Nara menelepon saat aku sedang menunggu cat dasar mengering di halaman sekolah. Aku menyeka telapak tangan pada kain lap sebelum mengangkat. Ia tak langsung menyapa; terdengar suara kertas dibalik dan tarikan napas yang panjang.
"Aku dan Om menyusun berkas lagi," katanya. "Ada catatan yang tidak sama dengan surat yang kemarin."
"Sudah tahu mana yang benar?"
"Belum. Ada pembayaran yang ayah ingat sudah dilakukan, tapi salinannya belum ketemu. Ada juga angka yang mungkin termasuk biaya lain. Aku nggak mau menyebut jumlahnya dulu."
Aku duduk di bangku dekat dinding. Di seberang, guru mengawasi anak-anak yang pulang. "Kamu mau aku bantu apa?"
"Aku cuma ingin cerita. Kalau minta bantuan, nanti aku bilang."
Aku mengangguk meski ia tak melihat. Kadang orang menelepon bukan untuk menyerahkan masalah. Aku bertanya apakah ia sudah makan. Ia tertawa pendek dan mengaku belum. Ia sedang menunggu ayahnya kembali dari ruang belakang dengan map lain.
"Jangan lupa makan," kataku.
"Iya, Pak Raka."
Ia menutup panggilan setelah seseorang memanggilnya. Aku kembali ke tembok, tetapi pikiranku tertinggal sebentar pada berkas yang tak cocok. Aku mengingatkan diri bahwa aku tidak tahu apa isi semua surat itu. Kekhawatiran bukan pengetahuan.
Pekerjaan mural hari itu lebih lambat dari rencana. Warna dasar belum rata karena dinding menyerap cat tidak sama. Aku harus menunggu, lalu mengulang bagian yang belang. Kepala sekolah datang membawa teh dan berkata mereka bisa menunda satu hari jika perlu. Aku menerima waktu tambahan, tetapi menjelaskan kapan akan selesai. Aku tidak ingin membiarkan pekerjaan menggantung hanya karena ada orang yang kusayangi sedang menghadapi urusan rumit.
Sore, aku menerima pesan dari Nara. "Ayah ingin aku menentukan apakah akan bertemu pihak keluarga itu. Aku bilang belum bisa menjawab sebelum tahu berkasnya." Aku membaca kata-katanya dengan hati-hati. Ia tak menulis bahwa ia takut, tetapi aku bisa merasakan berat dari pilihan yang sedang ia tahan.
Aku membalas, "Kamu boleh minta waktu. Pertemuan juga bukan persetujuan, tapi kalau kamu belum siap, bilang begitu."
Ia menjawab, "Aku tahu. Aku cuma nggak mau mereka semua menganggap aku sudah menyetujui."
Aku mengetik dan menghapus beberapa kalimat. Akhirnya kukirim, "Mungkin kamu bisa bilang jelas bahwa datang untuk mendengar bukan berarti menyetujui." Ia membalas dengan tanda baca sederhana: "Aku akan pikirkan."
Di rumah, ibu meminta aku memeriksa kuitansi cat dan menuliskan jumlahnya di buku belanja. Aku mengerjakannya sambil mendengar ayah dan ibu berbicara soal pagar tetangga. Ayah mendapat pesanan kecil lagi, tetapi ia hanya mau menerima jika pengerjaan bisa dilakukan akhir pekan. Ibu mengingatkan agar ia tidak mengambil pekerjaan yang membuat pinggangnya sakit. Mereka berbeda pendapat sebentar, lalu sepakat meminta tetangga menyiapkan bahan.
Aku melihat cara mereka menegosiasikan pekerjaan kecil itu. Tidak ada yang menjadikan kebutuhan rumah sebagai alasan untuk memaksa. Aku berharap Nara dan ayahnya dapat menemukan percakapan yang sama, meski aku tahu itu bukan urusanku untuk mengatur.
Malamnya aku menelepon ibu Dimas untuk menanyakan apakah surat balasan sudah datang. Beliau bilang belum, tetapi ia sedang menyiapkan daftar harga bahan untuk jualan kecil. Aku bertanya apakah ia ingin aku membantu menghitung biaya papan nama. Ia bilang nanti saja setelah tahu apa yang akan dibuat. Aku menghormatinya. Kami berbicara sebentar tentang keadaan rumah dan cuaca, kemudian menutup telepon.
Saat hendak tidur, Nara mengirim pesan bahwa ia akan bicara dengan ayahnya malam itu soal pertemuan. Aku membalas bahwa aku tidak akan menghubungi selama ia sedang bicara. Ia mengucapkan terima kasih.
Aku meletakkan ponsel di laci dan membuka buku hitam. Kutulis hanya yang kutahu: ada berkas berbeda, Nara meminta waktu, mural tertunda sehari, ayah menerima pesanan pagar. Tak ada kesimpulan tentang siapa yang benar atau bagaimana semuanya akan berakhir. Aku menutup halaman sebelum rasa cemas membuatku mengarang jawaban untuk orang lain.
Aku tidak tahu mengapa suara Nara saat membicarakan berkas terasa seperti ia sedang menahan pintu agar tidak tertutup. Aku bertanya apakah ayahnya memberi izin untuk menyimpan salinan. Ia menjawab mereka belum mengumpulkan semuanya, tetapi omnya membantu mengurutkan. Aku menyarankan ia meminta persetujuan sebelum membawa dokumen keluar rumah. Ia berkata sudah melakukannya. Aku tidak ingin satu kalimat dariku membuatnya mengambil risiko yang tidak ia pilih.
Setelah menutup telepon, aku menyelesaikan satu bidang mural yang paling sulit. Cat menetes sedikit ke sisi bawah. Aku membersihkannya sebelum kering. Seorang guru melihat dan bertanya apakah aku ingin ia menggeser bangku agar lebih mudah menjangkau. Aku menerima bantuan itu. Selama ini aku sering berpikir meminta pertolongan berarti mengurangi upah atau menunjukkan kelemahan. Ternyata yang dibutuhkan hanya membagi pekerjaan dengan jelas.
Malamnya aku memperbarui daftar biaya untuk pesanan kios. Ibu melihat angkanya dan mengingatkanku bahwa uang muka belum cukup untuk menutupi semua bahan. Aku menghubungi pelanggan dan menanyakan apakah ia bisa menambah sebagian atau memilih ukuran lebih kecil. Ia memilih ukuran lebih kecil. Aku mengubah sketsa tanpa menyalahkan keadaan. Kesepakatan yang jelas menyelamatkan kami dari pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu.
Ketika pulang, aku menyebut kepada ibu bahwa Nara meminta waktu untuk memahami dokumen sebelum menjawab. Ibu berkata ia mengerti, sebab keluarga kami pun pernah menerima angka pesangon yang tampak besar sebelum dihitung dengan biaya hidup. Ayah menyimak dari ruang depan. Ia tidak membandingkan masalah kami dengan masalah Nara. Ia hanya berkata setiap keluarga punya cara sendiri menghitung kehilangan. Aku menuliskannya di buku, lalu menunjukkan kepada ibu. Ia berkata kalimat itu boleh kusimpan, tetapi jangan menuliskan nama ayah tanpa bertanya lagi.
Aku menyimpan ponsel, lalu menyelesaikan garis mural yang tersisa sebelum pulang.
Aku memastikan alat lukis masuk ke kotak sebelum hujan turun lagi. Besok masih ada bagian tembok yang perlu diperiksa.
Aku mengunci gudang sekolah sebelum berpamitan kepada guru piket.
Aku menaruhnya di dekat buku kerja agar tidak lupa.