Seminggu setelah permintaan tertulis dikirim, ibu Dimas menerima jawaban. Ia memintaku datang untuk membaca bersama. Aku bertanya apakah Pak Ujang ikut, dan ia menjawab ingin kami bertiga saja. Aku menghubungi Pak Ujang untuk memastikan waktunya, lalu membawa buku catatan dan kacamata baca yang beliau titipkan padaku.
Surat itu menyebut jumlah yang ditagihkan dan menjelaskan dokumen yang menjadi dasar penghitungan, tetapi beberapa tanggal pembayaran belum dicocokkan. Ibu Dimas membaca perlahan. Ia berhenti pada satu bagian dan meminta aku membacakannya ulang. Aku melakukannya tanpa menambahkan tafsiran.
"Ini bukan jawaban lengkap," katanya.
"Belum."
"Tapi sekarang aku tahu apa yang mereka bilang."
Kami menyalin bagian yang perlu ditanyakan lagi. Pak Ujang menyarankan agar beliau menyimpan surat asli dan hanya mengirim salinan jika diminta. Ia tidak mengaku tahu aturan tertentu; ia hanya menyampaikan cara menghindari kehilangan berkas. Ibu Dimas setuju dan menaruh dokumen di map terpisah.
Beliau lalu berkata ia ingin membuat usaha makanan ringan, tetapi hanya dua hari seminggu. Ia meminta Pak Ujang menghubungkannya dengan pemasok. Pak Ujang mengambil kertas kecil dan menuliskan nomor setelah memastikan bahwa beliau siap menelepon sendiri. Aku bertanya apakah ia ingin papan nama. Ia berkata belum perlu. Mungkin setelah mencoba beberapa kali baru ia tahu apa yang dibutuhkan.
"Aku tidak mau semua orang mengira aku sudah kuat hanya karena mulai jualan," katanya.
"Kami tidak akan bilang begitu," jawab Pak Ujang.
Aku mengangguk. Kegiatan itu bukan bukti duka selesai. Ia hanya langkah kecil untuk kembali punya kendali atas hari-harinya.
Saat keluar rumah, aku mengembalikan map ke lemari dan bertanya apakah beliau ingin aku menyimpan salinan catatan. Ia menolak, ingin menyimpannya sendiri. Aku menghapus foto dokumen dari ponselku karena memang tidak pernah mengambilnya. Kami hanya mencatat tanggal dan pertanyaan di buku. Privasinya tetap miliknya.
Aku pulang berjalan kaki melewati warung yang biasa didatangi Dimas. Ada seseorang duduk di bangku tempat kami dulu duduk. Aku tidak berhenti. Rindu muncul, lalu lewat bersama langkah-langkahku. Aku tidak perlu menjadikan setiap tempat sebagai peringatan.
Di rumah, ibu sedang menghitung beras untuk beberapa hari. Aku menawarkan mengambil pesanan papan kios yang akan datang, tetapi ia berkata aku perlu menyelesaikan mural dulu. Kami mengatur siapa membeli kebutuhan rumah dan kapan. Ayah memperbaiki pagar tetangga pada sore hari, dibantu seorang kenalan. Ia pulang membawa uang secukupnya dan terlihat lebih letih daripada yang ia akui.
"Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa," kata ibu ketika ayah duduk.
"Aku cuma ingin berguna," jawab ayah.
"Kamu sudah berguna. Istirahat juga perlu."
Aku mendengarkan dari dapur. Kalimat itu membuat ayah terdiam. Ia minum air, lalu bertanya apakah aku bisa membantunya mengecat pagar besok. Aku melihat jadwal kerjaku dan menyanggupi satu jam sebelum ke sekolah. Kami tidak menjanjikan lebih.
Malamnya Nara menelepon. Ia mengatakan ayahnya meminta ia bertemu lagi dengan keluarga rekan bisnis. Ia belum menjawab ya atau tidak untuk pertemuan itu. Ia meminta waktu memeriksa dokumen terlebih dahulu.
"Aku belum tahu apakah aku sanggup datang dan mendengar mereka bicara soal tanggal," katanya.
"Kamu bisa menetapkan syarat sebelum datang," kataku. "Atau menolak kalau memang tidak siap. Pilihannya tetap milikmu."
"Kalau aku menolak, Ayah mungkin merasa aku tidak mau membantu."
"Kamu sudah membantu mengumpulkan dokumen. Itu tidak sama dengan menyetujui pernikahan."
Nara diam. "Aku tahu. Aku hanya perlu bisa mengatakannya tanpa merasa menjadi anak yang buruk."
"Aku nggak bisa menentukan perasaanmu. Tapi kamu boleh kecewa dan tetap bertahan pada keputusanmu."
Ia menarik napas. "Aku akan bicara lagi dengan Om dulu. Bukan untuk minta dia memutuskan, cuma ingin menyusun kalimat."
"Bagus. Aku akan lanjut kerja mural besok."
"Kamu selalu punya pekerjaan."
"Aku sedang berusaha."
Kami menutup telepon setelah membicarakan jadwal. Tidak ada janji bahwa ia akan kembali atau aku akan datang. Aku kembali ke buku hitam dan menulis tentang ibu Dimas yang memilih mencoba jualan dua hari dalam seminggu. Aku bertanya-tanya bagian mana yang pantas ditulis. Untuk sekarang, aku hanya mencatat keputusan itu di halaman pribadi dan menandai bahwa aku belum meminta izin menggunakannya dalam cerita.
Dimas pernah memintaku menulis yang tidak sempat ia ceritakan. Namun permintaannya tidak memberiku hak atas rahasia ibunya. Aku menutup buku, lalu menyiapkan baju kerja. Besok, aku akan mengecat pagar bersama ayah dan melanjutkan mural. Hal-hal kecil itu tidak menutup kehilangan, tetapi membuat kami tetap hadir satu sama lain.
Saat sampai rumah, ibu Dimas menelepon untuk mengabarkan ia sudah membuat janji lanjutan. Ia membaca tanggal dan waktu agar aku bisa mencocokkan jadwalku, lalu berkata mungkin kali ini ia akan datang sendiri bila Pak Ujang sibuk. Aku menegaskan aku bisa mengantar ke kantor, tetapi tidak harus masuk. Ia akan menentukan setelah melihat bagaimana perasaannya pada hari itu.
"Aku mulai bisa tidur sedikit lebih lama," katanya. "Bukan berarti aku tidak kangen."
"Aku tahu."
"Kadang orang melihat aku keluar rumah lalu mengira aku sudah selesai berduka."
"Kamu tidak perlu menjelaskan kesedihanmu kepada orang-orang itu."
Ia diam, lalu berterima kasih karena aku tidak menyuruhnya cepat pulih. Kami menutup telepon setelah memastikan tanggal, bukan setelah menemukan jawaban untuk semua hal. Aku kembali pada draf catatan pribadiku. Ada banyak halaman kosong yang menunggu, tetapi aku tidak mengisinya dengan kata-kata yang belum mendapat izin.
Pak Ujang membaca draf catatanku yang hanya berisi urutan kegiatan dan berkata tulisanku terlalu kaku. Aku menjawab memang belum menjadi cerita. Ia menyarankan agar aku tidak buru-buru membuat setiap tindakan tampak bermakna. Aku menutup buku dan membantunya mengangkat bangku. Barangkali adegan sederhana juga boleh tetap sederhana.
Sebelum malam, aku memastikan pesanan mural esok tetap bisa kuselesaikan dan memberi tahu ibu jika pulang terlambat.
Aku mengunci pagar sebelum beristirahat.
Tidak ada janji yang kubuat berlebihan.
Aku membaca ulang tanggal konsultasi sebelum mematikan lampu.