Pagi Sabtu aku berangkat mengambil bahan papan. Pemilik kios menunggu dengan daftar warna dan ukuran. Kami memeriksa kayu, menghitung biaya, lalu menyesuaikan satu baris tulisan agar tak perlu membeli bahan tambahan. Ia menandatangani nota dan menyerahkan sisa uang muka. Aku menerima tanpa merasa perlu meminta maaf atas harga yang sudah kami sepakati.
Di rumah, ayah dan aku membuat bingkai untuk papan pesanan lain. Ia menunjukkan cara mengukur sudut, aku memegang kayu. Kami tak selalu sepakat soal cara menyambungnya. Ayah lebih suka mengulang pengukuran; aku ingin cepat memasang. Akhirnya kami melakukan sekali lagi dan hasilnya pas.
"Kadang lebih cepat kalau diperiksa dua kali," katanya.
"Kalau cat, kadang perlu tiga kali."
Ia tertawa kecil. Ibu membawa teh dan melihat hasilnya. "Kalau kalian selesai, jangan lupa bereskan serbuk kayu. Jangan ditinggal sampai besok."
Kami membereskan bersama. Ayah tidak menyuruhku melakukan semua sendiri; aku tidak pura-pura ia tak butuh bantuan. Ada pembagian sederhana yang bisa kami lakukan.
Siang hari Nara menelepon. Ia mengatakan belum ada pertemuan dengan keluarga rekan bisnis. Ayahnya ingin memahami dulu berkas yang terkumpul. Sebagian dokumen masih perlu dicari, tetapi mereka sudah membuat daftar apa yang ada dan apa yang belum ditemukan. Ia terdengar lelah, namun lebih mantap.
"Kami belum tahu berapa kewajiban akhirnya," katanya. "Ayah mulai menerima bahwa menikah tidak otomatis menyelesaikan semua catatan. Tapi dia masih berharap aku berubah pikiran."
"Kamu masih sama?"
"Iya. Aku belum mau menikah. Aku juga belum tahu seperti apa hubungan kami nanti. Aku ingin membicarakan itu terpisah dari masalah keluarga."
Aku mendengar pilihan kata-katanya. Ia tidak menjanjikan bahwa hubungan kami akan menjadi sesuatu. Aku menghormati kejelasan itu, meskipun ada bagian diriku yang ingin bertanya apakah ia juga memikirkanku.
"Aku senang kamu punya ruang untuk bilang begitu," kataku.
"Aku perlu ruang itu. Kalau tidak, aku hanya akan membuat satu janji untuk menenangkan semua orang."
Aku mengatakan bahwa aku juga sedang mencoba membedakan harapan dari rencana. Aku menjelaskan bahwa pesanan mural berikutnya belum pasti dan aku tak ingin menyebutnya pendapatan sebelum benar-benar disepakati. Nara bertanya apakah keluargaku masih cemas. Aku menjawab iya, tetapi kami sedang berbicara lebih terbuka.
Sebelum menutup telepon, ia meminta aku tidak mengubah semua ini menjadi cerita cinta yang membuatnya tampak seperti orang yang harus memilih Raka atau keluarga. Aku terdiam, lalu menjawab, "Aku nggak mau begitu. Kamu bukan hadiah untukku, dan keluargamu bukan lawanku."
"Terima kasih."
Kami tidak berbicara lama. Ia harus membantu ayah mengurutkan beberapa catatan. Aku kembali mengerjakan papan dan memberitahu ibu bahwa aku akan pulang sore. Hari berjalan dengan pekerjaan yang dapat kuselesaikan, bukan dengan menunggu kabar.
Menjelang malam, ibu Dimas datang ke warung Pak Ujang untuk bertanya apakah ia bisa mencoba menjual makanan ringan minggu depan. Ia sudah menuliskan biaya bahan dan jumlah yang ingin dibuat. Pak Ujang bertanya apakah ia ingin menaruh beberapa bungkus di warungnya. Ia meminta waktu berpikir, lalu memutuskan mencoba hanya satu hari. Aku tidak menawarkan papan nama lagi. Ia sendiri akan memberi tahu bila butuh.
Ketika pulang, aku mencatat jadwal kerja dan jadwal keluarga. Peta hidupku masih penuh ruang kosong. Tidak ada kepastian tentang pesanan, buku, atau Nara. Tapi beberapa keputusan sudah jelas: aku akan menyelesaikan pekerjaan, membantu rumah tanpa menganggap diriku penyelamat, dan meminta izin sebelum menulis tentang orang yang masih hidup.
Nara mengirim pesan singkat, "Malam ini kami berhenti menyusun berkas. Besok lanjut." Aku membalas, "Istirahat. Aku juga selesai kerja." Ia mengirim foto secangkir teh. Aku mengirim foto papan yang hampir rampung.
Kami tidak sedang berjanji akan selalu saling berkabar setiap jam. Kami hanya menjaga agar diam tidak berubah menjadi hukuman atau dugaan. Aku menutup hari dengan membasuh tangan, memeriksa ulang uang bahan, dan menyimpan buku hitam.
Peta itu belum selesai. Mungkin memang tidak ada peta yang selesai sebelum perjalanan berakhir. Untuk sekarang, aku tahu satu arah yang kupilih: tetap berada di Majalaya, bekerja, dan menulis dengan jujur. Nara memilih jalannya sendiri di Jakarta. Kami belum tahu apakah kedua jalan itu akan bertemu lagi, dan aku tidak akan menggambar garis di antara keduanya tanpa bertanya.
Saat menutup panggilan, Nara berkata ia ingin menjauh sebentar dari meja makan yang penuh map. Ia memilih pergi berjalan dengan omnya ke toko dekat rumah. Aku bertanya apakah ia aman dan nyaman; ia menjawab iya dan hanya ingin membeli minuman. Aku tidak meminta foto atau terus mengirim pesan. Beberapa jam kemudian ia mengabari bahwa ia sudah kembali.
Di rumahku, ayah selesai membuat bingkai papan. Aku mengukur sudutnya dan menemukan satu sisi perlu dirapikan. Kami memperbaikinya bersama. Ibu mengingatkan agar kami tidak bekerja setelah malam karena besok ada pesanan. Ayah setuju, lalu menyimpan alat. Tidak ada pembicaraan tentang harapan besar. Hanya satu pekerjaan yang selesai tepat waktu.
Aku menulis di buku bahwa Nara sedang menata berkas, bukan hidupku. Kalimat itu membuatku berhenti sejenak. Aku mencoretnya karena terdengar seolah ia menjadi beban. Kutulis ulang: "Nara sedang menata urusannya. Aku sedang menata pekerjaanku. Kami boleh saling memberi kabar tanpa saling mengambil alih."
Aku kemudian meminta izin kepada ibu untuk menyimpan cerita tentang rumah hanya dalam catatan pribadi. Ia berkata aku boleh menulis untuk diriku sendiri, tetapi jika ingin membagikannya, tunjukkan dulu. Aku menyanggupi. Ayah mendengar dan berkata ia belum tahu apakah ingin membaca. Aku menjawab tidak apa-apa. Ia tak perlu memutuskan sebelum tulisannya ada.
Aku menyimpan halaman itu di laci, terpisah dari catatan pesanan dan belanja rumah.
Di luar, suara kendaraan perlahan berkurang. Aku membiarkan malam selesai tanpa membuka kembali percakapan yang sudah kututup.
Aku mematikan lampu dapur setelah memastikan ibu sudah selesai menghitung belanja.
Aku membiarkan sisa malam berjalan tenang.
Aku memeriksa kembali tanggal pesanan sebelum beristirahat.