Surat yang dikirim ibu Dimas belum mendapat balasan. Beliau tidak menghubungiku malam-malam atau menelepon berulang kali. Saat kami bertemu di warung Pak Ujang, ia membawa salinan tanda terima pengiriman dan meletakkannya di meja.
"Aku simpan tanggalnya," katanya.
Pak Ujang menuang teh. "Bagus. Yang penting semua ada catatannya."
Ibu Dimas duduk lebih tegak dari pertemuan pertama. Ia masih tampak lelah, tetapi tidak menunduk terus. Ia bercerita bahwa seorang tetangga menawarkan membantu menjaga warung kecil yang dulu dikelola keluarga. Beliau belum tahu apakah sanggup menjalankannya lagi. Pak Ujang bertanya apa yang ia inginkan, bukan langsung menyusun rencana untuknya.
"Aku ingin mencoba jualan makanan ringan beberapa hari dulu," katanya. "Tidak banyak. Aku belum mau buka tiap hari."
Pak Ujang mengatakan ia bisa membantu menghubungi pemasok yang biasa mengantar bahan ke warung, tetapi ia akan bertanya dulu apakah ibu Dimas ingin nomor itu. Beliau menyetujuinya. Aku menambahkan bahwa aku bisa membantu mengecat papan kecil bila beliau memutuskan mulai, tapi biaya bahan perlu dihitung. Ia tertawa kecil.
"Kamu selalu ingatkan soal biaya."
"Kalau nggak, catnya bisa menghabiskan uang yang seharusnya buat bahan jualan."
Pak Ujang tertawa. Mereka bicara soal ukuran papan dan hari yang mungkin cocok. Tidak ada yang menganggap warung kecil sebagai jawaban bagi semua kebutuhan. Itu hanya satu pilihan yang sedang dipertimbangkan.
Setelah ibu Dimas pulang, Pak Ujang bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku menjawab aku bisa bekerja, tapi beberapa malam masih terbangun mengingat percakapan terakhir dengan Dimas. Pak Ujang tidak menyuruhku melupakan atau berkata waktu menyembuhkan.
"Kalau kau ingat, ya ingat," katanya. "Tapi jangan jadikan ingatan itu satu-satunya tempat tinggal."
Aku mengangguk. Ia menggeser gelas kopi ke arahku. Kami diam sejenak, menyaksikan hujan mulai turun di jalan. Pak Ujang kembali mengurus pelanggan. Aku duduk dan mengamati air mengalir di selokan, lalu pulang setelah hujan mengecil.
Di rumah, ibu bertanya apakah aku bisa membantu membeli obat ayah. Aku mengambil uang dari dompet dan pergi ke apotek. Ayah duduk di teras saat aku kembali. Ia bertanya apakah ibu Dimas sudah mendapat jawaban. Aku berkata belum, tetapi beliau sudah mengirim permintaan dan mulai mempertimbangkan usaha kecil. Ayah berkata ia senang mendengar beliau punya pilihan lain untuk dicoba.
"Jangan terlalu banyak mengurus orang sampai rumah sendiri terlupakan," kata ibu dari dalam.
"Aku tahu, Bu."
"Aku bukan melarang. Aku cuma mengingatkan."
Aku menyerahkan obat kepada ayah dan membantu ibu membawa belanjaan. Tidak ada yang meminta aku memilih antara rumah sendiri dan orang lain. Mereka hanya mengingatkan bahwa tenaga dan uang kami terbatas.
Malam itu Nara mengirim pesan bahwa ia sudah bicara lagi dengan ayahnya. Ia meminta waktu beberapa hari untuk memeriksa dokumen, dan ayahnya setuju walau masih menganggap pernikahan adalah solusi paling cepat. Nara berkata ia belum mengubah jawabannya. Aku membalas bahwa ia tak perlu memberi kabar tiap kali ada percakapan, cukup saat ia ingin berbagi. Ia berkata begitu terasa lebih ringan.
Aku ingin bertanya apakah ia merindukan Majalaya. Namun pertanyaan itu mungkin menuntutnya mengurus perasaanku saat ia sedang berbicara dengan ayahnya. Aku menghapus pesan itu dan menggantinya: "Semoga malam ini kamu bisa istirahat."
Ia membalas, "Kamu juga."
Aku meletakkan ponsel di meja dan melihat halaman catatan tentang hari ibu Dimas ke warung. Aku belum menuliskan ucapan persis Pak Ujang. Mungkin nanti. Untuk saat ini, aku hanya ingin menyimpan urutannya: surat dikirim, tanda terima disimpan, pilihan jualan dipertimbangkan, dan tidak ada yang memaksa beliau memulai sebelum siap.
Ibu Dimas berkata ia tidak yakin bisa berjualan jika setiap panggilan membuatnya gemetar. Pak Ujang tidak menyuruhnya kuat. Ia menyarankan mencoba menyiapkan sedikit makanan dulu dan melihat bagaimana perasaannya setelah satu hari. Ibu Dimas mempertimbangkannya, lalu memilih membuat satu jenis kudapan yang dulu sering dibawa Dimas ke warung. Ia tidak menganggapnya sebagai usaha yang harus sukses. Ia hanya ingin tahu apakah tangannya masih sanggup melakukan sesuatu yang pernah ia nikmati.
Aku bertanya kapan ia ingin mulai. "Mungkin pekan depan," katanya. "Bukan besok."
Kami menghormati itu. Pak Ujang menuliskan nomor pemasok dan memberinya tanpa langsung menelepon. Ia berkata persediaan bisa dibeli sedikit-sedikit. Ibu Dimas memasukkan kertas itu ke dompet, bukan ke map tagihan. Kedua urusan itu perlu tempat masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, aku menyadari ibu Dimas tidak membutuhkan aku untuk mengatur masa depannya. Ia hanya membutuhkan beberapa orang yang tidak menghilang ketika ia berkata belum siap. Aku juga perlu menjaga agar rasa bersalahku tidak membuatku memaksa dirinya bergerak lebih cepat. Di rumah, aku menulis satu catatan tentang batas itu lalu menyimpannya terpisah dari bahan cerita.
Pak Ujang lalu bercerita bahwa Dimas pernah membantu mengangkat karung kopi tanpa meminta upah. Ia tertawa mengingat Dimas meminta satu gelas kopi sebagai pembayaran, kemudian tetap membawa pisang goreng dengan berutang. Ibu Dimas ikut tertawa, tetapi matanya basah. Kami tidak menghentikan tawa itu hanya karena air mata datang. Keduanya bisa hadir bersamaan.
Beliau berkata tidak ingin orang-orang hanya membicarakan bagaimana Dimas meninggal. Ia ingin mereka mengingat ia suka bercanda, suka membantu, dan selalu mengeluh soal kopi terlalu pahit padahal memesan kopi hitam. Aku menyimpan kata-kata itu, tetapi tidak menuliskannya di buku yang kubuka di warung. Aku bertanya apakah beliau ingin cerita itu kelak kucatat. Ia menjawab mungkin, asal dibaca dulu sebelum dipakai. Aku berjanji tidak akan menjadikannya milikku sendiri.
Ibu Dimas mengatakan ia ingin memulai dengan pesanan kecil dari tetangga, bukan langsung membuka warung setiap hari. Ia akan mencatat biaya bahan dan jumlah yang terjual. Aku menawarkan membuat papan setelah ia memutuskan nama dan ukuran. Untuk sementara kami tidak menuliskan apa pun di atas kertas selain rencana yang ia pilih.
Kami sepakat belum memesan papan sebelum ia benar-benar mulai berjualan.