Keesokan harinya, aku menemui Pak Ujang sebelum warung ramai. Aku bertanya apakah ada kenangan tentang Dimas yang ingin ia bagikan. Pak Ujang mengusap kumisnya dan berkata ia perlu berpikir. Aku tidak membujuk. Ia menyeduh kopi, menaruh dua gelas di meja, lalu duduk di seberangku.
"Kalau ditulis, jangan dibuat seolah aku selalu baik," katanya.
"Aku nggak akan."
"Kadang saya juga marah karena dia telat bayar. Pernah saya tegur. Dia diam, lalu besoknya bayar dua kali. Saya menyesal sempat mengira dia sengaja menghindar."
Aku mencatat kalimat itu hanya setelah meminta izin. Pak Ujang berkata ia tidak keberatan jika bagian tersebut dipakai, tapi ia ingin membaca konteksnya nanti. Ia tidak ingin pembaca menganggap satu teguran menyebabkan apa pun. Aku setuju. Tak ada satu percakapan yang bisa menjelaskan seluruh hidup seseorang atau memastikan hasil yang tak pernah terjadi.
Pak Ujang bercerita bahwa Dimas sering membantu mengangkat galon dan kursi. Ia juga suka menggoda pelanggan yang menambah gula terlalu banyak. Pernah ia mencoret-coret kertas bungkus dengan gambar warung, lalu berkata suatu hari ia akan membuat papan nama yang lebih bagus untuk Pak Ujang. Papan itu tidak pernah dibuat. Pak Ujang tidak mengatakannya sebagai kegagalan. Ia tertawa bahwa Dimas selalu punya rencana lebih banyak daripada waktunya.
Aku menulis sambil mendengarkan, tetapi tidak mengubah cerita menjadi daftar kebaikan. Pak Ujang meminta aku menuliskan bahwa Dimas pernah kesal ketika kalah bermain kartu dan menuduhnya mengocok kartu dengan curang. Mereka bertengkar sepuluh menit, lalu berdamai saat pesanan kopi datang. Detail itu membuatnya lebih terasa nyata.
Saat warung mulai ramai, aku menutup buku. Pak Ujang menyebut bahwa ia harus melayani pelanggan dan tak ingin pembicaraan ini berlanjut di depan orang lain. Aku menyimpan catatan dan membantu mengangkat kursi ke sisi warung. Tak seorang pun pelanggan bertanya mengapa aku membawa buku.
Sore harinya, aku mulai menyusun urutan kenangan: sekolah, kerja kurir, warung, jalan pulang. Aku berusaha tidak membuat setiap fase menuju satu titik akhir. Dimas punya hidup sebelum utang dan kesedihan, juga hari-hari biasa yang tak perlu menjadi simbol.
Aku membaca satu paragraf kepada ibu. Ia berkata bagian tentang sekolah perlu diperiksa karena kami dulu tidak satu kelas pada tahun terakhir. Aku menghapus detail yang tak kuingat. Ia juga berkata Dimas pernah ingin belajar memperbaiki kamera, bukan menjadi fotografer. Aku mengubahnya. Kamera analog rusak yang diwariskan kepadaku tidak membuktikan cita-cita besar; mungkin ia hanya benda yang ingin Dimas benahi.
Malam itu Nara menelepon. Ia bertanya apa yang sedang kutulis. Aku menjelaskan bahwa aku meminta izin ibu Dimas dan hanya mencatat kenangan yang boleh diceritakan.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya.
"Seperti berjalan di rumah orang lain sambil hati-hati melihat lantai."
"Bagus kamu sadar itu rumah orang lain juga."
Aku bertanya tentang kabar Jakarta. Ia menjawab dokumen masih belum lengkap, tetapi ayahnya tidak lagi memaksanya menentukan tanggal setiap hari. Ia belum tahu apakah pihak rekan bisnis akan menunggu. Aku tak bertanya siapa mereka atau kapan pertemuan. Ia mengatakan ingin istirahat malam ini.
Kami berbicara sebentar tentang pekerjaanku. Aku mengirim foto cat yang menempel di lenganku. Nara tertawa dan menyuruhku tidak menyentuh ponsel sebelum mencuci tangan. Setelah itu, ia pamit karena akan membantu omnya mengurutkan map besok.
Aku kembali pada paragraf Dimas. Aku menghapus kalimat yang membandingkan hidupnya dengan hidupku, karena aku tak tahu apakah ia akan setuju dengan perbandingan itu. Aku menuliskan apa yang kulihat: ia datang ke warung, memesan kopi hitam, lalu meminta gula ketika Pak Ujang tak melihat. Kalimat itu kecil dan mungkin tidak berarti banyak. Namun ia membuat Dimas hadir sebagai manusia, bukan kesimpulan.
Aku menunjukkan pada Pak Ujang paragraf yang sudah kuhapus kata "selalu". Ia membaca dalam diam, lalu berkata satu adegan di warung terasa lebih benar daripada seluruh penjelasanku tentang persahabatan. Ia mengingat Dimas pernah menumpahkan kopi karena tertawa terlalu keras saat aku bercerita tentang papan toko yang salah eja. Aku tidak ingat persis harinya, tetapi ingat lantai warung basah dan Pak Ujang menyuruh kami mengepel.
"Kalau kamu nggak ingat detailnya, jangan tulis seolah pasti," kata Pak Ujang. "Bisa bilang kamu ingat kejadian, tapi lupa hari."
Aku mengganti tanggal dengan kata "suatu sore". Ia juga mengoreksi bahwa Dimas memesan kopi tanpa gula tetapi selalu meminta sedikit setelah mencicipi. Aku mengubah adegannya. Tulisan menjadi lebih hidup bukan karena dramanya bertambah, melainkan karena kami tidak berpura-pura memiliki ingatan yang sempurna.
Pak Ujang meminta aku menyimpan draf di tas saat pelanggan mulai datang. Ia tidak ingin orang lain membaca tanpa izin. Aku memasukkan lembaran itu ke map dan membantu menata gelas. Ketika warung kembali sepi, ia bertanya apakah aku akan memberi naskah kepada ibunya Dimas. Aku menjawab iya sebelum berpikir membagikannya kepada siapa pun.
Sore itu aku kembali ke rumah Dimas untuk mengantarkan salinan catatan. Aku tidak membawa draf lengkap karena ibu Dimas belum memintanya. Kami minum teh dan membicarakan kebiasaan Dimas menyimpan koin di wadah bekas selai. Beliau berkata uang itu sering dipakai untuk membayar bensin, lalu diisi lagi kapan pun ia punya uang receh. Aku bertanya apakah kenangan itu boleh masuk tulisan. Beliau mengangguk, tetapi meminta aku tidak menyebut berapa jumlahnya. Detail kecil bisa menjadi milik keluarga, bukan milik pembaca.
Pak Ujang menutup warung lebih awal malam itu. Aku membantu mengangkat kursi dan pulang tanpa membawa cerita yang belum diizinkan.
Aku mencuci cangkir sebelum berpamitan dan memastikan pintu tertutup.
Aku menaruh pena di atas meja dan membiarkan pikiranku beristirahat.
Aku mengunci pagar sebelum menyalakan motor.
Pak Ujang memintaku menunggu sejenak.
Ia menyimpan foto itu kembali ke dalam kotak tanpa buru-buru menutupnya.
Aku memasukkannya kembali ke amplop untuk diperiksa bersama draf.
pelan-pelan.