Pagi berikutnya Nara mengirim pesan sebelum aku berangkat. Ia sudah berbicara dengan ayahnya. Ia bilang ayahnya ingin keluarga rekan bisnis itu segera mendapat jawaban, sementara ia meminta waktu sampai berkas diperiksa. Pembicaraan itu berakhir tanpa kesepakatan selain mereka akan mengumpulkan dokumen yang masih tercecer.
Aku membacanya sambil duduk di motor. Ibu keluar membawa bekal dan mengingatkanku agar tidak membaca ponsel saat berkendara. Aku menyimpannya, lalu baru menjawab setelah sampai di sekolah.
"Bagaimana perasaanmu setelah bicara?"
"Capek. Tapi aku lebih lega daripada kalau cuma menghindar."
Aku membalas bahwa aku senang ia bisa mengatakan apa yang ia butuhkan, lalu mulai mengecat. Bagian dinding yang menunggu sejak kemarin tidak akan selesai hanya karena aku memikirkan Jakarta.
Menjelang siang, kepala sekolah menunjukkan hasil rancangan yang telah ia setujui. Ia meminta garis di sekitar pot tanaman dibuat lebih tipis agar tidak tampak seperti bingkai. Aku mengubahnya. Anak-anak mengintip dari balik pagar dan bertanya kapan gambar selesai. Aku menyebut hari yang sama, selama cat mengering sesuai perkiraan. Mereka berlari sambil bersorak, membuatku tertawa.
Saat istirahat, aku menelepon Pak Ujang untuk menanyakan apakah ibu Dimas sudah menghubungi pemasok. Pak Ujang berkata beliau baru mengirim pesan sendiri dan sedang mempertimbangkan jumlah bahan. Ia tak ingin membeli banyak sekaligus. Aku menyetujui. Lebih baik memulai kecil daripada menambah beban baru.
Setelah menutup telepon, aku menulis ulang rencana mural di buku kerja. Aku mencatat biaya, jumlah cat, dan waktu pemasangan. Aku tak ingin mengulang kebiasaan lama menyetujui pekerjaan sambil berharap semuanya akan teratur sendiri. Perubahan itu terasa sederhana, tapi membuatku lebih hadir pada hidupku sendiri.
Sore hari Nara menelepon. Kali ini suaranya lebih tenang. Ia mengatakan ia meminta ayahnya mengundang omnya untuk membantu memilah berkas, bukan memutuskan pernikahan. Ayahnya setuju, meski masih berulang kali mengingatkan bahwa waktu mereka terbatas.
"Dia takut usaha benar-benar berhenti," kata Nara. "Aku juga takut. Tapi aku nggak bisa menjadikan pernikahan sebagai jawaban sebelum tahu apa yang sebenarnya harus dihadapi."
"Aku paham."
"Kamu pikir aku egois?"
"Menurutku kamu sedang meminta informasi sebelum membuat keputusan besar. Itu bukan egois."
"Aku bukan minta kamu membenarkan aku, Rak."
"Aku tahu. Aku cuma menjawab pertanyaanmu."
Nara tertawa kecil. Ia lalu bercerita tentang meja makan yang kini dipenuhi berkas. Sebagian catatan tersimpan di kotak, sebagian di map. Mereka belum menemukan semua salinan pembayaran. Ia merasa bersalah melihat ayahnya mengerjakan semuanya sendiri, tetapi juga tidak ingin mengambil alih seluruh urusan usaha.
Aku bertanya, "Ada pekerjaan yang bisa kamu bantu tanpa mengorbankan keputusanmu?"
"Mungkin mengelompokkan dokumen dan menelepon untuk meminta salinan. Itu bisa kulakukan. Tapi bukan membuat janji atas nama ayah."
"Kalau begitu, mulai dari situ."
Ia menghela napas. "Aku ingin tetap membantu keluarga. Aku cuma tidak ingin bantuan itu ditukar dengan masa depanku."
Aku tidak menyela. Kalimat itu sudah cukup jelas. Ia tidak menolak keluarganya; ia menolak cara yang membuat dirinya menjadi alat pembayaran.
Malam itu ayah bertanya bagaimana mural berjalan. Aku menunjukkan foto dinding yang hampir selesai. Ia memperbesar gambar dengan jarinya yang kasar dan berkata warna langitnya terang. Aku menjawab kepala sekolah meminta gambar yang membuat halaman tampak lebih hidup. Ayah berkata mungkin ia bisa membantu membuat bingkai kayu kecil untuk papan yang akan kukerjakan bulan depan. Aku menerima tawarannya, lalu bertanya berapa upah yang ia inginkan. Ia tertawa dan bilang bahan saja cukup, tetapi ibu dari dapur menyela bahwa tenaga juga ada harganya. Ayah tidak membantah.
Aku menyimpan foto mural dan pesan Nara secara terpisah. Satu adalah pekerjaanku, satu lagi kisah yang bukan milikku untuk dibuka. Aku berharap dapat mendukungnya tanpa menyamar sebagai penyelamat. Untuk saat ini, tugas masing-masing cukup jelas: aku menyelesaikan tembok; Nara mengumpulkan berkas dan meminta waktu.
Sore hari aku mengantar ayah mengembalikan alat kepada tetangga. Di jalan, ia bertanya apakah Nara sudah memutuskan pulang ke Majalaya. Aku menjawab ia belum tahu. Ayah mengangguk dan tidak menanyakan lebih jauh.
"Kamu suka sama dia?" tanyanya setelah beberapa langkah.
Pertanyaan itu membuatku berhenti. "Aku belum tahu harus menyebutnya apa."
"Kalau begitu jangan buru-buru memberi nama."
Aku menatapnya. Ayah jarang bicara tentang hubungan. Ia hanya berkata ia pernah melihat orang terburu-buru menikah karena merasa perlu memperbaiki keadaan. Ia tidak menyebut siapa atau kapan. Aku bertanya apa ia menyesal dengan pilihannya sendiri. Ayah menjawab tidak, tetapi ia tak ingin Nara dipaksa mengambil keputusan yang bukan miliknya.
Kami melanjutkan jalan tanpa membahasnya lagi. Setibanya di rumah, ibu menyambut kami dengan kabar bahwa tagihan listrik sudah dibayar. Ayah menyerahkan sisa uang upah pagar untuk membeli sekrup baru. Aku melihat mereka mencatat semuanya dengan terbuka. Tidak ada kejutan, tetapi ada rasa aman yang tumbuh dari keterusterangan.
Sebelum tidur, aku mencatat jadwal pemasangan dan menghitung sisa uang untuk bahan. Ibu melihatku menulis dan bertanya apakah catatan itu untuk novel. Aku bilang belum, masih daftar kerja. Ia tersenyum, "Bagus. Jangan sampai semua hal di rumah jadi bahan tulisan." Aku berjanji akan memilah. Menulis bukan alasan untuk membuat keluargaku kehilangan privasi. Aku mulai memahami bahwa batas itu bukan penghalang karya, melainkan cara menghormati orang-orang yang masih tinggal bersamaku.
Aku tidak menulis lebih jauh tentang percakapan itu. Mereka berhak memilih sendiri kapan ceritanya boleh dibagikan.
Ayah bertanya apakah aku akan ikut mengantar beliau minggu depan. Aku menjawab bisa, lalu mencatat waktunya agar tidak bertabrakan dengan pesanan. Ia mengangguk dan meminta aku memberi kabar jika jadwal berubah. Aku berjanji akan melakukannya.
Aku mencuci gelas kopi dan meletakkannya kembali di rak. Hal sederhana seperti itu membantu pikiranku kembali ke rumah.
Kami menunggu tanpa menetapkan tanggal yang belum pasti.
Ia tidak meminta jawaban segera dan aku pun tidak menebak hasil akhirnya.