Beberapa hari kemudian, aku membawa draf awal ke rumah ibu Dimas. Aku sudah menyamarkan nama warung pada satu bagian dan menyisakan nama Dimas hanya karena beliau telah setuju ia boleh muncul dalam kenangan. Aku tidak menyalin surat, tidak menjelaskan hari terakhir, dan tidak membuat utang menjadi alasan tunggal atas seluruh hidupnya.
"Aku belum selesai," kataku. "Ibu boleh berhenti membaca kapan saja. Kalau ada bagian yang tidak nyaman, aku hapus."
Ibu Dimas menerima lembar itu. Pak Ujang duduk di kursi dekat jendela setelah beliau meminta ia ikut membaca. Aku membacakan halaman pertama dengan suara pelan. Ceritanya tentang Dimas datang ke warung, membayar kopi yang sudah dimaafkan, lalu menuduh Pak Ujang menakar gula terlalu pelit.
Pak Ujang tertawa. "Saya tidak pelit. Gula mahal."
Ibu Dimas tersenyum, lalu berhenti pada bagian yang kutulis bahwa Dimas selalu tertawa. Ia mengatakan itu tidak tepat. Dimas memang banyak bercanda, tetapi di rumah ia juga mudah kesal kalau lauknya dingin. Aku mencoret kata "selalu" dan menggantinya dengan satu adegan ketika ia meletakkan sendok terlalu keras, lalu mengambilkan ibu air minum tanpa diminta.
"Jangan bikin dia hanya jadi orang yang membuat semua orang senang," katanya. "Dia juga punya hari yang buruk."
Aku mengangguk. Halaman berikutnya menceritakan pekerjaan kurirnya. Ibu Dimas meminta aku menghapus kalimat bahwa ia tak pernah mengeluh. Ia pernah mengeluh soal panas, macet, dan paket yang alamatnya tak jelas. Aku tertawa mengingatnya. Ia juga meminta agar aku tidak menyebut jumlah utang atau cara penagihan. Aku mencoret bagian yang menyebut tekanan itu secara umum. Nanti, kalau memang perlu ditulis, ia ingin memeriksa kembali.
Pak Ujang membaca paragraf tentang percakapan kami di warung. Ia berkata tanggalnya bukan hari Jumat seperti yang kutulis, tetapi ia juga tidak yakin hari apa. Kami menghapus tanggalnya. Aku tak perlu membuat detail tampak pasti agar cerita terasa rapi.
"Bagaimana kalau orang bertanya kenapa dia meninggal?" tanyaku.
Ibu Dimas memandangku. "Kamu boleh bilang kamu tidak tahu semua yang ada dalam pikirannya. Jangan jadikan aku harus menjawab untuk dia."
Aku menulis kalimat itu di margin, lalu menutup pena. Beliau tidak ingin diwawancarai atau menjelaskan lebih banyak. Aku menerima itu.
Kami beristirahat dan minum teh. Ibu Dimas bercerita tentang rencana jualan kecilnya. Ia sudah menghubungi pemasok dan memesan sedikit bahan untuk percobaan akhir pekan. Ia ingin Pak Ujang menaruh beberapa bungkus di warung, tetapi belum mau memasang papan. Pak Ujang berkata akan mengikuti jumlah yang ia pilih. Aku bertanya apakah beliau ingin aku menulis keberhasilan usaha itu nanti. Ia berkata jangan menulis apa pun sampai ia tahu apakah ia suka melakukannya.
Aku menyimpan lembar draf dan menulis catatan perubahan di halaman belakang. Tak ada yang menyuruhku menyelesaikan buku. Tidak ada yang menjanjikan akan menerbitkannya. Aku hanya mendapat kesempatan belajar bahwa menulis tentang orang lain bukan berarti bebas memakai semua yang diketahui.
Dalam perjalanan pulang, aku berhenti di rumah. Ayah sedang membantu ibu menjemur pakaian setelah hujan. Aku melihat adegan itu dan ingin langsung menulis, tetapi aku belum bertanya apakah mereka nyaman. Aku bertanya. Ibu berkata ia tak keberatan sebagai catatan pribadi, tetapi belum untuk dibagikan. Ayah mengangguk. Aku menulisnya dengan tanda "jangan dibagikan". Batas itu mudah dilupakan jika tidak dicatat.
Malamnya Nara mengirim pesan bahwa ayahnya belum menyetujui pertemuan, tetapi juga belum mengirim tanggal. Ia berkata ingin menghabiskan akhir pekan tanpa berdebat. Aku membalas bahwa ia boleh beristirahat. Ia mengirim pesan bahwa ia juga perlu bicara dengan omnya tentang berkas. Aku tak meminta rincian.
Aku meninjau ulang draf dengan catatan ibu Dimas. Kata "pahlawan" kucoret sebelum sempat kutulis. Dimas tidak perlu menjadi pahlawan agar aku merasa berhak merindukannya. Ia cukup menjadi sahabat yang pernah duduk di sebelahku, menertawakan kopi, dan lupa membayar sesuatu. Aku menutup draf setelah halaman itu selesai.
Aku membawa pena merah agar mudah menandai koreksi. Ibu Dimas menghentikanku pada kalimat yang menyebut Dimas "menyembunyikan semuanya". Ia berkata mungkin ia tidak tahu cara bercerita, mungkin ia lelah, mungkin ada banyak alasan. Aku tidak bisa menuliskan seolah tahu mana yang benar.
"Bagaimana kalau aku bilang aku tidak mendengar ceritanya?" tanyaku.
"Itu benar. Tulis yang kamu tahu."
Pak Ujang menambahkan bahwa Dimas pernah bercerita soal motor rusak dan kerja yang melelahkan, jadi ia tidak benar-benar menutup semua hal. Aku mengubah kalimat menjadi lebih terbatas: ada hal-hal yang tidak sempat Dimas ceritakan kepadaku. Ibu Dimas mengangguk. Perubahan kecil itu menghindari kesimpulan besar.
Mereka juga meminta aku tidak menggunakan ungkapan bahwa Dimas kalah atau menyerah. Kata-kata itu terdengar seolah satu peristiwa merangkum seluruh hidupnya. Aku mencoret judul sementara yang memakai kata "kalah". Kami memilih untuk belum memberi judul sama sekali.
Setelah membaca, ibu Dimas meminta satu salinan draf dikirim hanya kepadanya dan Pak Ujang. Aku setuju, tetapi memastikan Pak Ujang juga bersedia. Ia mengangguk. Aku tidak mengirim apa pun malam itu; aku akan memperbaiki dulu sesuai catatan mereka.
Saat membaca ulang bagian yang sudah direvisi, ibu Dimas bertanya apakah aku menulis untuk dikenal sebagai orang yang setia pada sahabat. Aku menjawab tidak tahu, mungkin ada bagian diriku yang ingin merasa sudah melakukan sesuatu setelah terlambat memahami. Ia berkata ia tidak bisa menilai niatku, tetapi ia ingin draf itu tidak mengubah kenangan menjadi bukti bahwa aku harus menyalahkan diri.
Aku mendengar tanpa membantah. Aku mencoret satu paragraf yang menggambarkan aku sebagai satu-satunya orang yang memahami Dimas. Itu tidak benar. Pak Ujang, ibunya, dan orang lain punya ingatan mereka sendiri. Aku tidak perlu menempatkan diriku di tengah cerita hanya karena aku yang menulisnya.
Aku menghapusnya dari draf dan menyimpan halaman koreksi.
Tak ada lagi yang kutambahkan malam itu.
Ibu Dimas menerima koreksi itu.