Pekan itu aku menerima kabar bahwa mural sekolah harus selesai sebelum acara kecil akhir bulan. Aku melihat kalender dan menyadari waktuku akan bertabrakan dengan jadwal konsultasi ibu Dimas. Aku menelepon beliau, bukan mengubah jadwal diam-diam. Aku menjelaskan bahwa aku bisa mengantar pagi, tetapi harus pergi ke sekolah setelahnya.
"Kalau begitu, kita berangkat lebih pagi," katanya. "Aku tidak mau kamu kehilangan pekerjaan."
Aku menawarkan ayah untuk mengantar bila sesi konsultasi berlangsung lama. Ibu Dimas setuju, tetapi meminta ayah tidak perlu masuk ke ruang konsultasi kecuali ia sendiri memintanya. Aku menyampaikan batas itu kepada ayah. Ia menerima tanpa tersinggung.
Di rumah, ayah menyiapkan motor dan memeriksa bensin. Ibu bertanya apakah kami akan pulang sebelum makan siang. Ayah berkata belum tentu. Ibu mengemas sedikit nasi dan lauk untuk dibawa, bukan sebagai bekal besar, hanya agar kami tidak perlu membeli mahal di jalan. Aku melihat mereka berkoordinasi tanpa menyebutnya bantuan. Barangkali begitulah keluarga bekerja saat tidak ada yang ingin membuat orang lain merasa berutang.
Pagi konsultasi, ibu Dimas datang membawa map yang lebih rapi. Ia sendiri menjelaskan mana surat yang sudah dibalas dan mana yang masih menunggu. Aku hanya menuliskan istilah yang ingin ia tanyakan. Ayah menunggu di luar. Setelah sekitar satu jam, kami keluar dengan saran untuk melanjutkan meminta rincian dan menyimpan semua komunikasi. Tak ada kesimpulan tentang jumlah akhir. Ibu Dimas memilih mengirim permintaan tertulis sebelum mempertimbangkan hal lain.
Di perjalanan pulang, aku sempat mengantar ibu Dimas ke rumah, lalu bergegas menuju sekolah. Ayah menemaninya masuk rumah, sesuai permintaannya. Aku terlambat lima belas menit ke lokasi mural. Kepala sekolah sudah menunggu, tetapi menerima penjelasanku. Aku meminta maaf dan mulai bekerja tanpa mengeluh soal jadwal.
Saat makan siang, aku membuka pesan dari ibu Dimas: "Terima kasih. Besok aku akan coba kirim suratnya sendiri. Kalau bisa, cek saja apakah alamatnya sudah benar." Aku menjawab bahwa aku akan melihatnya jika ia meminta. Ia mengirim foto amplop yang sudah ditulis. Aku memeriksa alamat yang tercetak di lembar petunjuk, lalu memberitahu bahwa tulisannya sesuai. Tidak ada kalimat seolah aku mewakili beliau.
Malamnya, aku berbicara dengan ayah tentang bantuan yang kuberikan. "Aku tidak ingin Ibu Dimas bergantung pada satu orang," kataku. "Aku bisa menemani, tapi kalau aku kerja, beliau juga punya Pak Ujang."
Ayah mengangguk. "Bagus. Orang yang membantu harus tahu kapan memberi ruang."
"Ayah bisa mengantar tadi."
"Karena kamu minta. Kalau beliau tidak mau, ya kita tidak memaksa."
Aku memandang tangannya yang kasar, bekas bertahun-tahun bekerja dengan mesin. "Ayah kangen kerja pabrik?"
Ia diam cukup lama. "Kadang. Bukan pabriknya. Rutinitasnya. Punya alasan bangun pagi." Ia mengusap lutut. "Tapi sekarang aku harus cari alasan lain."
Aku ingin bertanya apa alasan itu, tetapi ia belum selesai memikirkan. Aku hanya berkata jika ada pekerjaan pagar lagi, aku bisa membantunya mengangkat bahan. Ia mengangguk.
Nara mengirim pesan malam itu bahwa ia sempat berjalan bersama omnya dan merasa lega keluar rumah. Mereka belum menyelesaikan seluruh dokumen. Aku membalas bahwa aku senang ia mengambil waktu, lalu mengirim foto satu bagian mural yang sudah selesai. Ia memperbesar gambar dan berkomentar tentang pohon yang masih miring.
"Memang sengaja," kataku.
"Bagus. Jangan diluruskan cuma karena orang menyuruh."
Aku membaca kalimat itu dan tak segera membalas. Bukan karena menganggapnya tanda rahasia, tetapi karena ia terdengar seperti sedang memberi semangat pada dirinya sendiri juga. Aku menulis, "Aku belajar."
Sore itu ayah dan aku membantu memasang satu papan pagar yang miring di rumah tetangga. Ayah menunjukkan cara mengukur jarak dan meminta aku menahan ujung kayu. Ia bergerak hati-hati, lebih pelan daripada yang kubayangkan. Setelah selesai, tetangga membayar sesuai yang disepakati. Ayah membagi uang untuk bahan dan upah, lalu menyimpan sisanya dalam dompet. Ia tidak mengatakan pekerjaan itu kecil atau tidak berarti.
"Kamu terlihat lebih santai," kataku saat kami kembali.
"Aku cuma capek."
"Capeknya beda?"
Ia tersenyum sedikit. "Mungkin. Kalau kerja, setidaknya aku tahu kenapa tanganku pegal."
Di rumah, ibu bertanya apakah upah cukup untuk mengganti sekrup yang dipakai. Ayah menyebut jumlahnya, lalu mereka mencatatnya bersama. Tak ada yang mencoba menyembunyikan uang atau berpura-pura pekerjaan ini cukup untuk menutup semua kebutuhan. Aku membantu menghitung dan menyadari keluarga kami juga bisa bekerja sebagai tim tanpa membuat satu orang merasa menjadi beban.
Malamnya aku mengirim pesan kepada ibu Dimas bahwa jadwal muralku berubah satu jam. Aku memastikan ia tetap nyaman pergi bersama ayah bila konsultasi berlangsung lama. Ia menjawab ingin berangkat bersama kami, tetapi hanya aku yang masuk. Ayah akan menunggu di luar. Aku meneruskan batas itu kepada ayah, dan ia setuju.
Sebelum berangkat pagi itu, ayah bertanya apakah ibu Dimas sudah menyetujui ia mengantar. Aku bilang beliau ingin aku yang masuk dan ayah menunggu di luar. Ayah menjawab ia tidak keberatan. Ia membawa koran untuk dibaca sambil menunggu, bukan menawarkan pendapat sebelum diminta. Aku melihat cara ia menghormati batas itu dengan tenang, lalu teringat bahwa aku juga perlu belajar demikian.
Di lokasi mural, aku menerima pesan dari ibu Dimas bahwa ia menemukan map lain berisi kuitansi lama. Ia bertanya apakah perlu dibawa ke konsultasi. Aku menjawab mungkin berguna, tetapi keputusan ada padanya dan lebih baik ia tidak membawa dokumen yang belum ingin diperlihatkan. Ia memilih memasukkannya ke map terpisah. Kami sepakat hanya membawa dokumen yang berkaitan dengan pertanyaan hari itu, agar ia tidak merasa harus membuka seluruh hidupnya di meja konsultasi.
Aku bekerja sampai cat pada dinding mengering. Guru yang lewat bertanya apakah aku bisa menambah satu baris warna, tetapi aku menjelaskan itu di luar rancangan dan memerlukan waktu tambahan. Ia setuju menunggu sampai jadwal berikut. Aku mulai belajar bahwa batas bukan hanya soal keluarga; pekerjaan pun perlu kesepakatan yang jelas.