan memisahkannya dengan pembatas, supaya mudah ditemukan saat konsultasi berikutnya. Ia meminta aku menuliskan tanggal kunjungan dan nama kantor di sampul map. Aku menulis sesuai papan pengumuman, tidak menambahkan gelar atau janji hasil.
"Kamu dulu sering ke tempat seperti ini?" tanyanya.
"Nggak. Aku juga baru tahu ada jadwal konsultasi."
"Kadang aku merasa semua orang dewasa tahu harus melakukan apa."
"Biasanya mereka cuma tahu harus bertanya kepada siapa."
Ia tertawa tipis. Kami berhenti di warung untuk minum, kemudian ia membaca kembali daftar pertanyaan. Salah satu baris dicoretnya karena ia sudah memperoleh jawaban umum. Ia ingin menambahkan satu pertanyaan tentang bagaimana mengirim salinan tanpa kehilangan dokumen asli. Aku menuliskannya persis seperti yang ia ucapkan. Pada saat itu, ia tampak seperti orang yang kembali memegang kendali atas sebagian kecil urusannya sendiri.
Setelah kami menunggu beberapa saat di halaman, aku bertanya apakah beliau ingin aku mengambil foto lembar informasi agar tak lupa membawanya. Ia memilih tidak. "Aku mau menyimpan kertasnya sendiri," katanya. Aku setuju dan tidak mengeluarkan ponsel. Ia melipat lembar itu tanpa merusaknya, memasukkannya ke bagian depan map, lalu meminta aku membantu memastikan rute pulang. Pilihan kecil itu terasa penting: ia menentukan sendiri apa yang disimpan dan siapa yang melihatnya.
Sampai di rumah, aku menuliskan pada sampul map tanggal konsultasi dan daftar dokumen yang perlu dibawa lagi. Ibu Dimas membaca tulisanku, mengganti satu kata yang menurutnya tidak tepat, lalu memintaku menghapus nomor telepon yang tidak relevan. Aku menurut. Ia bertanya apakah aku keberatan jika pada pertemuan berikutnya ia pergi sendiri. Aku menjawab tidak. Aku ingin hadir karena ia meminta, bukan membuatnya merasa harus selalu ditemani.
Ketika beliau kembali membaca daftar itu di rumah, ia memilih sendiri tiga hal yang ingin ditanyakan pada sesi berikutnya. Aku mencoret pertanyaan lain yang hanya kutambahkan karena penasaran. Ia tidak perlu membuka seluruh kisah kepada siapa pun hanya agar orang lain menganggap bantuannya cukup.
Aku membacakan kembali tiga pertanyaan itu dan beliau membenarkan urutannya.
Petugas mengingatkan kami untuk menyimpan surat asli dengan aman.
Aku menandai tanggalnya di kalender dapur.
Beliau menyimpan map di tempat yang mudah dijangkau.