Pagi berikutnya ibu Dimas mengirim pesan bahwa salah satu nomor kembali menelepon. Ia bertanya apakah aku bisa datang sebelum ia menjawab. Aku sedang menunggu pemilik kios mengirim uang muka, jadi aku memastikan jamnya dulu. Kami sepakat bertemu setelah makan siang.
Saat sampai, beliau sudah menaruh ponsel dan map di atas meja. Ia meminta aku duduk di sebelahnya. Sebelum menelepon balik, ia membaca pertanyaan yang telah disusun: minta identitas pihak yang menghubungi, jumlah yang dimaksud, dasar tertulis, dan alamat untuk mengirim surat. Ia mengatakan tak akan memberi jawaban soal pembayaran hari ini.
Telepon berdering cukup lama. Ketika tersambung, ibu Dimas berbicara dengan suara pelan tetapi jelas. Ia meminta nama perusahaan dan meminta seluruh rincian dikirim tertulis. Pihak di seberang mengatakan ia bisa menjelaskan lewat telepon. Beliau mengulang permintaannya. Setelah beberapa kali mendesak, ia berkata akan mengakhiri panggilan bila rincian tertulis tak diberikan.
"Aku akan menunggu suratnya," katanya, lalu menutup telepon.
Tangannya gemetar setelah itu. Aku menyodorkan air putih. Ia minum seteguk, lalu meminta aku mencatat waktu panggilan dan kalimat yang masih ia ingat. Aku menulis sebagaimana ia ucapkan, bukan menambahkan penilaian bahwa orang itu mengancam atau melanggar aturan. Ada bagian yang tidak ia ingat tepat, dan kami menandainya begitu.
"Aku takut mereka datang ke rumah," katanya.
"Kalau ada yang datang, Ibu tidak harus membuka pintu sendirian. Ibu bisa menghubungi orang yang dipercaya dan meminta mereka menjelaskan identitasnya. Kita juga bisa tanya layanan warga lagi."
Beliau mengangguk. Aku tidak menjanjikan bahwa tak akan terjadi apa-apa. Janji itu hanya akan membuatku terdengar baik untuk beberapa menit.
Kami meninjau salinan informasi dari kantor. Di sana tercantum jam konsultasi lanjutan dan hal yang perlu dibawa. Ibu Dimas ingin menghubungi mereka sendiri. Ia meminta aku hanya memeriksa nomor yang ia tulis, memastikan satu digitnya tidak salah. Setelah memastikan, aku menutup buku catatan dan memberinya ruang menelepon.
Ia membuat janji untuk pekan depan. Ketika menutup telepon, wajahnya tampak lelah, tetapi ada ketegasan yang sebelumnya belum terlihat. "Aku yang buat janji," katanya.
"Iya."
"Jangan nanti kamu bilang kita buat janji."
Aku tersenyum. "Ibu yang membuat. Aku duduk di sini."
Sore harinya aku menerima uang muka dari pemilik kios. Aku membalas dengan bukti penerimaan dan mengatur tanggal pembelian bahan. Ibu mengirim pesan lagi bahwa surat tertulis belum datang. Ia tak meminta aku datang. Aku bertanya apakah ia ingin mengabari Pak Ujang kalau telepon itu membuatnya cemas. Ia menjawab ia sudah menelpon beliau sendiri dan mereka akan duduk bersama di warung besok.
Aku merasa lega, tetapi tidak mengubahnya menjadi pujian panjang. Aku hanya menjawab, "Baik. Kalau ada yang perlu dicatat, simpan tanggalnya."
Malam itu Nara menelepon. Ia bilang ayahnya marah saat ia meminta salinan beberapa dokumen, tetapi omnya membantu mencari berkas di lemari. Mereka baru mengumpulkan sebagian. Ia tidak tahu apakah semua catatan lengkap.
"Kamu masih mau lanjut bicara dengannya?" tanyaku.
"Iya. Aku cuma nggak mau melakukannya tiap jam. Besok aku mau keluar sebentar beli keperluan. Kami lanjut malamnya."
"Jangan lupa makan."
"Kamu juga jangan lupa istirahat setelah kerja."
Kami saling menanyakan hari tanpa mencari janji yang lebih besar. Sebelum menutup telepon, ia berkata belum ingin membicarakan hubungan kami. Aku menjawab aku tidak meminta pembicaraan itu sekarang. Kami diam sejenak, lalu ia mengucapkan selamat malam.
Aku menyadari betapa mudahnya berharap setiap kabar berarti sesuatu untukku. Namun Nara sedang mengurus ayah dan urusan keluarga. Aku bisa menyayanginya tanpa membuat setiap kalimatnya menjadi tanda tentang masa depan kami.
Aku duduk di teras rumahnya sementara beliau merapikan map. Ia bertanya apa yang kulakukan setelah Dimas meninggal. Aku mengaku beberapa hari hanya duduk dan kehilangan pesanan kerja. Ia tidak menghiburku dengan mengatakan Dimas pasti ingin aku bahagia. Ia berkata ia juga masih sering terbangun karena mendengar bunyi motor yang mirip motor anaknya.
"Kalau rasa bersalah datang, aku bilang pada diri sendiri mungkin ada yang bisa kulakukan," katanya. "Tapi kadang aku tahu itu cuma cara supaya aku tidak merasa tak berdaya."
Aku tak punya jawaban yang dapat mengubah pengalaman itu. "Aku juga sering berpikir kalau aku bertanya lebih banyak, mungkin semuanya beda. Tapi aku nggak tahu. Aku nggak bisa memastikan."
Beliau menatapku, lalu mengangguk. "Jangan jadikan aku bukti bahwa kamu harus selalu berjaga untuk semua orang."
Kalimat itu membuatku terdiam. Ia tidak ingin aku mengubah duka menjadi tugas tanpa batas. Kami sepakat aku akan membantu mencatat atau menemani jika diminta, sementara keputusan tentang rumah dan dokumen tetap ada padanya.
Sebelum pulang, aku bertanya apakah ada hal lain yang ia perlukan hari itu. Ia meminta aku mengembalikan kursi ke ruang depan dan menutup jendela belakang. Tidak ada daftar permintaan besar. Aku melakukannya, lalu memastikan kunci rumah ada di tempat biasa. Beliau berkata jika surat datang lagi, ia akan menghubungi Pak Ujang lebih dulu dan baru meminta bantuanku jika perlu. Aku menyadari itu keputusan sehat, bukan penolakan terhadapku.
Di jalan pulang, aku membeli bahan untuk makan malam. Ibu meminta aku membeli sayuran yang sedang murah dan tidak membeli minuman manis. Aku mengikuti daftar itu. Ketika memasak, aku melihat ayah menata alat kerjanya setelah memperbaiki pagar. Kami bertiga makan tanpa banyak bicara, tetapi ibu menanyakan jadwal kerjaku besok dan ayah menyebut kapan ia akan mengembalikan kunci tetangga. Percakapan itu sederhana, namun aku tak lagi menganggap rumah sebagai tempat yang hanya menunggu aku pulang membawa uang.
Aku tidak membawa fotokopi surat atau menyimpan angka tagihan di ponsel. Catatan yang kubuat hanya tanggal panggilan dan hal yang ibu Dimas minta untuk diingat. Saat sampai rumah, aku menulis bahwa beliau ingin memiliki waktu sebelum menjawab. Detail lainnya tetap miliknya.
Ia menyimpan salinan itu dalam map, lalu mengucapkan terima kasih.