Satu pekan setelah Nara berangkat, aku duduk di rumah ibu Dimas dengan buku hitam tertutup di atas lutut. Aku sudah beberapa kali menulis namanya, lalu menghapus semua kalimat setelahnya. Setiap kata terasa seperti mengambil sesuatu yang bukan milikku.
"Aku mau tanya soal tulisan," kataku akhirnya. "Dimas pernah minta aku terus menulis. Tapi aku nggak mau menganggap suratnya sebagai izin untuk menceritakan semuanya."
Ibu Dimas menatap buku itu, lalu menatapku. "Kamu ingin menulis apa?"
"Aku belum tahu. Mungkin tentang hal-hal yang aku ingat waktu kami berteman. Aku ingin bertanya dulu bagian mana yang Ibu nyaman kalau kubawa ke cerita."
Beliau terdiam lama. Aku mulai menyesal telah membuka percakapan itu, tetapi ia mengangkat tangan seolah meminta waktu.
"Aku mau Dimas diingat sebagai orang yang hidup," katanya. "Bukan hanya karena cara dia meninggal. Tapi ada hal-hal yang belum siap kubicarakan."
"Aku tidak akan bertanya soal bagian yang Ibu tidak ingin ceritakan."
"Jangan menulis suratnya dulu. Itu milikmu, tapi juga kata-kata Dimas. Aku belum tahu apakah orang lain boleh membacanya."
Aku mengangguk dan menulis batas itu di halaman terpisah, bukan di halaman cerita. Tidak ada nama, hanya pengingat: jangan menggunakan surat tanpa persetujuan. Ibu Dimas melihat catatanku dan meminta satu hal lagi.
"Kalau kamu menulis tentang Ibu, tanya dulu juga."
"Tentu."
Kami duduk beberapa menit tanpa membuka buku. Dari luar terdengar suara tukang sayur melewati gang. Ibu Dimas berdiri mengambil dua cangkir teh. Aku membantunya memindahkan nampan, lalu menunggu sampai ia duduk kembali.
Beliau bercerita bahwa Dimas pernah lupa membawa uang saat membeli makanan di warung. Ia kembali keesokan hari untuk membayar, padahal Pak Ujang sudah menghapus utangnya dari buku. Dimas tetap memaksa meletakkan uang di meja. Aku tertawa kecil karena mengingat wajahnya yang sok serius saat meminta kuitansi untuk sesuatu yang nilainya bahkan tak sampai harga bensin.
"Dia memang begitu," kata ibunya. "Kalau berutang, dia malu. Kalau memberi, dia tidak pernah cerita."
Aku bertanya apakah cerita itu boleh kutulis tanpa menyebut nama warung atau jumlah. Beliau berkata boleh, asal tidak membuat Dimas terdengar seperti orang suci. Ia kadang pelit, kadang ceroboh, dan sering menunda mencuci piring. Aku menulis tiga sifat itu di catatan, lalu menyadari betapa mudahnya satu cerita mengubah seseorang menjadi tokoh sempurna.
"Dia orang biasa," katanya. "Aku ingin orang ingat dia juga pernah kesal, tertawa, dan membuat rumah berantakan."
Aku bertanya tentang hal-hal yang ia suka lakukan sepulang kerja. Ibu Dimas menyebut ia sering duduk di teras, melepas sepatu, lalu mengeluh betisnya pegal. Ia tidak selalu menceritakan pekerjaannya. Kadang ia hanya meminta nasi tambahan dan tidur lebih awal.
Aku menuliskan itu, lalu membacakan kembali. Ibu Dimas membetulkan bahwa Dimas selalu mencuci tangan sebelum duduk, bahkan saat pulang terburu-buru. Koreksi itu kecil, tetapi membuat ingatan terasa lebih milik mereka daripada karanganku.
Sebelum pulang, aku bertanya apakah ia ingin membaca semua yang kutulis sebelum cerita itu dibagikan. Beliau menjawab iya. Aku berjanji tak akan menerbitkan atau mengirim naskah kepada siapa pun sebelum ia membaca bagian tentang Dimas. Ia tidak meminta tenggat atau menjanjikan akan menyetujuinya.
Di jalan, aku mampir ke warung Pak Ujang. Aku bercerita bahwa ibu Dimas memberiku beberapa kenangan yang boleh dicatat. Pak Ujang berkata ia juga punya cerita, tetapi menunggu sampai aku bertanya. Ia tidak langsung menceritakan apa pun. Aku menghargai diamnya.
Malam itu aku membuka buku hitam dan menulis satu halaman tentang Dimas yang datang membayar utang kopi meski sudah dimaafkan. Aku tidak menulis tentang kematiannya. Setelah selesai, aku membaca ulang dan menghapus kalimat yang menyebutnya "terlalu baik untuk dunia ini." Kalimat itu terdengar indah, tetapi menjadikan kematiannya semacam bukti kebaikan. Aku tidak ingin menulis begitu.
Aku membuka halaman kosong dan menunjukkan daftar pertanyaan yang sudah kutulis. Beberapa tentang masa sekolah, beberapa tentang hal-hal yang ia lakukan di rumah. Ibu Dimas memilih pertanyaan yang terasa nyaman dijawab. Untuk yang lain, ia menggeleng. Aku mencoret satu per satu tanpa meminta alasan.
"Kalau aku cerita, jangan anggap semua yang kuingat pasti sama dengan ingatan orang lain," katanya. "Aku ibunya, tapi bukan berarti aku tahu seluruh hidupnya."
Aku menulis kalimat itu di catatan pribadi dan membacanya kembali. Beliau memintaku tidak memasukkannya ke tulisan dulu. Aku mencoret tanda bintang di sampingnya. Kami kemudian menyusun urutan kebiasaan Dimas: pulang kerja, mencuci tangan, makan, duduk sebentar. Tidak ada kejadian besar. Justru rutinitas itu membuatku sadar betapa banyak kehidupan seseorang terbentuk dari hal-hal yang tak pernah dicatat.
Sebelum aku pergi, beliau memintaku menyebut apa yang ingin kulakukan dengan draf itu. Aku menjawab aku belum punya rencana terbit. Untuk sekarang, aku ingin menepati permintaannya untuk menulis, tetapi tetap meminta izin pada orang yang mungkin terluka oleh hasilnya. Ia mengangguk, lalu berkata ia akan membaca pelan-pelan jika sudah siap.
Sebelum aku menutup kunjungan, ibu Dimas bertanya apakah aku mau membaca satu bagian yang pernah ia tulis untuk dirinya sendiri. Aku menjawab hanya jika beliau yakin. Ia mengeluarkan buku catatan lama, tetapi membukanya sendiri dan membaca satu baris tentang Dimas yang lupa membawa payung. Ia tidak menyerahkan buku itu kepadaku. Aku tidak meminta melihat. Baris itu membuatnya tersenyum, lalu ia menutup buku dan menyimpannya kembali. Kami sepakat bahwa hal yang dibacakan tetap bisa tinggal di ruang itu, tanpa harus masuk naskah.
Aku bertanya apakah beliau ingin aku mengembalikan salinan catatan setelah selesai. Ia berkata simpan saja sampai draf berikutnya dibaca, lalu kita putuskan lagi.
Beliau mengangguk, lalu menyimpan buku itu kembali ke lemari.
Ia berkata aku boleh menuliskan bagian itu, selama drafnya tetap dibaca lebih dahulu.
Aku mengucapkan terima kasih dan menutup buku.
Aku berjanji tidak mengirimkannya ke siapa pun.